Mengenal Uniknya Rumah Adat Using di Desa Kemiren Banyuwangi

Kompas.com - 18/02/2019, 07:23 WIB
Pengunjung yang melintas di depan rumah adat Using di Sukosari Desa Kemiren Banyuwangi, Jawa Timur. KOMPAS.com/IRA RACHMAWATIPengunjung yang melintas di depan rumah adat Using di Sukosari Desa Kemiren Banyuwangi, Jawa Timur.

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Suku Using memiliki rumah adat khas yang tersebar di beberapa desa di wilayah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Salah satunya di Desa Kemiren. Di desa adat tersebut, masih banyak dijumpai beberapa rumah adat Using kuno yang ditempati hingga saat ini.

Salah satu kekhasan dari rumah adat Using dapat dilihat dari atap rumah. Menurut Arif Wibowo, arsitek asal Banyuwangi yang juga pendiri Arsitek Muda Banyuwangi kepada Kompas.com, Sabtu (16/2/2019) menjelaskan rumah adat Using memiliki tiga bentuk atap yaitu Tikel Balung, Baresan dan Cerocogan.

Baca juga: Menikmati Bekamal, Masakan Khas Using Banyuwangi yang Hampir Punah

Bentuk Tikel Balung merupakan bentuk dasar rumah adat Using yang terdiri dari empat rab (bidang) atap. Satu unit Tikel Balung biasanya dimiliki setiap keluarga yang menaungi aktivitas penghuninya.

Bagian Pawon (dapur) di salah satu rumah adat Using di Desa Kemiren Banyuwangi, Jawa Timur.KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Bagian Pawon (dapur) di salah satu rumah adat Using di Desa Kemiren Banyuwangi, Jawa Timur.
Pembentukan ruang-ruang di dalamnya didasarkan pada jumlah orang yang menghuninya. Sementara bentuk Baresan adalah bentuk yang lebih sederhana dari Tikel Balung dengan menghilangkan satu rab di belakanganya sehingga terdiri dari riga rab (bidang).

Baca juga: Jolang, Tradisi Pengantin Using Banyuwangi yang Terlupakan

Menurut Arif, Baresan tidak bisa dikatakan sebagai unit rumah sendiri karena muncul sebagai respon penambahan ruang karena satu unit Tikel Balung tidak cukup menampung kebutuhan ruang karena penambahan fungsi ruang dan anggota keluarga.

"Jadi jika kurang luas, maka bagian belakang akan ditambahi Baresan. Sangat jarang ditemukan tipe Baresan yang berdiri sendiri," jelas Arif.

Bagian njerumah rumah adat Using Banyuwangi dipenuhi dengan lemari kayu dan perabotan rumah tangga lainnya.KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Bagian njerumah rumah adat Using Banyuwangi dipenuhi dengan lemari kayu dan perabotan rumah tangga lainnya.
Sementara bentuk atap Cerocogan adalah bentuk atap yang paling sederhana dari tipe arsitektur Using dan jarang digunakan sebagai fungsi utama sebuah rumah hunian.

Baca juga: Mengembara dalam Hidangan Using

Karena bentuknya yang sederhana terdiri dari dua rab (bidang), bentuk Cerocogan digunakan untuk menaungi pawon (dapur) yang biasanya terdapat di bagian belakang rumah.

"Strata sosial masyarakat Using bisa dilihat dari bentuk atapnya, jika jumlahnya lengkap terdiri dari Tikel Balung, Baresan dan Cerocogan atau lebih banyak maka bisa dipastikan jika dia orang kaya dan terpandang di wilayahnya," kata Arif.

Baca juga: Leluhur Menari di Tanah Using

Ia juga mengatakan, Desa Kemiren adalah salah satu desa yang masih dengan mudah ditemukan rumah adat Using yang berfungsi sebagai rumah tinggal.

Dinding rumah adat Using di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jatim, yang menggunakan anyaman bambu.KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Dinding rumah adat Using di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jatim, yang menggunakan anyaman bambu.
Dia juga menjelaskan bagian-bagian struktur rumah adat Using antara lain Sangga Tepas, Gelandar, Saka, Ubag, Ampig-ampig, Jait Cendhek, Doplak, Suwunan, Ander, Penglari, Jait Dhawa, Reng dan Dur.

Sementara untuk dinding samping dan belakang rumah, masyarakat Using memilih menggunakan bambu yang disebut ghedeg pipil dan untuk bagian depan menggunakan Gebyog yang terbuat dari kayu.

Selain itu, keunikan rumah adat Using adalah konstruksi bangunan yang dapat dibongkar pasang menggunakan sistem tanding tanpa paku tapi menggunakan sasak pipih yang bernama paju.

Rumah adat Using di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jatim, dengan menggunakan gebyok di bagian depan.KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Rumah adat Using di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jatim, dengan menggunakan gebyok di bagian depan.
"Saat anak menikah, biasanya orang tua akan membangunkan rumah tikel balung baik lama atau pun baru karena rumah Using ini kan bisa bongkar pasang dan tanpa menggunakan paku sehingga mudah untuk dipindahkan," kata Arif.

