Kompas.com - 24/01/2019, 15:12 WIB
Para penari caci atau Sasi sedang mempersiapkan diri untuk mementaskan tarian Cac atau Sasi untuk ungkapan syukur atas peresmian dan pemberkatan Gereja Katolik Santo Mikael Noa di Kampung Noa, Desa Golondoal, Kec. Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT. KOMPAS.com / MARKUS MAKURPara penari caci atau Sasi sedang mempersiapkan diri untuk mementaskan tarian Cac atau Sasi untuk ungkapan syukur atas peresmian dan pemberkatan Gereja Katolik Santo Mikael Noa di Kampung Noa, Desa Golondoal, Kec. Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT.

KOMPAS.com - Setiap daerah di Indonesia, punya tradisi tertentu dalam menyambut tamu. Ada yang berbentuk tarian hingga ritual adat yang kompleks.

Keragaman budaya tersebut tentu menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan. Selain menikmati pesona alam suatu daerah, budaya memang jadi sebuah hal yang unik untuk dilihat.

Salah satu yang terdekat misalnya di Betawi. Ada Tradisi Palang Pintu yang biasa dilakukan untuk menyambut tamu-tamu seperti di acara pernikahan.

Tak hanya itu, beragam acara penyambutan tamu juga biasa dilakukan tak terkecuali untuk turis. Daerah yang punya acara penyambutan lainnya seperti di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Beberapa waktu lalu, Tradisi Pemaka dilakukan saat peresmian dan pemberkatan Gereja Katolik Paroki Santo Mikael Noa. Berikut rangkaian penyambutan secara adat dalam budaya orang Manggarai Barat yakni Tradisi Pemaka.

1. Tradisi Kepok Kapu

penabuh gendang dan gong sedang menabuh alat tradisional itu untuk memberikan semangat kepada para petarung caci atau sasi untuk ungkapan syukur atas peresmian dan Pemberkatan Gereja Santo Mikael Noa, Manggarai Barat, Flores, NTT. KOMPAS.com / MARKUS MAKUR penabuh gendang dan gong sedang menabuh alat tradisional itu untuk memberikan semangat kepada para petarung caci atau sasi untuk ungkapan syukur atas peresmian dan Pemberkatan Gereja Santo Mikael Noa, Manggarai Barat, Flores, NTT.
Tradisi ini dilakukan sebagai penyambutan awal bagi tamu yang mengunjungi kampung-kampung ketika ada upacara keagamaan, upacara kenegaraan maupun ritual adat yang dihadiri oleh pemimpin lokal, baik dari lembaga keagamaan maupun pemerintah.

Ayam jantan berwarna putih sebagai lambang untuk ketulusan dari masyarakat menyambut tamu tersebut. Saat itu ayam di pegang sambil menuturkan bahasa lokal setempat sebagai tanda penyambutan secara adat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain ayam jantan warna putih, ada juga tuak atau moke lokal yang ditaruh dalam sebuah wadah yang disebut tawu. Rangkaian kepok kapu selesai dilakukan dengan bagian berikutnya.

2. Penyambutan Kain Selendang Songke

Seorang perempuan Kampung Noa, Desa Golondoal, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT, September 2018 lalu mengalunkan kain selendang songke kepada Uskup Denpasar merangkap Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng, Mgr. Silvester San bersama rombongannya. (KOMPAS.com/Markus Makur)KOMPAS.com/Markus Makur Seorang perempuan Kampung Noa, Desa Golondoal, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT, September 2018 lalu mengalunkan kain selendang songke kepada Uskup Denpasar merangkap Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng, Mgr. Silvester San bersama rombongannya. (KOMPAS.com/Markus Makur)
Ada juga acara penyambutan dengan kain Selendang Songke, Manggarai Barat. Perempuan di Manggarai Barat dipercayakan untuk membawa tradisi penyambutan dengan kain selendang songke.

Kain tenun selendang itu dikalungkan kepada tamu-tamu yang hadir. Kain tenun biasanya dikalungkan ke tamu-tamu khusus yang hadir.

3. Tradisi Pemaka

Tua adat di Kampung Noa, Desa Golondoal, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT, September 2018 lalu sedang menghunus keris adatnya ke langit sebagai tanda penyambutan Uskup Denpasar merangkap Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng. (KOMPAS.com/Markus Makur)KOMPAS.com/Markus Makur Tua adat di Kampung Noa, Desa Golondoal, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT, September 2018 lalu sedang menghunus keris adatnya ke langit sebagai tanda penyambutan Uskup Denpasar merangkap Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng. (KOMPAS.com/Markus Makur)
Tetua adat Kampung Noa lalu mengeluarkan sebilah keris adat yang berada di pinggangnya. Keris adatnya di tancapkan ke tanah dan lalu ditunjukan ke langit.

Selanjutnya, keris adat diarahkan kepada tamu yang disambut itu. Berkali-kali menghentakkan kaki maju mundur sebagai tanda penghormatan kepada tamu yang datang mengunjungi tempat itu.

Tradisi Pemaka yang untuk menyambut tamu sebagai tanda kehormatan dari masyarakat adat setempat.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.