KBRI Seoul dan Garuda Promosikan Bali-Lombok

Kompas.com - 26/02/2019, 09:59 WIB
Sejumlah wisatawan berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Pantai Mandalika, Kuta, Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (10/10/2017).  ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI Sejumlah wisatawan berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Pantai Mandalika, Kuta, Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (10/10/2017).

SEOUL, KOMPAS.com - Kedutaan Besar Indonesia di Korea Selatan mengelar acara Malam Apresiasi dan Networking dengan mengundang sekitar 40 pelaku utama penggerak wisata Korsel, seperti chairman, direktur dan anggota Asosiasi Agen Wisata Korea Selatan (KATA).

Hadir pula BUMN Indonesia di Korsel serta media massa memperkenalkan destinasi wisata baru yang diadakan di Wisma Duta Besar, akhir pekan lalu.

Baca juga: Pariwisata Korea Booming, Indonesia Perlu Tiru 7 Hal Ini

Pensosbud KBRI Seoul Purno Widodo kepada Antara, Selasa (26/2/2019) mengatakan, kesempatan networking itu juga dimanfaatkan KBRI dan Garuda Indonesia Seoul mempromosikan kembali Bali dan Lombok, yang sempat mengalami penurunan jumlah turis dari Korea.

Nama Indonesia cukup populer di Negeri Ginseng Korea Selatan. Namun hal ini tidak serta merta ditunjukkan dengan banyaknya turis Korsel yang tandang ke Indonesia.

Baca juga: Indonesia Bisa Tarik Turis China, Korea, dan Jepang dari Laos

Apalagi tahun lalu kunjungan turis Korsel ke Indonesia hanya tercatat 358.349 orang, atau menurun hingga 10 persen dari tahun sebelumnya.

Sejumlah warga bermain Perisaian di Dusun Adat Ende, Desa Sengkol, Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Sabtu (17/11/2018). Dusun adat Ende merupakan salah destinasi wisata budaya di Lombok Tengah yang menyuguhkan wisata kehidupan masyarakat adat Sasak lengkap dengan atraksi budaya tradisional seperti musik tradisional Genggong, Gendang Beleq, dan Perisaian. ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI Sejumlah warga bermain Perisaian di Dusun Adat Ende, Desa Sengkol, Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Sabtu (17/11/2018). Dusun adat Ende merupakan salah destinasi wisata budaya di Lombok Tengah yang menyuguhkan wisata kehidupan masyarakat adat Sasak lengkap dengan atraksi budaya tradisional seperti musik tradisional Genggong, Gendang Beleq, dan Perisaian.
Hal tersebut merupakan dampak berbagai bencana alam yang terjadi, khususnya di Lombok dan Bali yang menjadi tujuan utama turis Korsel ke Indonesia.

Cara baru meyakinkan kembali rombongan wisman Korea, salah satu yang menjadi agenda Pemerintah Indonesia melalui KBRI di Korsel adalah melakukan pendekatan intensif kepada Asosiasi Agen Wisata Korea Selatan atau KATA.

Baca juga: Kuliner Bebalung Kuda Masteng Khas Lombok Dipercaya Menambah Stamina

Hal ini semata untuk membujuk dan meningkatkan kepercayaan diri para agen wisata negeri Kimchi mempromosikan dan menjual paket-paket wisata ke Indonesia secara lebih intensif.

Setelah melakukan upaya "door to door" dengan KATA, Dubes RI untuk Korsel Umar Hadi dalam pertemuan tersebut menyampaikan apresiasi Pemerintah Indonesia atas penyampaian bantuan kemanusiaan dari anggota KATA bagi korban bencana alam di Sulawesi Tengah melalui Palang Merah Indonesia.

Baca juga: Promo Hotel saat Nyepi di Bali 2019

"Anda telah menunjukkan sebagai teman sejati Indonesia, kami sangat berterima kasih atas upaya anda selama ini untuk Indonesia," kata Dubes Umar kepada Presiden KATA.