Untuk bagian dalam rumah adat Using dibagi dalam beberapa bagian yaitu amper atau bagian depan rumah, bale yang merupakan ruang tamu atau ruang kegiatan adat, njerumah atau njero omah yang berarti bagian dalam rumah tempat aktivitas pribadi pemilik rumah dan pawon atau dapur serta ampok yang berada di kanan dan kiri rumah.

Untuk menuju ke dapur, biasanya tamu akan melewati samping rumah, dan masuk melalui pintu dapur sehingga tidak perlu melewati bagian njerumah.

Rata-rata kayu yang digunakan untuk membangun rumah Using berasal dari Pohon Bendo yang zaman dulu cukup mudah ditemukan. Tentunya, pohon yang dipilih adalah pohon Bendo yang cukup tua sehingga rumah yang didirikan lebih awet.

Atap model Tikel Balung (depan) dan Cerocogan (belakang) rumah adat Using di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jatim. Di bagian samping juga digunakan untuk menyimpan kayu kabar untuk kegiatan memasak.KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Atap model Tikel Balung (depan) dan Cerocogan (belakang) rumah adat Using di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jatim. Di bagian samping juga digunakan untuk menyimpan kayu kabar untuk kegiatan memasak.
Sementara itu Buang (55), warga Kemiren mengaku jika rumah yang dia tempati saat ini adalah warisan dan kakeknya.

Rumah yang berada tepat di pinggir jalan Desa Kemiren tersebut memiliki lima atap yang terdiri dari Tikel Balung dan Baresan, sementara Cerocogan untuk bagian belakang. Tikel Balung bagian depan berukuran 10 meter dan ukurannya sama dengan ruang bagian belakang yang digunakan njerumah dan pawon.

"Cerocogan dulu buat dapur tapi sekarang di taruh di belakang buat gudang soalnya aktivitas banyak di dapur juga karena banyak tamu yang datang kesini sehingga butuh tempat yang lebih luas," kata Buang.

Ruang tamu rumah adat Using yang ada di Desa Kemiren Banyuwangi, Jawa Timur.KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Ruang tamu rumah adat Using yang ada di Desa Kemiren Banyuwangi, Jawa Timur.
Selain rumah Using, Buang mengaku juga membangun rumah yang lebih modern atau yang dia sebut rumah gedong. Rumah gedong tersebut dibangun mengikuti keinginan anak dan cucunya yang menginginkan rumah modern.

"Jadi tinggal di sini ya di sana di rumah gedong. Tapi kalau saya banyakan disini," katanya.

Rumah adat Using juga masih dilihat di wilayah Sukosari Desa Kemiren Banyuwangi. Untuk menuju ke Sukosari, kita harus berjalan kaki karena tempatnya agak jauh dari jalan utama desa. Terdapat 10 rumah Using yang tertata rapi selaras dengan alam yang masih asri. Gebyok rumah juga diseragamkan yaitu dengan bahan kayu berwarna coklat.

"Sudah hampir setengan tahun seperti ini. Bagian depan rumah, gebyoknya diganti sama pihak desa," kata Mbok Wang saat ditemui Kompas.com di rumahnya.

Tempat tidur di dalam rumah adat Using yang kuno dan menggunakan kelambu.KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Tempat tidur di dalam rumah adat Using yang kuno dan menggunakan kelambu.
Menurutnya, gebyok lama miliknya digunakan untuk membangun ruangan belakang rumah. Mbok Wang juga menjelaskan, ada beberapa wisatawan yang datang ke wilayahnya untuk berjalan-jalan.

"Jumlahnya tidak banyak hanya beberapa, kadang mereka juga mampir untuk ngopi. Rumah kami terbuka untuk siapa pun yang datang kesini," katanya.

Seiring dengan majunya industri wisata di Banyuwangi, Arif Wibowo mengakui rumah adat Using menjadi tren di masyarakat Banyuwangi baik untuk rumah huni, penginapan, kedai atau rumah makan.

Hal tersebut tentunya membawa angin segar bagi dunia arsitektur di Kabupaten Banyuwangi sebagai salah satu upaya pelestarian.

Salah satu bagian dalam rumah adat Using di Desa Kemiren Banyuwangi, Jatim, yang dilengkapi dengan kasur khas Cemeng Abang (hitam merah).KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Salah satu bagian dalam rumah adat Using di Desa Kemiren Banyuwangi, Jatim, yang dilengkapi dengan kasur khas Cemeng Abang (hitam merah).
Namun, Arif juga tidak menampik jika banyak rumah-rumah Using di pedesaan yang kuno dibongkar lalu dijual dan pemilik rumah menggantinya dengan membangun rumah modern.

"Tapi yang terpenting adalah bagaimana rumah Using tetap digunakan masyarakat sebagai hunian bukan hanya sekadar mengikuti tren. Dan tentunya bangunan yang didirikan harus disesuaikan dengan budaya, tradisi dan iklim masyarakat di sekitar," pungkasnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X