Mudik Lewat Ambarawa? Coba Jajal Kereta Kayu Tua Bermesin Diesel

Kompas.com - 28/05/2019, 21:07 WIB
Lokomotif uap B 5112 yang melintasi Danau Rawa Pening di Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, menarik gerbong kereta wisata dari Stasiun Ambarawa menuju Stasiun Tuntang, Sabtu (24/9/2016). Lokomotif buatan pabrik Hannoversche Maschinenbau AG di Jerman tahun 1902 itu menjadi salah satu daya tarik wisata utama Museum Kereta Api Ambarawa. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKOLokomotif uap B 5112 yang melintasi Danau Rawa Pening di Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, menarik gerbong kereta wisata dari Stasiun Ambarawa menuju Stasiun Tuntang, Sabtu (24/9/2016). Lokomotif buatan pabrik Hannoversche Maschinenbau AG di Jerman tahun 1902 itu menjadi salah satu daya tarik wisata utama Museum Kereta Api Ambarawa.

JAKARTA, KOMPAS.com - Selain mengelola kereta api wisata antar kota, PT Kereta Api Pariwisata juga mengelola kereta api wisata jarak pendek, yakni kereta api Ambarawa-Tuntang. Kereta ini beroperasi dari Museum Kereta Api Ambarawa, Jawa Tengah.

Kereta api ini terbilang menarik, lantaran ada dari sejak tahun 1970an. Menggunakan mesin diesel dan badan kereta terbuat dari kayu. Inilah kereta lawas yang masih dioperasikan di Indonesia.

"Sensasi naik kereta kuno yang tidak lagi beroperasi, hanya satu satunya di Indonesia. Di perjalanan melewati (tepi) Danau Rawa Pening memang pemandangannyaa bagus sekali," kata
Direktur Utama PT Kereta Api Pariwisata, Totok Suryono di acara jumpa pers Stasiun Gambir, Jakarta, Senin (27/5/2019).

Baca juga: KA Pariwisata Ditunjuk Kelola Lawang Sewu dan Museum KA Ambarawa

Kereta api diesel Ambarawa-Tuntang akan membawa penumpang menempuh jarak sekitar empat kilometer, dengan waktu tempuh 20 menit.

Dalam satu hari kereta api ini hanya dapat melayani empat perjalanan bolak balik, disebabkan mesin yang sudah berumur. Dalam sekali perjalanan bolak-balik hanya dapat mengangkut 40 penumpang. Jadi perhari total penumpang yang dapat diangkut hanya 200 orang.

"Padahal saat musim mudik ini minat penumpang sangat besar, sampai ribuan orang. Kami sampai kewalahan," jelas Totok.

Untuk memaksimalkan pengalaman penumoang, kereta api diesel yang pada hari biasa hanya beroperasi pada Sabtu dan Minggu, di musim mudik Lebaran beroperasi setiap hari dari 6-12 Juni 2019.

Baca juga: Benteng Pendem Ambarawa, Saksi Hidup dari Era Kolonial Belanda

Tiket kereta api sebesar Rp 50.000 per orang dapat dibeli di loket museum langsung. Saran KompasTravel datanglah pagi hari jika ingin mendapat tiket kereta api diesel ini.

Selain kereta api diesel, ada satu kereta antik lain yang masih bisa beroperasi dari Museum Kereta Ambarawa. Kereta tersebut adalah kereta api bahan bakar uap buatan Jerman, lokomotif seri B 2502 dan B 2503 yang dibuat Maschinenfabrik Esslingen pada 1890. 

Namun untuk merasakan kereta api ini perlu bujet Rp 15 juta untuk rombongan 80 penumpang, sebab biaya operasional yang tidak murah dan jalur kereta yang menantang, dari Ambarawa ke Stasiun Bedono.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Estimasi Biaya ke Bromo dari Yogyakarta Naik Transportasi Umum

Estimasi Biaya ke Bromo dari Yogyakarta Naik Transportasi Umum

Travel Tips
Berapa Estimasi Biaya dari Jakarta ke Bromo Naik Transportasi Umum?

Berapa Estimasi Biaya dari Jakarta ke Bromo Naik Transportasi Umum?

Travel Tips
Bali Jadi Destinasi Bulan Madu Nomor Satu di Dunia

Bali Jadi Destinasi Bulan Madu Nomor Satu di Dunia

Jalan Jalan
Tren Baru Saat Pandemi: Work From Hotel dan Apartemen

Tren Baru Saat Pandemi: Work From Hotel dan Apartemen

Promo Diskon
Jabar Tetap Terima Wisatawan Saat Libur Panjang, Protokol Kesehatan Diperketat

Jabar Tetap Terima Wisatawan Saat Libur Panjang, Protokol Kesehatan Diperketat

Whats Hot
Ada Imbauan Tidak Wisata ke Puncak Saat Libur Panjang, Ini Kata Kadispar Jabar

Ada Imbauan Tidak Wisata ke Puncak Saat Libur Panjang, Ini Kata Kadispar Jabar

Whats Hot
Air Terjun Sunsa Kompol di Manggarai Barat, Kesegaran di Lereng Gunung Poso Kuwuh

Air Terjun Sunsa Kompol di Manggarai Barat, Kesegaran di Lereng Gunung Poso Kuwuh

Jalan Jalan
Kini, Ada Armada DAMRI ke Pantai Baron dan Gunung Api Purba Nglanggeran

Kini, Ada Armada DAMRI ke Pantai Baron dan Gunung Api Purba Nglanggeran

Jalan Jalan
Mendaki Gunung Gede Pangrango Saat Musim Hujan, Ini Panduannya

Mendaki Gunung Gede Pangrango Saat Musim Hujan, Ini Panduannya

Travel Tips
Benarkah Jepang akan Buka Perbatasan untuk Olimpiade 2021?

Benarkah Jepang akan Buka Perbatasan untuk Olimpiade 2021?

Whats Hot
Hotel Berusia 100 Tahun di New York Tutup akibat Pandemi Corona

Hotel Berusia 100 Tahun di New York Tutup akibat Pandemi Corona

Whats Hot
Panduan Harga Tiket Masuk dan Cara Menuju Desa Wisata Cibuntu

Panduan Harga Tiket Masuk dan Cara Menuju Desa Wisata Cibuntu

Travel Tips
Diskon Wisata ke Wisnus, PHRI: Pemikiran Pemerintah yang Out of The Box

Diskon Wisata ke Wisnus, PHRI: Pemikiran Pemerintah yang Out of The Box

Whats Hot
PHRI Minta Kemenparekraf Kawal Kebijakan Dana Hibah ke Pengusaha Hotel dan Restoran

PHRI Minta Kemenparekraf Kawal Kebijakan Dana Hibah ke Pengusaha Hotel dan Restoran

Whats Hot
PHRI: Langkah Pemerintah Berikan Dana Hibah itu Bagus, Kami Apresiasi

PHRI: Langkah Pemerintah Berikan Dana Hibah itu Bagus, Kami Apresiasi

Whats Hot
komentar di artikel lainnya
Close Ads X