5 Fakta Tentang Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta

Kompas.com - 09/06/2019, 07:39 WIB
Masyarakat Yogyakarta saat antri untuk bersalaman dengan Presiden Joko Widodo dan Iriana Joko Widodo Kontributor Yogyakarta, Wijaya KusumaMasyarakat Yogyakarta saat antri untuk bersalaman dengan Presiden Joko Widodo dan Iriana Joko Widodo

KOMPAS.com – Jumat (7/6/2019) kemarin, Presiden Jokowi mengunjungi kota Yogjakarta. Dalam kunjungannya, Presiden Jokowi sempat singgah ke Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta.

Lokasi Gedung Agung sebenarnya berada di deretan kawasan Malioboro. Namun dibandingkan tempat-tempat lain di sepanjang kawasan Malioboro, tempat ini tak banyak dikenal.

Nah, untuk kamu yang belum tahu soal Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta, berikut KompasTravel merangkum fakta-faktanya:

1. Pernah Menjadi Pusat Pemerintahan Presiden Republik Indonesia

Sejarah Revolusi Indonesia pernah terjadi di Gedung Agung sekitar tahun 1946-1949.

Pada tanggal 4 Januari 1946 Presiden Soekarno, Mohammad Hatta beserta keluarganya dijemput diam-diam dari Jakarta dan dibawa ke Yogyakarta.

Selanjutnya pada tanggal 6 Januari 1946, Yogyakarta resmi menjadi Ibu Kota baru Republik Indonesia dan Gedung Agung menjadi Istana Kepresidenan.

2. Tempat Lahir Megawati Soekarnoputri

Ibu Fatmawati yang merupakan istri dari Presiden Soekarno yang saat itu sedang hamil tua, melahirkan Megawati Soekarnoputri pada Januari 1947 di Gedung Agung Yogyakarta.

3. Memiliki Arsitektur Unik

Istana Kepresidenan Yogyakarta berdiri di atas tanah seluas 4,2 hektar. Tempat ini berhadapan dengan bekas benteng VOC Fort Vredenburg di tepi jalan Jendral Ahmad Yani.

Saat masuk ke  pintu gerbang utama, akan terlihat patung raksasa penjaga pintu “Dwarapala” setinggi 2 meter yang berasal dari sebuah biara Candi Kalasan. Juga terdapat Tugu Dagoba (tugu lilin) setinggi 3,5 meter  yang terbuat dari batu andesit.

Arsitektur bangunan memperlihatkan corak paduan desain lokal dan gaya Eropa. Bagian depan berhiaskan arca Jawa.

Gaya Eropa terlihat menonjol pada bangunan Gedung Agung. Terdapat tiang-tiang besar gaya Doria di serambi depan dan ruang makan, cekukan tempat kaca di dinding dan untaian lampu gantung kristal.

Perpaduan dengan unsur Indonesia tampak pada hiasan tembok berupa ornamen kain batik Iwan Tirta yang berhadap-hadapan dengan ukir-ukiran Jepara di ruang makan VVIP.

4. Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Bangsa Indonesia

Pada masa pemerintahan Belanda, Gedung Agung semula merupakan kediaman resmi residen Belanda ke-18 bernama Anthonie Hendriks Smissaert di Yogyakarta (1823-1825).

Pada 1867 saat terjadi gempa bumi, gedung tersebut sempat ambruk, dan dibangun kembali pada 1869.

Pada masa pendudukan Jepang, Gedung Agung menjadi kediaman resmi Koochi Zimmukyoku Tyookan, penguasa tertinggi Jepang di Yogyakarta.

Ketika Karesidenan Yogyakarta ditingkatkan status administrasinya menjadi provinsi sejak tahun 1927, gedung itu kemudian berubah julukan menjadi Gubernuran atau Loji Gubernur.

Gedung itu kemudian berubah julukan menjadi Presidenan ketika Presiden Soekarno dan keluarganya tinggal di sana.

5. Terdapat Beberapa Ruang

Presiden Joko Widodo memimpin pertemuan trilateral dengan Malaysia dan Filipina di Gedung Agung, Yogyakarta, Kamis (5/5/2016). Pertemuan membahas keamanan perairan, terorisme, dan kejahatan transnasional.Biro Pers Istana Kepresidenan-Setpres Presiden Joko Widodo memimpin pertemuan trilateral dengan Malaysia dan Filipina di Gedung Agung, Yogyakarta, Kamis (5/5/2016). Pertemuan membahas keamanan perairan, terorisme, dan kejahatan transnasional.

Di Gedung Agung Yogyakarta terdapat beberapa ruang penting yakni Ruang Garuda, Ruang Diponegoro, dan Ruang Soedirman.

Ruang Garuda merupakan tempat menyambut tamu kenegaraan. Di ruangan ini,  Kabinet Republik Indonesia dilantik tatkala Ibu Kota negara berpindah ke Yogyakarta.

Ruang itu juga dijadikan tempat sidang kabinet, pelantikan Jendral Soedirman sebagai Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (3 Juni 1947) serta pelantikannya sebagai Pucuk Pimpinan Angkatan Perang Republik Indonesia (3 Juli 1947).

Pada Ruang Soedirman, digunakan untuk mengenang perjuangan Jendral Soedirman saat melawan Belanda. Di ruangan ini pulalah dulunya Jendral Soedirman pamit untuk melakukan perang gerilya.

Ruang Diponegoro digunakan untuk mengingat kembali perjuangan Diponegoro saat melawan penjajah. Di ruangan ini digantung lukisan Pangeran Diponegoro yang sedang berkuda.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X