Kompas.com - 02/05/2019, 11:10 WIB

Menurut Yosef, lebih dari itu ia tujuan pendirian kelompok sanggar untuk melestarikan tradisi menenun yang diwariskan dari nenek moyang.

"Awalnya sanggar ini memang berdiri untuk melestarikan proses kain tenun ikat secara tradisional. Khusus itu saja," tutur Yosef.

Ia melanjutkan, lokasi awal kelompok tenun itu berada di puncak pegunungan Baomekot, tetapi karena masalah keamanan tidak menjamin, lokasinya pindah ke Dusun Watublapi, Desa Kajowair, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka.

Karena kelompok sanggar sudah mulai berkembang, sejak tahun 1988, sanggar budaya Bliran Sina bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka untuk menambah modal usaha. Apalagi usaha itu fokus di pengembangan wisata.

"Sejak tahun 1988 sampai 1991 lebih banyak kapal-kapal pesiar dan dinas pariwisata yang berkunjung. Itu satu bulan satu kapal pesiar yang datang bekunjung dengan jumlah banyak," kata Yosef.

Ia mengungkapkan, sejak Romanus meninggal pada tahun 1991, sanggar itu sempat 3 bulan vakum karena tidak ada yang memimpin. Akibatnya pengelolaan sanggar diserahkan ke desa. Desa mengelola sanggar selama 6 bulan.

Anggota Sanggar Bliran Sina di Kabupaten Sikka, Flores, NTT, bersama Ketua sanggar budaya Bliran Sina, Yosef Gervasius (kedua dari kanan), Senin (29/4/2019). KOMPAS.com/NANSIANUS TARIS Anggota Sanggar Bliran Sina di Kabupaten Sikka, Flores, NTT, bersama Ketua sanggar budaya Bliran Sina, Yosef Gervasius (kedua dari kanan), Senin (29/4/2019).
"Waktu itu kami semua anaknya berada di luar daerah. Setelah kami pulang, lalu sanggar ini diserahkan kepada anak pertama, namanya Alfonsus Ratas Boneo. Setelah 5 tahun, sanggar ini pindah lagi ke Damian David. Kemudian setelah itu ia pindah dan buat group sanggar tersendiri dan akhirnya sejak tahun 2014 yang lalu saya yang pimpin sanggar ini," tutur Yosef.

Ia menegaskan bahwa konsep awal sanggar budaya Bliran Sina adalah sebagai salah obyek wisata hanya mempromosikan kain tenun ikat.

Namun Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka menyarankan agar selain mempromosikan kain tenun ikat, sanggar juga menyiapkan tarian dan musik tradisional agar lebih menarik para pengunjung.

Sanggar akhirnya pun mencoba dengan tarian dan musik tradisional. Sejak saat itu jumlah pengunjung dari tahun ke tahun pun mengalami peningkatan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.