Guti Nale, Tradisi Tangkap Cacing Laut di Mingar Lembata

Kompas.com - 11/03/2019, 21:06 WIB
Festival bertajuk Duli Gere, Lewo Rae Malu di Lewobata, Nusa Tenggara Timur menampilkan beragam acara seperti karnaval Nale, Tarian Kolosal, Kuliner Nale dan Guti Nale itu sendiri. KOMPAS.com / NANSIANUS TARISFestival bertajuk Duli Gere, Lewo Rae Malu di Lewobata, Nusa Tenggara Timur menampilkan beragam acara seperti karnaval Nale, Tarian Kolosal, Kuliner Nale dan Guti Nale itu sendiri.

Sebagai lauknya, ada sejenis ikan yang dalam bahasa setempat disebut keposis. Ikan jenis ini berwarna hitam kecil yang suka melompat dari batu ke batu di pinggir laut. Ditambah dengan ayam jantan hitam (manu lalu miteu).

Selanjutnya, tetua adat pergi ke bagian timur lapangan sepak bola Mingar untuk memberi sesajian di Duli Ulu. Duli Ulu merupakan tengkorak kepala dari Srona dan Srani.

Sebelum meninggal mereka sempat berpesan agar tengkorak kepala mereka ditempatkan di lokasi yang disebut Duli Ulu. Selanjutnya, upacara dilanjutkan dengan memberi makan Belawa, leluhur Atakabelen yang dikuburkan dekat pantai.

Sekembalinya ke Koker Nale, sisa sesajian (Deta Nga’a se) dalam ritual memberi makan leluhur dibagikan kepada semua orang (ribu ratu, ari ana, nuja golu) yang terlibat dalam ritual ini. Setiap orang yang mengikuti ritus ini boleh menikmati makanan sisa berupa nasi dan daging ayam dengan tuak putih sebagai minumannya.

Sore harinya, dua utusan dari Suku Ketupapa dan Atakabelen menarik daun kelapa. Satunya ke arah timur kampung dan yang lain ke arah barat kampung.

Menjelang Guti Nale pada malam hari, dua utusan dari suku yang sama, pergi ke pantai. Keduanya memastikan adanya koloni nale yang  menggerumut di sepanjang perairan pantai Mingar. Ketika melihat nale, mereka langsung menyalakan kuum (penerang yang terbuat dari daun koli) sambil berteriak duli gere, Lewo Rae Malu.

Mendengar teriakan ini, orang berdatangan dan menyemut di pantai pasir putih. Tua muda, laki-laki perempuan dari segala penjuru sibuk mengambil nale.

Adapun peralatan untuk mengambil nale diantaranya temenaj (alat untuk mengambil nale), sebenale (kalau nale sudah penuh di temenaj, maka akan ditampung di sebenale), kuum (penerang) dan kedeli (alas sebenale).

Saat mengambil nale, orang meneriakkan duli gere-duli gere-duli gere, sebagai yel kebahagiaan akan datangnya nale.

Keesokan harinya, pada jam yang sama orang datang lagi mengambil nale dengan suasana riang gembira. Setelah Guti Nale selesai, didaraskan mantra enem lau pito jae, pito jae buto lau tune mu besol, mo akaju para boi ribu ratu moa ia duli pali epak rea Waike ake da malu mai.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X