Kompas.com - 23/04/2019, 09:00 WIB

Di sini, Anda bisa melihat beberapa gadis yang sedang belajar menenun bersama ibunya menjelang pernikahan atau pada usia 20 tahunan. Kegiatan ini dilakukan karena penenun di Desa Pajam menguasai keterampilan menenun secara turun-temurun.

Anda bisa membeli kain khas ini sebagai oleh-oleh atau untuk dipakai sendiri. Harga yang ditawarkan berkisar Rp 300.000 hingga jutaan rupiah, tergantung motif dan jenis tenunnya.

3. Desa Liya Togo

Berada di sisi selatan Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, Desa Liya Tago menyuguhkan sejumlah pepohonan singkong, kedondong, dan juga asam yang tumbuh di sela-sela batuan, hanya beberapa putuh meter dari pantai.

Desa ini merupakan daerah penghasil bahan baku makanan tradisional khas Wakatobi. Singkong adalah bahan baku untuk membuat kasomi, sementara kedondong untuk membuat perende, sejenis sayur asam.

Baca juga: Meriahnya Parade Kebudayaan Bahari Masyarakat Wakatobi

Jika ingin berkunjung ke sini, Anda diwajibkan mengenakan sarung dari kain tenun khas setempat. Penggunaan sarung untuk pria berbeda dengan wanita.

Pria wajib mengenakan sarung layaknya tradisi melayu, namun dengan ukuran yang lebih panjang sampai bawah lutut. Sementara untuk wanita diperkenankan menggunakan satung itu dengan mengikatnya di salah satu bahu.

4. Puncak Jamakara

Puncak Jamakara, Kecamatan Kaledupa, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.Teresia Prahesti Puncak Jamakara, Kecamatan Kaledupa, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Puncak Jamakara berada di kawasan Pajam, Kaledupa. Untuk dapat ke sini, Anda akan menempuh perjalanan selama 30 menit dari Desa Ambeua Raya.

Untuk dapat ke puncak, pengunjung harus berjalan kaki dari batas Desa Wadur lantaran melewati Benteng Palea yang dibangun pada masa pemerintahan Kesultanan Buton pada pertengahan abad XVI tahun 1531.

Pengunjung dilarang memakai busana berwarna mencolok pada hari-hari tertentu. Juga tidak diperkenankan menggunakan payun dan tidak bicara dengan suara nyaring.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.