Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Legenda Raja Terakhir Majapahit di Pantai Ngobaran, Gunungkidul

Kompas.com - 21/03/2019, 18:11 WIB
Anggara Wikan Prasetya,
Wahyu Adityo Prodjo

Tim Redaksi

GUNUNGKIDUL, KOMPAS.com Pantai Ngobaran saat ini merupakan  salah satu obyek wisata instagramable di Yogyakarta. Hal itu karena nuansa Pulau Bali yang begitu kental di sana dengan adanya pura dan arca.

Baca juga: Pantai Ngobaran, Sepotong Bali di Selatan Gunungkidul

Pada akhir pekan, pantai ini hampir selalu dikunjungi banyak wisatawan. Kebanyakan di antara mereka ingin berfoto dengan latar belakang arsitektur khas Pulau Dewata itu.

Tidak hanya wisatawan biasa, Pantai Ngobaran pun merupakan spot favorit para fotografer untuk hunting foto. Dengan komposisi yang pas, hasil jepretan di pantai ini akan begitu unik dan indah.

Namun Pantai Ngobaran ternyata tidak hanya menyimpan keindahan dan keunikan semata. Ada legenda yang menjadi latar belakang penamaan Ngobaran pada pantai ini. Konon legenda Pantai Ngobaran ini berhubungan dengan Raja Terakhir Majapahit, Prabu Brawijaya V.

Legenda Bakar Diri Prabu Brawijaya V di Pantai Ngobaran

Dahulu kisah legenda Prabu Brawijaya V dituliskan di sebuah papan yang ada di Pantai Ngobaran. Namun saat Kompas.com berkunjung kembali Hari Sabtu (02/02/2019) silam, papan legenda itu sudah tidak ada.

Akan tetapi legenda tentang Pantai Ngobaran masih bisa didapatkan dari masyarakat sekitar yang sudah lama tinggal di sana.

Baca juga: 4 Keunikan yang Bisa Ditemui di Pantai Ngobaran, Gunungkidul

Dikisahkan Prabu Brawijaya V adakah keturunan terakhir Raja Majapahit (1464-1478 masehi) yang melarikan diri dari istana bersama kedua istrinya bernama Bondan Surati (istri pertama) dan Dewi Lowati (istri kedua).

Konon kepergian Sang Prabu adalah untuk menghindari konflik dengan putranya sendiri yang merupakan raja pertama Demak, Raden Patah. Prabu Brawijaya V dan dua istrinya mengembara di daerah pedalaman dan pesisir.

Tempat Ziarah Kepada Prabu Brawijaya V di Pantai Ngobaran Gunungkidul.Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya Tempat Ziarah Kepada Prabu Brawijaya V di Pantai Ngobaran Gunungkidul.
Setibanya di pantai yang saat ini bernama Ngobaran, mereka menemui jalan buntu. Laut selatan yang ombaknya ganas membuat mereka tidak tahu lagi harus ke mana. Akhirnya Sang Prabu pun memutuskan untuk melakukan bakar diri.

Sebelum masuk ke dalam kobaran api yang sudah disiapkan, terlebih dahulu Prabu Brawijaya V menanyakan sesuatu kepada kedua istrinya.

Baca juga: 4 Aktivitas Seru di Pantai Ngobaran, Gunungkidul

“Wahai para istriku. Siapa di antara kalian yang paling besar cintanya padaku,” tanya Sang Prabu.

Dewi Lowati pun menjawab jika cintanya kepada Sang Prabu adalah sebesar gunung. Sementara itu, Bondan Surati memberikan jawaban yang berbeda.

“Cinta saya kepada Tuan Prabu Brawijaya V sama seperti kuku hitam. Setiap selesai dipotong pasti akan tumbuh kembali,” Jawab Bondan Surati kepada suaminya. Jawaban itu bermakna, jika cinta itu hilang, maka akan tumbuh lagi.

