Kompas.com - 13/03/2019, 17:11 WIB
Bunga Edelweiss di Gunung Semeru. Kompas.com/Anggara Wikan PrasetyaBunga Edelweiss di Gunung Semeru.

KOMPAS.com – Mendaki gunung saat ini tengah menjadi tren wisata, terutama bagi kalangan muda. Tak sekadar berlibur sambil memacu adrenalin, mendaki gunung saat ini juga dilakukan untuk mendapatkan konten foto atau video yang menarik di media sosial.

Namun sayangnya, saat ini tak semua orang yang mendaki gunung memiliki pengetahuan dan perlengkapan yang memadai. Alhasil dalam empat tahun terakhir, angka kecelakaan pendakian mengalami peningkatan.

Kecelakaan pendakian tersebut disebabkan karena fisik pendaki yang tak mumpuni, perlengkapan yang tak memadai, kingga kondisi alam yang mengancam keselamatan.

Baca juga: FMI Tawarkan Pelatihan Mendaki Gunung untuk Komunitas Pendaki

Mantan Ketua Umum Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) periode 2016-2019, Ronie Ibrahim, mengatakan gunung sebenarnya sangat berpotensi dijadikan sebagai salah satu destinasi petualangan. Namun tak sembarang gunung dapat langsung didaki dan dijadikan destinasi wisata.

Menurut Ronie, ada beragam syarat yang harus dipenuhi demi keselamatan wisatawan dan terjaganya kelestarian lingkungan.

“Gunung jika ingin dijadikan obyek wisata atau destinasi wisata tentu perlu pengelolaan dan regulasi tertentu. Apalagi jika Gunung tersebut berada dalam area konservasi dan hutan lindung. Tempat Wisata harus memenuhi 3A (Akses, Amenitas dan Atraksi), termasuk gunung,” ujar Ronie.

Menurutnya, gunung-gunung yang belum dikelola tentu saja tidak dilengkapi dengan rute jalan yang baik, petunjuk yang baik, shelter atau rumah singgah yang memadai, petugas gunung dan pemandu gunung yang kompeten di gunung tersebut, dan lain sebagainya. Hal inilah yang berbahaya bagi para wisatawan.

Pendaki berfoto di area Puncak Hargo Dumilah Gunung Lawu, Jawa Timur, Jumat (29/12/2017). Sejumlah pendaki memanfaatkan momen libur akhir tahun untuk mendaki Gunung Lawu.KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Pendaki berfoto di area Puncak Hargo Dumilah Gunung Lawu, Jawa Timur, Jumat (29/12/2017). Sejumlah pendaki memanfaatkan momen libur akhir tahun untuk mendaki Gunung Lawu.
“Gunung di Indonesia kebanyakan berupa hutan hujan tropis hingga hutan sub alpine. Tentu saja untuk menjadikannya objek wisata atau destinasi wisata perlu pengaturan dan pengelolaan, karena memang ada resiko berkegiatan dialam bebas, di hutan apalagi di ketinggian. Ada faktor cuaca dingin, hujan, angin, risiko gunung lainnya,” paparnya.

Menurutnya, para penggiat, praktisi, akademisi wisata gunung selama 5 tahun terakhir bersama pemerintah mengupayakan berbagai hal untuk menyikapi kecepatan perkembangan dan perubahan di bidang kepariwisataan termasuk wisata alam.

Baca juga: 4 Tahun Terakhir, Kecelakaan Pendakian Paling Banyak Terjadi di Gunung Semeru

Pada tahun 2016 Kementerian Pariwisata bahkan membentuk Tim Percepatan Pengembangan Wisata Petualangan yang salah satunya berkonsentrasi pada masalah wisata pendakian gunung.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Puncak Argapura Ketep Pass, Wisata Kuliner dengan Panorama 5 Gunung

Puncak Argapura Ketep Pass, Wisata Kuliner dengan Panorama 5 Gunung

Jalan Jalan
Harga Tiket Masuk TMII Dijanjikan Tidak Naik Setelah Revitalisasi

Harga Tiket Masuk TMII Dijanjikan Tidak Naik Setelah Revitalisasi

Travel Update
Unggah Foto Perayaan Imlek di Grand Indonesia Bisa Dapat Promo, Ini Caranya

Unggah Foto Perayaan Imlek di Grand Indonesia Bisa Dapat Promo, Ini Caranya

Travel Promo
Jelang MotoGP, 226 Hotel di Gili Matra NTB Belum Dapat Pesanan

Jelang MotoGP, 226 Hotel di Gili Matra NTB Belum Dapat Pesanan

Travel Update
Panduan Cara Bikin Paspor dengan M-Paspor, Simak agar Tidak Bingung

Panduan Cara Bikin Paspor dengan M-Paspor, Simak agar Tidak Bingung

Travel Tips
5 Penginapan Dekat Nepal van Java, Bisa Ditempuh dengan Jalan Kaki

5 Penginapan Dekat Nepal van Java, Bisa Ditempuh dengan Jalan Kaki

Travel Tips
Cerita di Balik Menu Bubur Ayam Hotel Indonesia Kempinski Jakarta

Cerita di Balik Menu Bubur Ayam Hotel Indonesia Kempinski Jakarta

Jalan Jalan
Pemandian Alam Selokambang di Lumajang, Segarnya Mata Air Gunung Semeru

Pemandian Alam Selokambang di Lumajang, Segarnya Mata Air Gunung Semeru

Jalan Jalan
Jangan Letakkan Ponsel di Tempat Ini di Pesawat, Bisa Picu Kebakaran

Jangan Letakkan Ponsel di Tempat Ini di Pesawat, Bisa Picu Kebakaran

Travel Tips
Kenapa Tidak Ada Guling di Kamar Hotel, Ini Alasannya

Kenapa Tidak Ada Guling di Kamar Hotel, Ini Alasannya

Travel Tips
10 Kota Paling Ramah untuk Turis, Ada Nusa Lembongan di Bali

10 Kota Paling Ramah untuk Turis, Ada Nusa Lembongan di Bali

Jalan Jalan
Kapal Viking Jadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

Kapal Viking Jadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

Travel Update
Sulit Tidur Saat Menginap di Hotel? Pahami Alasan Ilmiah dan Solusinya

Sulit Tidur Saat Menginap di Hotel? Pahami Alasan Ilmiah dan Solusinya

Travel Tips
MotoGP Bisa Jadi Momen Kopi Robusta Lombok Gaet Pasar Internasional

MotoGP Bisa Jadi Momen Kopi Robusta Lombok Gaet Pasar Internasional

Travel Update
Banyuwangi Festival 2022 Sajikan 99 Atraksi Selama Setahun ke Depan

Banyuwangi Festival 2022 Sajikan 99 Atraksi Selama Setahun ke Depan

Travel Promo
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.