Wisatawan mancanegara (wisman) mengunjungi kawasan Geopark Batur di Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Kamis (19/7/2018). Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menargetkan devisa 1 miliar dollar AS dan jumlah kunjungan 1.102.500 wisman dari 11 geopark Indonesia hingga tahun 2019.ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA Wisatawan mancanegara (wisman) mengunjungi kawasan Geopark Batur di Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Kamis (19/7/2018). Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menargetkan devisa 1 miliar dollar AS dan jumlah kunjungan 1.102.500 wisman dari 11 geopark Indonesia hingga tahun 2019.
Selain itu, Dubes juga menggarisbawahi berbagai upaya bersama untuk meningkatkan arus wisatawan Korsel ke Indonesia. Salah satunya dengan penyelenggaraan "familiarization trip" (famtrip) bagi pimpinan agen travel pada tahun 2019 untuk mempromosikan destinasi 10 new Bali.

Presiden KATA menyampaikan komitmennya untuk berupaya meningkatkan arus kunjungan wisata dari Korsel ke Indonesia dan sebaliknya.

"Saya menyadari potensi pariwisata Indonesia sangatlah besar. Namun jumlah kunjungan selama ini masih belum optimal dan tidak berbanding lurus dengan potensi yang ada. Untuk itu mari kita berupaya bersama-sama untuk mengoptimalkan semua potensi yang ada," katanya.

Chairman KATA Henry C. OH Jr mengharapkan frekuensi penerbangan dan kota-kota tujuan wisata di kedua negara dapat ditingkatkan.

Sejumlah wisatawan mengunjungi Desa Adat Penglipuran di Kubu, Kabupaten Bangli, Bali, Kamis (19/7/2018). Desa yang telah berdiri sejak 700 tahun silam pada masa Kerajaan Bangli tersebut mendapat predikat dari TripAdvisor sebagai desa terbersih sedunia pada 2016 dan saat ini menjadi destinasi favorit wisatawan untuk menikmati suasana perkampungan tradisional adat khas Bali.ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA Sejumlah wisatawan mengunjungi Desa Adat Penglipuran di Kubu, Kabupaten Bangli, Bali, Kamis (19/7/2018). Desa yang telah berdiri sejak 700 tahun silam pada masa Kerajaan Bangli tersebut mendapat predikat dari TripAdvisor sebagai desa terbersih sedunia pada 2016 dan saat ini menjadi destinasi favorit wisatawan untuk menikmati suasana perkampungan tradisional adat khas Bali.
Sebelumnya, data yang dirilis Kementerian Pariwisata RI mencatat turis Korea Selatan yang bepergian ke Indonesia tahun 2017 mencapai 378.769 wisatawan atau meningkat 10 persen lebih dari tahun sebelumnya yang hanya 343.887 wisatawan.

Salah satu faktor yang diperkirakan menjadi pendorong meningkatnya jumlah wisatawan Korsel ke Indonesia adalah kepopuleran acara "Youn's Kitchen" yang ditayangkan stasiun televisi TvN yang tayang pada Maret-Mei 2017. Sambutan positif dari masyarakat Korea mendorong Korean Air membuka penerbangan carter Incheon-Lombok selama lima gelombang.

Selain Youn's Kitchen, beberapa acara televisi yang mengambil lokasi syuting di Indonesia pada tahun 2017 di antaranya "Law of the Jungle" edisi Sumatera dan Pulau Komodo (SBS), "Battle Trip" di Bali (KBS), dan "Running Man" di Yogyakarta (SBS).

Tahun 2018 kembali beberapa reality show Korea mengambil lokasi syuting di Indonesia, di antaranya "Salty Tour" di Bandung (TV N), "My Little Old Boy" di Bali (SBS).

Tari Kecak yang dibawakan oleh sekitar 70 laki-laki bertelanjang dada di pelataran Pura Uluwatu, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (6/9/2018). Dengan membayar tiket sebesar Rp 100.000 selama 1 jam wisatawan dapat menyaksikan cerita Ramayana di tempat yang magis ini.KOMPAS.com/I MADE ASDHIANA Tari Kecak yang dibawakan oleh sekitar 70 laki-laki bertelanjang dada di pelataran Pura Uluwatu, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (6/9/2018). Dengan membayar tiket sebesar Rp 100.000 selama 1 jam wisatawan dapat menyaksikan cerita Ramayana di tempat yang magis ini.
Penayangan reality show yang berlokasi di Indonesia merupakan cara promosi pariwisata yang cukup efektif untuk menggaet turis Korea Selatan bertandang ke Indonesia.

Melalui acara televisi masyarakat negeri Kimchi dipameri keindahan dan keunikan Indonesia yang tidak bisa ditemukan di negara lain. Pesona Indonesia diharapkan mampu menyedot minat wisata warga Korsel ke Nusantara.



Close Ads X