Kompas.com - 26/02/2019, 19:09 WIB

“Awal pendanaan cuma dari kas pemuda yang tidak seberapa dengan anggota sekitar 30 orang. Setelah banyak dikunjugi masyarakat luar, baru kita buat warung dan stand-stand untuk pemuda, ternyata bagus, banyak yang datang,” imbuh Rudi.

Baca juga: 5 Tips Nyore Romantis di Puncak Sosok, Bantul

Selanjutnya pihaknya berdiskusi dengan warga dan mereka setuju untuk naik ke tingkat dusun (empat RT). Usai satu suara, pihaknya bertemu dengan kepala desa untuk menyampaikan program pengembangan wisata.

“Alhamdulillah sinkron dengan program desa. Ternyata di desa juga ada program di bidang pariwisata, hanya bentuknya seperti apa masih rancu. Lalu kita di-backup dari desa melalui dana desa untuk akses jalan ke sini (Puncak Sosok) sepanjang 550 meter,” jelas Rudi.

Berkah Acara Kapolda Cup

Rudi melanjutkan, untuk memecah pengunjung di Puncak Gebang, dibuatlah trek downhill karena kebanyakan pengunjung datang bersepeda. Panjang trek adalah 1,4 kilometer dari Puncak Sosok sampai Puncak Gebang dan dibuat dengan gotong royong.

“Start dari Puncak Sosok, tetapi belum ada jalan seperti sekarang. 2017 akhir kita dipercaya Kapolda Cup untuk event. Kita ngebut, jalan harus jadi. Siang-malam kerja bakti empat RT sekitar 200 warga,” ujar Rudi.

Baca juga: Menikmati Keindahan Malam di Wisata Hits Jogja, Pinus Pengger

Jalan menuju Puncak Sosok akhirnya jadi tanggal 22 Desember 2017, sementara acara dimulai tanggal 23-24 Desember 2017. Jalan itu langsung dipakai oleh tamu hingga peserta acara, termasuk Kapolda DIY, Ahmad Dofiri.

“Alhamdulillah acara sukses. Dari situ bangkit lagi semangat, terus desa juga sangat mendukung, lalu kita diberi dana lagi untuk membuat warung, ayunan, dan gazebo di Puncak Sosok sebesar sekitar 20 juta,” kata Rudi.

Hasil Manis Kerja Keras Karang Taruna dan Masyarakat

Usai 2018, pihaknya fokus membangun Puncak Sosok karena Puncak Gebang dirasa sudah terlalu ramai. Mulai ramai sekitar April 2018, dana seikhlasnya dari pengunjung dan bagi hasil dari warung digunakan untuk menata Puncak Sosok.

“Dari situ kita bisa bikin panggung teater, aula, dan lain-lain, meski belum maksimal. Rencana kita mau bikin area camping ground dan area outbond. Kita juga tidak meninggalkan Puncak Gebang karena embrionya dari sana,” jelas Rudi.

Kini, hasil kerja keras masyarakat setempat telah menghasilkan buah yang manis. Setiap sore, Puncak Sosok hampir selalu ramai oleh pengunjung yang ingin menikmati indahnya sore ditemani alunan musik akustik.

Banyaknya pengunjung yang datang membuat perekonomian masyarakat perlahan membaik. Tak hanya dari dana seikhlasnya saja. Warga juga bisa berjualan untuk menambah penghasilan mereka.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.