Ini Beda Pendakian Gunung Tahun 1980-1990an dan 2000-an

Kompas.com - 13/03/2019, 22:15 WIB
Ilustrasi mendaki gunungjankovoy Ilustrasi mendaki gunung
JAKARTA, KOMPAS.com - Mendaki gunung di Indonesia saat ini menjadi tren salah satu liburan. Wisatawan dari berbagai usia pergi ke gunung untuk menikmati pemandangan alam.
 
Fenomena mendaki gunung di Indonesia tentunya hadir melalui individu maupun organisasi pencinta alam. Setidaknya, fenomena mendaki gunung juga berhasil eksis berkat organisasi pencinta alam.
 
Menurut, anggota Asosiasi Industri Wisata Petualangan Indonesia Bidang Pengembangan Usaha, M. Rubini Kertapati, pada era tahun 1980 dan 1990-an kegiatan alam bebas identik dengan seseorang yang ikut ke dalam organisasi pencinta alam atau pegiat alam bebas. Wisatawan atau pegiat alam yang mendaki gunung biasanya mengikuti tahapan pendidikan.
 
"Dibimbing dan dibina oleh para mentor dan senior. Mengikuti serangkaian tahapan hingga dianggap layak untuk berkegiatan di alam bebas. Biasanya ditandai dengan status keanggotaan dan simbol organisasi," kata Rubini atau akrab disapa Bibin dalam keterangan tertulis kepada KompasTravel.
Calon anggota Mapala UI berlatih ilmu mendaki gunung di Lembah Mandalawangi Gunung Pangrango, Jawa Barat.KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Calon anggota Mapala UI berlatih ilmu mendaki gunung di Lembah Mandalawangi Gunung Pangrango, Jawa Barat.
Menurutnya, pada era 1980-1990 banyak hasil dokumentasi foto kegiatan di alam bebas yang dicirikan dengan seseorang yang berdiri di puncak gunung dan mengibarkan bendera atau simbol organisasi lainnya. Bibin menyebut pada era tahun 2000 pola kegiatan alam bebas bergeser.
 
"Membentuk komunitas lebih memudahkan seseorang untuk ikut dalam kegiatan alam bebas. Bahkan tanpa mengikuti komunitas dan hanya ikut open trip saja juga sudah dapat membuat seseorang melakukan pendakian gunung. Ciri cirinya adalah dokumentasi yang dihasilkan bagus sekali dan beredar luas di media sosial. Simbol simbol organisasi mulai tidak terlihat. Tetapi lebih menunjukkan eksistensi diri," lanjut Bibin.
 
Menurutnya, pada era tahun 80-an dan 90-an para pegiat pencinta alam, seperti mahasiswa pencinta alam, memanfaatkan pendakian untuk mengasah kemampuan anggotanya, seperti meningkatkan kekuatan fisik, melatih survival ability, menguatkan kerja sama tim, dan untuk lebih mencintai tanah air serta mensyukuri maha karya Sang Pecipta.
 
"Booming film 5 CM memberikan pesan kepada anak muda bahwa kegiatan mendaki gunung tidak selamanya harus diikuti dengan terlibat dalam Organisasi Pecinta Alam. Lihat saja tampilan modis para pendaki gunung dalam film tersebut yang jauh dari apa yang kita lihat dari pendakian gunung yang mengikuti organisasi," ujarnya.
Pendaki berada di sekitar area Warung Mbok Yem, Gunung Lawu, Jawa Timur, Jumat (29/12/2017). Sejumlah pendaki memanfaatkan momen libur akhir tahun untuk mendaki Gunung Lawu.KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Pendaki berada di sekitar area Warung Mbok Yem, Gunung Lawu, Jawa Timur, Jumat (29/12/2017). Sejumlah pendaki memanfaatkan momen libur akhir tahun untuk mendaki Gunung Lawu.
Bibin menyebut era tahun 80-90an adalah era struktural kegiatan alam bebas. Hal itu ditandai dengan mayoritas yang berkegiatan di alam bebas adalah mereka yang mengikuti tahapan pendidikan yang terstruktur.
 
"Hasilnya adalah selektif. Hanya segelintir orang saja yang dapat dan bisa melakukan kegiatan alam bebas. Dalam hal ini khususnya pendakian gunung. Era tahun 2000-an adalah era non struktural kegiatan alam bebas. Tanpa embel embel identitas maupun serangkaian latihan seseorang dapat mengikuti kegiatan di alam bebas, bahkan pada tingkat yang extrim sekalipun. Hasilnya adalah massif," tambahnya.
 
Kegiatan alam bebas, khususnya pendakian gunung dilakukan oleh banyak orang dan banyak kalangan dengan ragam variasi latar belakang. Era tahun 2000-an serangkaian tahapan persiapan yang matang tidak banyak lagi dilakukan.
 
"Porsi terbesar persiapan adalah dalam hal melengkapi peralatan yang diperlukan. Terkadang malah peralatan yang belum tentu suitable dengan kebutuhan seorang pendaki gunung. Di sini dapat kita lihat fenomena boomingnya event bazar produk outdoor. Mencari kelengkapan alat outdoor tidak lagi selalu didasarkan pada kebutuhan dan kesesuaian melainkan lebih menitikberatkan pada lifestyle," tambah Bibin.
 
KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT Mendaki Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, NTB. KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT Mendaki Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, NTB.
Persiapan lainnya tentunya mencari data tujuan pendakian. Saat ini pencarian data ini sangatlah mudah seperti melalui mesin pencari google dan media sosial lainnya sangatlah membantu.
 
"Akan tetapi yang kerap terjadi justru sebaliknya. Info di media sosial justru menjadi motif awal seseorang melakukan pendakian gunung. Banyak penyebabnya, diantaranya : hasil foto yang bagus, caption foto yang menarik dan hal hal lainnya yang mendorong seseorang menjadikan pendakian gunung menjadi aktivitas tujuannya," ujar Bibin.
 
Ia juga menyebut banyak artis dan public figure yang kerap memposting aktivitas pendakian gunung. Sayangnya, pencarian data yang ingin didapat lebih banyak menitikberatkan pada spot foto yang unik, bagus dan menarik untuk didatangi dibandingkan data data penting lainnya (curah hujan, kondisi alam, titik titik rawan, dan lain-lain).
 
"Menurut saya ini titik rawannya. Potensi kecelakaan yang kerap terjadi karena informasi yang didapat tidak suitable (cocok) dengan kebutuhan dasar si pendaki gunung. Kerap terjadi seseorang yang mencari data sebatas ini lupa akan data persiapan terhadap diri sendiri yang diperlukan. Kecakapan fisik, menyadari sejauh mana kondisi fisik dengan karakter gunung yang akan didaki, kesesuaian alat dengan kondisi gunung yang dituju," jelasnya.



Close Ads X