Tradisi Pemaka di Flores Barat, Acara Penyambutan untuk Tamu Khusus - Kompas.com

Tradisi Pemaka di Flores Barat, Acara Penyambutan untuk Tamu Khusus

Kompas.com - 24/01/2019, 13:06 WIB
Tua adat di Kampung Noa, Desa Golondoal, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT, September 2018 lalu sedang menghunus keris adatnya ke langit sebagai tanda penyambutan Uskup Denpasar merangkap Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng.KOMPAS.com / MARKUS MAKUR Tua adat di Kampung Noa, Desa Golondoal, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT, September 2018 lalu sedang menghunus keris adatnya ke langit sebagai tanda penyambutan Uskup Denpasar merangkap Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng.


LABUAN BAJO, KOMPAS.com — Warisan leluhur orang Manggarai Barat, Flores Barat, Nusa Tenggara Timur yang terus dipertahankan dan dilestarikan hingga saat ini. Tradisi Pemaka adalah salah satu cara tua-tua adat di seluruh Kabupaten Manggarai Barat dalam menyambut tamu yang berkunjung di kampung-kampung.

Tradisi ini tidak dapat dijumpai di wilayah lain di Manggarai Raya. Hanya ada di kawasan Manggarai Barat.

Tak semua tamu disambut dengan Tradisi Pemaka. Hanya tamu-tamu khusus, seperti kunjungan gubernur, bupati, uskup, imam yang baru ditahbiskan dan para petinggi bangsa yang disambut dengan tradisi Pemaka.

Tradisi ini di waktu lampu merupakan acara penyambutan Raja dan Dalu yang mengunjungi kampung-kampung di seluruh Manggarai Barat. Kini, menyandang Raja dan Dalu saat ini sudah tidak ada di wilayah Manggarai Barat.

Sistem kerajaan di Manggarai Barat dan Manggarai pada umumnya sudah tidak berlaku lagi. Namun, warisan leluhur ini masih terus terjaga dengan baik di kampung-kampung.

Para penari caci atau Sasi sedang mempersiapkan diri untuk mementaskan tarian Cac atau Sasi untuk ungkapan syukur atas peresmian dan pemberkatan Gereja Katolik Santo Mikael Noa di Kampung Noa, Desa Golondoal, Kec. Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT. KOMPAS.com / MARKUS MAKUR Para penari caci atau Sasi sedang mempersiapkan diri untuk mementaskan tarian Cac atau Sasi untuk ungkapan syukur atas peresmian dan pemberkatan Gereja Katolik Santo Mikael Noa di Kampung Noa, Desa Golondoal, Kec. Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT.

Tua-tua adat tertentu saja yang bisa membawakan tradisi saat menyambut tamu khususnya. Tidak semua orang bisa membawakan tradisi ini.

Tradisi Pemaka dibawakan oleh tua-tua adat di Kampung Noa, Desa Golo Ndoal, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat saat peresmian dan pemberkatan Gereja Katolik Paroki Santo Mikael Noa.

Saat peresmian dan pemberkatan Gereja Katolik, Tradisi Pemaka dibawakan oleh tua adat Kampung Noa yakni Thomas Pura . Pamaka saat itu dilakukan untuk menjemput Administrator Apostolik sekaligus Uskup Denpasar, Mgr. Silvester San dan Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula bersama rombongannya.

Sore 28 September 2018 itu, Thomas Pura sudah menunggu di pintu gerbang Gereja Katolik Santo Mikael Noa dengan sebuah keris di pinggangnya. Keris adat itu hanya diperlihatkan untuk umum saat penyambutan uskup dan bupati beserta rombongannya.

Tradisi Pemaka dengan sebilah keris adat merupakan puncak dari ritual penyambutan secara adat sesuai dengan warisan leluhur dari masyarakat setempat.

Petarung Caci atau Sasi di Kampung Noa, Desa Golondoal, Kecamatan Mbeliling, Kab. Manggarai Barat, Flores, NTT, September 2018 lalu sedang mementaskan tarian caci atau Sasi untuk ungkapan syukur atas peresmian dan pemberkatan Gereja Katolik Santo Mikael Noa. KOMPAS.com / MARKUS MAKUR Petarung Caci atau Sasi di Kampung Noa, Desa Golondoal, Kecamatan Mbeliling, Kab. Manggarai Barat, Flores, NTT, September 2018 lalu sedang mementaskan tarian caci atau Sasi untuk ungkapan syukur atas peresmian dan pemberkatan Gereja Katolik Santo Mikael Noa.

Sebelum disambut dengan Tradisi Pemaka, terlebih dahulu uskup dan bupati disambut dengan kepok Kapu (Petuah adat) dengan seekor ayam jantan berwarna putih.

Ketua Panitia Peresmian dan Pemberkatan Gedung Gereja Paroki Santo, Mikael Noa mengatakan kegiatan apapun di Manggarai Barat selalu didahului oleh ritual adat.

