Kompas.com - 02/02/2019, 09:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Imlek tinggal sebentar lagi. Perayaan Tahun Baru China ini senantiasa identik dengan ucapan “gong xi fat choi” serta pembagian angpao.

Sebelum memperoleh angpao, sanak saudara yang belum menikah akan menghampiri saudara yang telah menikah, memberikan ucapan sejenis “gong xi fat choi”. Kedua tangan seperti mengepal di depan dada. Dalam tradisi China, hal ini dikenal dengan sebutan "pai".

”Pai” juga dikenal dengan nama “soja”. Rupanya, ritual ini mengandung filosofi tradisional China, yang sedikit banyak dipengaruhi filosofi Konghucu. Tangan yang mengepal di depan dada memiliki makna tersendiri.

Pai tidak dilakukan ketika Imlek semata. Ia dilakukan kapan pun seorang Tionghoa hendak melakukan penghormatan, bisa sembari membungkuk atau berlutut, dapat dilakukan ketika berpapasan hingga bersembahyang.

Secara tradisi, posisi tangan yang tepat ketika melakukan pai ialah mengepalkan tangan kanan di depan dada, lalu dibungkus dengan telapak tangan kiri.

Bukan bermaksud seksi, namun hal ini merupakan perwujudan filosofi China. Kaum pria (tangan kiri) dianggap berperan melindungi kaum wanita (tangan kanan). Filosofi ini juga terwujud dalam posisi patung singa di muka kelenteng, rumah ibadah umat Konghucu.

“Di sisi kiri kelenteng ialah sosok singa jantan yang menggenggam bola dunia, sedangkan di sisi kanan adalah figur sang betina yang menaungi anaknya,” ujar seorang pemandu di Museum Benteng Heritage yang tidak mau disebutkan namanya kepada KompasTravel, Selasa (29/1/2019).

Sementara itu, posisi ibu jari semestinya diacungkan, dengan posisi ibu jari kanan sedikit lebih rendah. Dengan begitu, keduanya akan membentuk huruf kanji “ren”, yang berarti orang. Di samping itu, “ren” juga bisa bermakna “kasih” sekaligus "kemanusiaan".

Tak hanya itu, empat jemari kanan dan empat jemari kiri yang saling bersentuhan mewakili masing-masing empat nilai bagi pria dan wanita.

Xiao, ti, zhong, xin. Berbakti, rendah hati, setia, dan dapat dipercaya, itu pegangan untuk laki-laki,” ujar Oey Tjin Eng (75), seorang mantan pengurus bidang humas Kelenteng Boen Tek Bio, Tangerang, kepada KompasTravel di hari yang sama.

Tjin Eng yang kini aktif di Kelenteng Khongcu Bio turut menyebutkan empat nilai lainnya yang harus dipegang kaum wanita, “Li, yi, shu, zi. Mengerti susila, adil, suci atau memaafkan, tahu malu.”

Dalam tradisinya, posisi pai pun berbeda-beda tergantung status. Jika posisi lawan bicara lebih rendah, maka pai di bawah dada; jika sederajat, maka pai setara dada; jika lebih tua, maka pai di atas dada atau di depan wajah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.