Kompas.com - 24/02/2019, 22:02 WIB
Wisman di Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, NTB, Kamis (21/2/2019). ARSIP FORWAPARWisman di Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, NTB, Kamis (21/2/2019).

MANGSIT, KOMPAS.com - Deputi Pengembangan Pemasaran II Kemenpar, Nia Niscaya mengatakan pihaknya akan berusaha sekuat tenaga menjalankan program Shifting to The Front untuk mendorong seluruh pelaku usaha pariwisata  menawarkan paket wisata yang menarik bagi wisatawan mancanegara (wisman).

Beberapa strategi tersebut diterapkan dalam program "super-extra ordinary" yang akan dijadikan sebagai senjata terakhir yang mencakup tiga program yakni border tourism, tourism hub, dan low cost terminal (LCT).

Baca juga: Menpar: “Cross Border Tourism” Tak Sekadar Tingkatkan Kunjungan Wisman

Program ini sebagai strategi campuran dari tiga program yakni ordinary, extra-ordinary, dan super-extra ordinary.

“Hal ini sebagai program istimewa dan menjadi senjata pamungkas untuk mewujudkan target akhir 10 juta di semester pertama dan 20 juta wisman tahun 2019,” kata Nia dalam acara Sosialisasi Promosi Pariwisata kepada Media Nasional di Hotel Katamaran, Mangsit, Lombok, NTB, Kamis (21/2/2019).

Deputi Pengembangan Pemasaran II Kemenpar, Nia Niscaya.ARSIP FORWAPAR Deputi Pengembangan Pemasaran II Kemenpar, Nia Niscaya.
Menurut Nia, program super-extra ordinary mencakup tiga program yaitu Border Tourism, Tourism Hub, dan Low Cost Terminal (LCT). Border tourism dianggap penting karena merupakan cara efektif untuk mendatangkan wisman dari negara-negara tetangga.

Baca juga: Kiat Menjaring Wisman, Indonesia Patut Belajar dari Spanyol

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Nia menjelaskan beberapa alasan. Pertama, karena wisman dari negara tetangga memiliki kedekatan secara geografis sehingga wisman lebih mudah, cepat, dan murah menjangkau destinasi kita.

Kedua, mereka juga memiliki kedekatan kultural/emosional dengan kita sehingga lebih mudah didatangkan.

“Ketiga, potensi pasar Border Tourism ini masih sangat besar baik dari Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Papua Nugini, maupun Timor Leste,” katanya.

Baca juga: Ada Bencana, 1 Juta Wisman Batal Datang ke Indonesia

Untuk program tourism hub sebagai strategi menjaring di kolam tetangga yang sudah banyak ikannya. "Maksudnya, wisman yang sudah berada di hub regional seperti Singapura dan Kuala Lumpur ditarik untuk melanjutkan perjalanan berlibur ke Indonesia," katanya.

Konser ini makin memantapkan Atambua sebagai Kota Konser Cross Border. Baru digelar di dua lokasi saja, sudah mampu 2000-an penonton dan ratusan datang dari negeri Timor Leste.ARSIP KEMENTERIAN PARIWISATA Konser ini makin memantapkan Atambua sebagai Kota Konser Cross Border. Baru digelar di dua lokasi saja, sudah mampu 2000-an penonton dan ratusan datang dari negeri Timor Leste.
"Salah satu persoalan pelik pariwisata kita adalah minimnya penerbangan langsung (direct flight) dari originasi. Direct flight kita misalnya dari originasi China mencapai 50 persen. Artinya 50 persen sisanya masih transit dari Singapura, Kuala Lumpur, atau Hongkong," sambungnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.