Mie Instan Asli Gunungkidul, Terbuat dari Ketela

Kompas.com - 15/03/2019, 07:11 WIB
Mie cup dengan Bahan dasar Mocaf yang dikembangkan oleh Warga Dusun Sumberjo, Ngawu, Playen, Gunungkidul, YogyakartaKOMPAS.com/MARKUS YUWONO Mie cup dengan Bahan dasar Mocaf yang dikembangkan oleh Warga Dusun Sumberjo, Ngawu, Playen, Gunungkidul, Yogyakarta


YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Mengunjungi Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, identik dengan membawa oleh-oleh yang berbahan dasar ketela. Tiwul dan keripik adalah dua jenis di antaranya.

Namun dengan kreativitas warga Dusun Sumberjo, Desa Ngawu, Kecamatan Playen Gunungkidul, Yogyakarta, singkong diubah menjadi mie instan dalam cup bernama 'Ayo Mie' yang mudah disajikan dan diklaim lebih sehat.

Sekilas mie instan cup buatan kelompok wanita Dusun Sumberjo tidak berbeda dengan mie cup pada umumnya. Namun setelah dibuka, ukuran mienya lebih tebal. Dalam cup tersebut berisi bumbu, minyak, dan cabai kering. Tak lupa sebuah garpu plastik.

Ada dua varian rasa yakni ayam spesial dan bakso sapi. Untuk menyeduhnya juga relatif lebih lama dibandingkan mie instan pada umumnya.

"Jika mie instan yang biasa itu diseduh sekitar empat menit, kalau mie mocaf (ubi kayu) sekitar lima sampai enam menit," kata Ketua kelompok Suti Rahayu kepada Kompas.com Rabu (13/3/2019).

Baca juga: Mengikuti Upacara Melasti di Gunungkidul, Serasa di Bali

Suti mengatakan, ide awal pembuatan mie instan ini berawal dirinya diberikan pelatihan membuat mie yang berbahan dasar tepung mocaf. Tidak mudah untuk membuat mie instan dengan bahan baku mocaf.

Awalnya kami sekitar tahun 2012 mendapatkan bantuan alat pembuat mie. Lalu diparktekkan, dan gagal dalam membuat mie, sebanyak 250 kg tepung mocaf rusak pas awal pembuatannya," tutur Suti.

Setelah beberapa kali mencari formula yang pas untuk bahan mie, maka jadilah mie mocaf dengan campuran terigu dan berbagai macam bahan lainnya. Lalu dirinya ditemui beberapa orang tua yang memiliki anak autis, agar dibuatkan mie yang berbahan mocaf tanpa ada campuran tepung terigu.

Baca juga: Sebelum ke Pantai Gunungkidul, Jajan Dulu di Pasar Digital Ngingrong

Pihaknya mendapat dampingan dari Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Yogyakarta di Desa Gading, Playen. Dampingan yang diberikan LIPI terutama dalam hal pembuatan serbuk bumbu.

"Setelah beberapa kali gagal, saya meminta masukan dari LIPI dan disarankan membuat dengan komposisi saya sendiri. Lalu dengan komposisi saya tanpa menggunakan bahan kimia dan ternyata berhasil. Kami ada 3 jenis mie instan yaitu mie rebus yang harus dimasak menggunakan bumbu sendiri, lalu mie instan seperti pada umumnya bumbu sudah kami sediakan, yang ketiga adalah mie instan dengan menggunakan cup yang diseduh. Untuk harganya satu cup mie Rp 6.000," ucapnya.

Saat Kompas.com mencoba membuat mie cup dengan label 'Ayo Mie' memang agak lama dibandingkan dengan mie instan produsen besar. Harus beberapa kali diaduk untuk mendapatkan tingkat kematangan mie yang diharapkan. Setelah mencoba, tekstur mie lebih kenyal. Kuahnya lebih bening tidak pekat, dan segar. Di tenggorokan pun setelah makan tidak ada rasa gurih yang tertinggal.

"Lebih segar dibandingkan mie instan biasa," kata Wisang, salah seorang warga Bantul.



Close Ads X