Pantai Ngobaran, Gunungkidul, Yogyakarta.Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya Pantai Ngobaran, Gunungkidul, Yogyakarta.
Setelah mengetahui jawaban kedua istrinya, Sang Prabu kemudian menarik tangan Dewi Lowati kemudian masuk ke dalam kobaran api itu. Keduanya pun meninggal dalam kobaran api.

Prabu Brawijaya V memilih Dewi Lowati karena menganggap cinta istri keduanya itu lebih kecil dibandingkan istri pertamanya. Peristiwa bakar dirir inilah yang menjadi asal penamaan Ngobaran dari kata kobaran.

Baca juga: 4 Aktivitas Seru di Pantai Ngobaran, Gunungkidul

Itulah legenda penamaan Ngobaran di pantai ini. Meski demikian, kebenaran kisah legenda ini masih diragukan karena diyakini Prabu Brawijaya V mokswa (meninggal dengan jasad yang turut menghilang) di Gunung Lawu.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Cara Berkunjung ke Koryu Space Japan Foundation, Gratis Masuk

Cara Berkunjung ke Koryu Space Japan Foundation, Gratis Masuk

Travel Tips
Traveler Wajib Tahu, Ini Kelebihan E-Paspor ketimbang Paspor Biasa

Traveler Wajib Tahu, Ini Kelebihan E-Paspor ketimbang Paspor Biasa

BrandzView
Puas dengan Pelayanan, 98 Persen Jemaah Ingin Umrah Kembali Bersama Jejak Imani

Puas dengan Pelayanan, 98 Persen Jemaah Ingin Umrah Kembali Bersama Jejak Imani

Travel Update
Deep and Extreme Indonesia 2024 Digelar mulai Kamis Ini di JCC Senayan

Deep and Extreme Indonesia 2024 Digelar mulai Kamis Ini di JCC Senayan

Travel Update
Pertemuan Asosiasi Pemda di Asia Pasifik Digelar Bersama Likupang Tourism Festival 2024

Pertemuan Asosiasi Pemda di Asia Pasifik Digelar Bersama Likupang Tourism Festival 2024

Travel Update
Desainer Indonesia Akan Pamer Kain dan Batik di Italia Bulan Depan

Desainer Indonesia Akan Pamer Kain dan Batik di Italia Bulan Depan

Travel Update
4 Tips Berkunjung ke Pasar Antik Cikapundung, Siapkan Uang Tunai

4 Tips Berkunjung ke Pasar Antik Cikapundung, Siapkan Uang Tunai

Jalan Jalan
Pasar Antik Cikapundung, Tempat Pencinta Barang Lawas di Bandung

Pasar Antik Cikapundung, Tempat Pencinta Barang Lawas di Bandung

Jalan Jalan
KONI Dorong Kota Malang Menjadi Destinasi Sport Tourism

KONI Dorong Kota Malang Menjadi Destinasi Sport Tourism

Travel Update
Koryu Space Japan Foundation: Lokasi, Jam Buka, dan Harga Tiket Masuk

Koryu Space Japan Foundation: Lokasi, Jam Buka, dan Harga Tiket Masuk

Travel Tips
Koryu Space Japan Foundation, Working Space Gratis di Jakarta

Koryu Space Japan Foundation, Working Space Gratis di Jakarta

Travel Update
 Legaran Svarnadvipa di Tanah Datar Sumbar, Pertunjukkan Seni untuk Korban Bencana

Legaran Svarnadvipa di Tanah Datar Sumbar, Pertunjukkan Seni untuk Korban Bencana

Travel Update
Pengalaman ke Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung, Menyejukkan Mata

Pengalaman ke Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung, Menyejukkan Mata

Jalan Jalan
Taman Sejarah Bandung: Daya Tarik, Jam Buka, dan Tiket Masuk

Taman Sejarah Bandung: Daya Tarik, Jam Buka, dan Tiket Masuk

Jalan Jalan
Cara ke Pasar Antik Cikapundung di Bandung Naik DAMRI dan Angkot

Cara ke Pasar Antik Cikapundung di Bandung Naik DAMRI dan Angkot

Travel Tips
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com