Kompas.com - 27/02/2019, 22:04 WIB
Pengungsi mengambil air wudhu sebelum menunaikan salat Maghrib di tempat penampungan pengungsi korban gempa bumi di Desa Karang Subagan, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, Rabu (8/8/2018). Total Sebanyak 156.003 jiwa korban gempa bumi mengungsi dan diperkirakan akan terus bertambah. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGPengungsi mengambil air wudhu sebelum menunaikan salat Maghrib di tempat penampungan pengungsi korban gempa bumi di Desa Karang Subagan, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, Rabu (8/8/2018). Total Sebanyak 156.003 jiwa korban gempa bumi mengungsi dan diperkirakan akan terus bertambah.

JAKARTA, KOMPAS.com - Berada di lingkaran Cincin Api serta diapit dua samudera, Indonesia bagai dianugerahi kekayaan alam yang istimewa. Jajaran gunung dan bentangan garis pantai menjadi lanskap utama negeri ini. Namun, selain memesona, kekayaan alam ini juga menyimpan momok yang sewaktu-waktu mampu mengancam.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengakui bila faktor alam merupakan salah satu tumpuan utama pariwisata Indonesia.

“Saya sadar betul bahwa risiko bencana alam Indonesia itu besar. Jadi, plus-minusnya juga kita dapat. Ring of Fire memang indah, tapi ada risiko,” ujar Arief dalam wawancara khusus KompasTravel di Kementerian Pariwisata, Jakarta, Rabu (20/2/2019).

Tahun 2018 menjadi periode yang ia soroti. Memang, tahun lalu pariwisata Indonesia beberapa kali dihantam bencana alam bertubi-tubi yang diklaim menjadi biang kerok tidak tercapainya target kunjungan 17 juta wisatawan mancanegara (wisman).

Menurut pendapat Arief, peristiwa bencana alam hampir pasti berdampak langsung terhadap kunjungan wisman. Fenomena ini dapat dikenali dengan mudah melalui angka pembatalan pesanan hotel.

“Ketika ada bencana besar, besoknya terjadi cancellation yang tinggi,” katanya. Ia memberi contoh gempa kedua di Lombok (5/8/2018).

“Cek (angka pembatalan pesanan hotel-Red) tanggal 6. Berapakah turunnya? 65 persen,” tambahnya mengutip statistik dari situs Amadeus.com.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Langkah Mitigasi

Pada kesempatan yang sama, Menpar pun mengakui bila masih terdapat sejumlah kendala terkait mitigasi bencana di destinasi-destinasi wisata.

“Bahwa di beberapa daerah belum ada instalasi, itu kekurangan kita yang harus diakui,” ucap pria 57 tahun ini.

Untuk memitigasi dampak buruk bencana alam, Arief menyebut bahwa Kemenpar akan terus meningkatkan koordinasi dengan BNPB maupun BMKG. Di samping itu, pihak Kemenpar telah membentuk tim crisis center (TCC) guna menanggulangi dampak bencana di destinasi-destinasi wisata.

Arief mengatakan, tim ini akan disiagakan dan bergerak secepat mungkin merespons bencana alam, melalui prosedur operasional yang telah ditetapkan.

“Kita ada TCC, begitu ada kejadian kita langsung bergerak. Ada tahap tanggap, pemulihan, tahap normalisasi. Itu yang bisa kita lakukan. Bencana bisa terjadi dan kita bisa membuat tenang wisatawan,” pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.