Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemenpar Dukung Penuh Pengembangan Pariwisata NTT

Kompas.com - 27/03/2019, 15:08 WIB
Sigiranus Marutho Bere,
I Made Asdhiana

Tim Redaksi

KUPANG, KOMPAS.com - Deputi Pemasaran II Kementerian Pariwisata, Nia Niscaya mengungkapkan, pariwisata di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertumbuh dan berkembang pesat.

Menurutnya, minat para wisatawan mancanegara (wisman) untuk mengunjungi NTT terus meningkat dari tahun ke tahun. Kementerian Pariwisata siap untuk mendukung penuh pengembangan pariwisata di NTT.

Komodo sudah menjadi top of mind-nya wisatawan. Kalau kita lihat dari sisi wismannya, yang ke Komodo kebanyakan orang-orang berduit. Dari Australia dan Eropa. Komodo memang sesuatu yang sangat dicari karena menawarkan petualangan wisata yang unik,” kata Nia saat mendampingi Kunjungan Kerja (Kunker) Spesifik Bidang Pariwisata Komisi X DPR RI, ke Kota Kupang, Rabu (27/3/2019).

Baca juga: Berlibur ke NTT, Jangan Lupa ke Atambua!

Dua orang Anggota DPR Komisi X yang melakukan kunjungan kerja yakni Anitah Gah (Fraksi Demokrat) dan Mustafa Kamal (Fraksi PKS). Keduanya diterima Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi di Ruang Rapat Gubernur, Selasa pagi.

Menurut Nia, dengan fungsi Kementerian Pariwisata yang lebih besar menitikberatkan kepada pemasaran dan penjualan obyek-obyek pariwisata, NTT selalu mendapat perhatian dan menjadi salah satu daerah prioritas bersama Bali.

Baca juga: Asita NTT Dukung Pemerintah Tutup Pulau Komodo

Kementerian Pariwisata, lanjut Nia, mendukung penuh pengembangan pariwisata NTT.

Anggota DPR Komisi X dan Perjabat dari Kementerian Pariwisata, saat bertemu dengan Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi di Kupang, Selasa (26/3/2019).ARSIP HUMAS PEMPROV NTT Anggota DPR Komisi X dan Perjabat dari Kementerian Pariwisata, saat bertemu dengan Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi di Kupang, Selasa (26/3/2019).
“NTT sudah ada di benak kami. Boleh searching atau googling iklan-iklan kami di luar negeri, pasti ada komodonya. Di bus-bus pariwisata kami di luar negeri, pasti ada gambar Komodo. Kalau ada festival-festival pariwisata kami akan siap membantu dari pre (sebelum), on (saat berlangsung) dan post (sesudah) kegiatan," ujarnya.

"Untuk pre, baiknya kami dikirim video atau foto dengan resolusi tinggi untuk promosi ke seluruh sosial media dan ofisial website. Ketika on, kami siap mendatangkan tour operator dan media dari negara-negara fokus pasar. Tinggal sebut saja, butuh dari negara mana. Kami akan siapkan semua kebutuhan dan kami pastikan mereka akan beritakan kegiatan itu. Sesudah kegiatan, kami juga terus akan promosikan, supaya orang ingat dan akan datang lagi. Kami juga punya dana dekonsentrasi untuk NTT untuk promosi,” papar Nia yang menangani pemasaran pariwisata di Eropa,Timur Tengah, Afrika Asia Pasifik dan Amerika.

Baca juga: 7 Festival di NTT untuk Menarik Wisatawan

Terkait dengan wacana penutupan Pulau Komodo, Nia menjelaskan seiring dengan penjelasan terperinci dan terus menerus tentang manfaat penutupan tersebut, semakin banyak orang yang mengerti dan memahami manfaatnya. Wisatawan masih bisa melihat Komodo di Pulau Rinca dan Pulau Padar.

“Saya pikir dalam konsep suistanable tourism (pariwisata berkelanjutan), kalau konservasi menjadi pertimbangan, saya kira banyak orang yang akan terima. Yang paling terekspos oleh Kementerian Pariwisata selain Bali adalah Komodo karena telah menjadi ikon pariwisata NTT,” kata Nia.

Sementara itu, Ketua Tim kunjungan kerja DPR, Anita Gah, mengungkapkan, tujuan kunjungan kerja DPR adalah untuk dapatkan data empiris guna pengambilan kebijakan serta langkah strategis pengembangan pariwisata di NTT. Khususnya untuk melihat aspek amenitas, aksesibilitas, atraksi dan juga dampak bencana alam bagi pariwisata.

Wisatawan bersantai di atas kapal semi phinisi Wae Rebo di Pelabuhan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.Kompas.com/SHERLY PUSPITA Wisatawan bersantai di atas kapal semi phinisi Wae Rebo di Pelabuhan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.
Bencana alam merupakan hal yang harus diperhitungkan dalam pengembangan pariwisata.

Pemerintah, lanjut Anita, telah merevisi target perolehan devisa dari pariwisata tahun 2019 dari 20 miliar dollar AS menjadi 17,6 miliar dollar AS.

Hal ini didasarkan pada pengalaman tahun 2018 di mana kunjungan wisatawan tidak mencapai target karena faktor bencana alam ini. Banyak negara yang membatalkan perjalananan warganya ke Indonesia karena takut terdampak bencana.

DPR khususnya Komis X, lanjut Anita, sangat mendukung dan mendorong pengembangan pariwisata di NTT. NTT punya potensi pariwisata yang luar biasa baik alam, budaya maupun wisata baharinya.

“Kami butuh data yang riil mengenai pengembangan destinasi pariwisata dari kabupaten/kota. Kami mengapresiasi kepada pemerintah provinsi yang lebih fokus meningkatkan pengembangan pariwisata. Komisi X tidak mau berjanji, tapi kami berkomitmen NTT jadi salah satu prioritas penganggaran untuk pariwisata tahun 2020,” jelas Anita.

Air Terjun Wai Marang di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.KOMPAS.com/SILVITA AGMASARI Air Terjun Wai Marang di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.
Menanggapi hal itu, Wakil Gubernur NTT Josef A. Nae Soi menegaskan, pemprov telah menetapkan pariwisata sebagai prime mover ekonomi NTT. Langkah-langkah nyata telah mulai dibuat oleh pemprov di antaranya pemberlakuan English Day. Juga upaya untuk melakukan konservasi terhadap Komodo dengan menutup Pulau Komodo selama setahun.

“Orang dari seluruh dunia mau lihat Komodo yang asli. Kita mau kembalikan habitat Komodo ke habitat semula. Komodo yang asli, begitu lihat mangsanya, dia langsung kejar, liar dan buas. Juga kita ingin kembalikan ekosistem dan rantai makanan di Pulau Komodo. Kemudian kita jual ke dunia dengan sistem kuota. Kalau mau liat yang asli, bayarnya harus mahal,” kata Josef Nae Soi.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com