Tradisi Pemaka di Flores Barat, Acara Penyambutan untuk Tamu Khusus

Kompas.com - 24/01/2019, 13:06 WIB
penabuh gendang dan gong sedang menabuh alat tradisional itu untuk memberikan semangat kepada para petarung caci atau sasi untuk ungkapan syukur atas peresmian dan Pemberkatan Gereja Santo Mikael Noa, Manggarai Barat, Flores, NTT. KOMPAS.com / MARKUS MAKURpenabuh gendang dan gong sedang menabuh alat tradisional itu untuk memberikan semangat kepada para petarung caci atau sasi untuk ungkapan syukur atas peresmian dan Pemberkatan Gereja Santo Mikael Noa, Manggarai Barat, Flores, NTT.

Sebelum disambut dengan Tradisi Pemaka, terlebih dahulu uskup dan bupati disambut dengan kepok Kapu (Petuah adat) dengan seekor ayam jantan berwarna putih.

Ketua Panitia Peresmian dan Pemberkatan Gedung Gereja Paroki Santo, Mikael Noa mengatakan kegiatan apapun di Manggarai Barat selalu didahului oleh ritual adat.

Adat istiadat tidak bisa terpisahkan dengan kehidupan masyarakat lokal. Ritual adat merupakan warisan leluhur orang Manggarai Barat yang terus dilaksanakan dan dipertahankan.

“Saat peresmian dan pemberkatan gedung gereja Paroki Santo Mikael Noa terlebih dahulu dilaksanakan berbagai ritual adat. Diantaranya, Sambe atau Camber kerbau, seekor kerbau untuk disembelih, surup adat, Caci atau Sasi, Sasa selek dengan ayam dan tuak atau moke lokal," kata Noa.

"Selain itu dilaksanakan atraksi budaya khas Manggarai Barat, seperti tarian Congka atau Songka Sae selama satu minggu. Semua rangkaian ini didahului dengan ritual adat untuk memohon berkat Tuhan, alam dan leluhur,” jelasnya.

Pastor Paroki Santo Mikael Noa, Romo Martinus Tolen kepada KOMPAS.com, September 2018 lalu menjelaskan, peresmian dan pemberkatan gedung Gereja Katolik Santo Mikael Noa dilaksanakan oleh Administrator Apostolik sekaligus Uskup Denpasar, Mgr. Silvester San dan dihadiri oleh Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dulla bersama dengan pejabat Pemda Kabupaten Manggarai Barat.

Sebelum pemberkatan dan peresmian gedung Gereja Katolik Santo Mikael Noa, lanjut, Tolen, terlebih dahulu dilaksanakan berbagai ritual adat yang sesuai dengan adat istiadat setempat.

Berbagai ritual adat dilakukan oleh tua-tua adat di kawasan Kempo. Ritual adat itu juga melibatkan warga muslim yang memiliki adat istiadat yang sama.

Berbagai ritual adat dilaksanakan bersama dengan tua adat muslim di kawasan Kempo karena antara umat Katolik dan Muslim memiliki satu keturunan. Acara ritual adat juga melibatkan Majelis Ulama Indonesia Kecamatan Mbeliling.

Begitupun sebaliknya, jika ada kegiatan keagamaan umat muslim melibatkan umat Katolik dalam ritual adat dan kegiatan-kegiatan lainnya. Ini merupakan warisan budaya untuk persaudaraan dan kekeluargaan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X