Kompas.com - 13/02/2019, 09:10 WIB

Kontur telapak kaki sejenis pernah saya temui pula di Pegunungan Arfak, Papua Barat, yang sejumlah penduduknya masih gemar berjalan telanjang kaki. Idem dengan Herman yang senja itu pun menjejak peron stasiun yang becek akibat hujan dengan kaki telanjang.

"Ke mana-mana, kami tetap begini, ikut kebiasaan adat," tutur Herman yang sehari-hari mengerjakan ladang padi di kampungnya.

Dalam perbincangan kami yang tak begitu lama, Herman mengaku tahu soal keberadaan penjual madu di Jakarta yang menyamar sebagai orang Kanekes. Namun, satu hal yang cukup sukar ditiru ialah gelang yang melingkar di pergelangan tangannya.

Masih tetap bersuara pelan, ia berujar, "Beda sama ikat kepala, kalau gelang ini tak dijual ke orang asing. Ini turun-temurun dari orang tua."

Kami berdua turun di Stasiun Sudirman. Kali ini langkah Herman cukup gesit, usai pamit dengan malu-malu. Seperti kebanyakan orang Kanekes di kampungnya yang bersembunyi ketika dihampiri orang asing, mungkin begitu pula Herman.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.