Biar Tamu Betah, Tuan Rumah Akomodasi Wisatawan Bisa Mencoba Ini

Kompas.com - 11/04/2019, 19:08 WIB
Homestay di kawasan Geopark Ciletuh, ramai disewa saat akhir pekan dan libur sekolah, Sabtu (23/6/2018).KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Homestay di kawasan Geopark Ciletuh, ramai disewa saat akhir pekan dan libur sekolah, Sabtu (23/6/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pilihan akomodasi untuk wisatawan kini kian beragam. Tak lagi operator hotel, bahkan perorangan dapat mengelola akomodasi untuk disewakan kepada wisatawan.

Ternyata peran tuan rumah yang mengelola akomodasi terbilang penting bagi wisatawan. Lewat survei yang dilakukan situs pemesanan akomodasi Booking.com terhadap 21.500 traveler global, menemukan 63 persen responden percaya bahwa masa inap mereka jadi lebih baik karena tuan rumah yang mengelola akomodasi.

"Karena perjalanan memiliki banyak elemen, tidak ada satu pendekatan yang tepat untuk menyediakan semua kebutuhan traveler yang berbeda-beda. Penelitian kami mengungkapkan betapa pentingnya bagi pemilik dan manajer akomodasi untuk mendapatkan keseimbangan yang tepat, demi memastikan pengalaman menginap yang paling berkesan. Baik di rumah, apartemen, guesthouse, atau jenis properti lainnya,” kata Vice President di Booking.com, Olivier Grémillon, sesuai siaran pers yang diterima KompasTravel, Selasa (9/4/2019).

Baca juga: Sejarah Hotel Kapsul, Berawal dari Jepang, Kini Ada di Indonesia

Ada beberapa sikap dari tuan rumah akomodasi yang dianggap dapat memberi kesan baik bagi wisatawan. Seperti 75 persen responden berharap dapat bertemu seseorang yang ramah pada saat kedatangan di akomodasi, disambut dengan senyum yang hangat.

Menawarkan sentuhan pribadi, seperti menghidangkan makanan lezat setempat, juga dapat membuat perbedaan besar. Tambahan seperti teh, kopi, dan makanan dapat membantu 45 persen responden merasa nyaman dengan lingkungan baru mereka.

Ali (kaos putih) bersama ayahnya di depan homestay miliknya. Mereka adalah keluarga penambanh belerang yang mendirikan homestau untuk wisatawan yang berkunjung ke Gunung IjenKOMPAS.COM/Ira Rachmawati Ali (kaos putih) bersama ayahnya di depan homestay miliknya. Mereka adalah keluarga penambanh belerang yang mendirikan homestau untuk wisatawan yang berkunjung ke Gunung Ijen

Uniknya setiap negara memiliki bentuk keramahan yang berbeda. Misalnya tuan rumah akomodasi di India (84 persen), Kolombia (80 persen) dan Brasil (80 persen) merasa bahwa memastikan tamu diberi makan yang cukup adalah kuncinya. Jumlah ini dibandingkan dengan rata-rata global 69 persen.

Sedangkan Thailand (74 persen) dan China (60 persen) merasa penting untuk membuat
tamu mereka tetap terhibur, dibandingkan dengan rata-rata global 46 persen.

Sementara, 79 persen tuan rumah di Italia senang menambah sentuhan personal kecil dengan menciptakan suasana hangat, seperti mengatur perapian atau ruangan yang diterangi lilin, jika dibandingkan dengan rata-rata global 68 persen.

"Di Booking.com, kami percaya pada individualitas dan fakta bahwa masa inap yang sempurna mungkin terlihat berbeda untuk semua orang. Namun ada satu hal yang sangat jelas.

Tidak masalah apakah traveler ingin merasa seperti di rumah sendiri, merangkul budaya lokal, menikmati kedamaian dan ketenangan, atau sekadar melarikan diri sejenak, kekuatan tuan rumah sangat penting untuk membuat pengalaman menginap menjadi pengalaman yang tak terlupakan," kata Gremillon.




Close Ads X