Adat istiadat tidak bisa terpisahkan dengan kehidupan masyarakat lokal. Ritual adat merupakan warisan leluhur orang Manggarai Barat yang terus dilaksanakan dan dipertahankan.

“Saat peresmian dan pemberkatan gedung gereja Paroki Santo Mikael Noa terlebih dahulu dilaksanakan berbagai ritual adat. Diantaranya, Sambe atau Camber kerbau, seekor kerbau untuk disembelih, surup adat, Caci atau Sasi, Sasa selek dengan ayam dan tuak atau moke lokal," kata Noa.

"Selain itu dilaksanakan atraksi budaya khas Manggarai Barat, seperti tarian Congka atau Songka Sae selama satu minggu. Semua rangkaian ini didahului dengan ritual adat untuk memohon berkat Tuhan, alam dan leluhur,” jelasnya.


penabuh gendang dan gong sedang menabuh alat tradisional itu untuk memberikan semangat kepada para petarung caci atau sasi untuk ungkapan syukur atas peresmian dan Pemberkatan Gereja Santo Mikael Noa, Manggarai Barat, Flores, NTT. KOMPAS.com / MARKUS MAKUR penabuh gendang dan gong sedang menabuh alat tradisional itu untuk memberikan semangat kepada para petarung caci atau sasi untuk ungkapan syukur atas peresmian dan Pemberkatan Gereja Santo Mikael Noa, Manggarai Barat, Flores, NTT.

Pastor Paroki Santo Mikael Noa, Romo Martinus Tolen kepada KOMPAS.com, September 2018 lalu menjelaskan, peresmian dan pemberkatan gedung Gereja Katolik Santo Mikael Noa dilaksanakan oleh Administrator Apostolik sekaligus Uskup Denpasar, Mgr. Silvester San dan dihadiri oleh Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dulla bersama dengan pejabat Pemda Kabupaten Manggarai Barat.

Sebelum pemberkatan dan peresmian gedung Gereja Katolik Santo Mikael Noa, lanjut, Tolen, terlebih dahulu dilaksanakan berbagai ritual adat yang sesuai dengan adat istiadat setempat.

Berbagai ritual adat dilakukan oleh tua-tua adat di kawasan Kempo. Ritual adat itu juga melibatkan warga muslim yang memiliki adat istiadat yang sama.

Berbagai ritual adat dilaksanakan bersama dengan tua adat muslim di kawasan Kempo karena antara umat Katolik dan Muslim memiliki satu keturunan. Acara ritual adat juga melibatkan Majelis Ulama Indonesia Kecamatan Mbeliling.

Begitupun sebaliknya, jika ada kegiatan keagamaan umat muslim melibatkan umat Katolik dalam ritual adat dan kegiatan-kegiatan lainnya. Ini merupakan warisan budaya untuk persaudaraan dan kekeluargaan.

“Saya sebagai Pastor Paroki, Kepala Gereja Santo Mikael Noa selalu melibatkan tua-tua adat setempat untuk melaksanakan ritual adat yang sesuai dengan kegiatan-kegiatan keagamaan Gereja Katolik. Ada ritual adat Osong Ronda, nyanyian untuk menjemput tamu khusus, pementasan tarian Caci atau Sasi khas Manggarai Barat. Ini bagian dari keterlibatan Gereja Katolik untuk mempromosikan pariwisata budaya di Manggarai Barat,” jelasnya.

Seorang tokoh muslim Kampung Noa, Desa Golondoal, Kecamatan Mbeliling, Kab. Manggarai Barat, Flores, NTT, September 2018 lalu sedang mendampingi Uskup Denpasar merangkap Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng, Mgr. Silvester San. KOMPAS.com / MARKUS MAKUR Seorang tokoh muslim Kampung Noa, Desa Golondoal, Kecamatan Mbeliling, Kab. Manggarai Barat, Flores, NTT, September 2018 lalu sedang mendampingi Uskup Denpasar merangkap Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng, Mgr. Silvester San.

Tolen menjelaskan, Kawasan Kecamatan Mbeliling sudah terkenal di mata internasional dengan kekhasan budaya serta air terjun Cunca Wulang, kuliner-kuliner khas orang Kempo serta berbagai atraksi budaya.

Banyak wisatawan mancanegara dan Nusantara mengunjungi perkampungan adat di Kecamatan Mbeliling. Untuk itu Gereja Katolik terlibat untuk mempromosikan pariwisata di Manggarai Barat.

Tolen menjelaskan, geliat pariwisata di Manggarai Barat terus berkembang dengan kunjungan wisatawan asing dan Nusantara di berbagai obyek wisata. Untuk wisatawan disambut dengan ritual-ritual adat dan atraksi budaya.

Gereja Katolik juga terlibat dalam mempromosikan kekhasan budaya lokal setempat untuk diketahui oleh wisatawan dengan keramahtamahannya.




Close Ads X