Kompas.com - 10/06/2019, 15:03 WIB


BANYUWANGI, KOMPAS.com - Kabupaten Banyuwangi yang terletak di paling ujung timur Pulau Jawa memang terkenal akan kekayaan budayanya seperti ragam ritual dan tari-tarian khas, sehingga kerap menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan yang berlibur dan mudik di sana atau sekadar singgah untuk istirahat.

Tak terkecuali saat Hari Raya Idul Fitri. Setiap tanggal 2 Syawal atau lebaran hari kedua, warga Desa Kemiren, Kecamatam Glagah, Kabupaten Banyuwangi menggelar ritual tolak bala bernama Barong Ider Bumi yang sudah dilakukan turun-turun sejak ratusan tahun lalu.

Pemilihan 2 Syawal pun bukan tanpa alasan. Dua merupakan simbol dari ciptaan Tuhan yang berpasang-pasangan, seperti laki-laki dan perempuan, ada siang ada malam, dan ada langit yang jumlahnya dua.

"Pelaksanaannya juga tepat jam dua siang. Ini adalah simbol. Termasuk bunga yang digunakan jumlahnya ada sembilan dan uang koinnya total Rp 99.900. Sembilan ini adalah simbol dari Asmaul Husna nama-nama baik dari Allah yang berjumlah 99," kata Serad, salah satu tetua masyarakat Desa Kemiren.

Baca juga: Meriam Karbit Sambut Idul Fitri dari Tepian Sungai Kapuas Pontianak

Ketika perayaan, masyarakat lokal mengarak figur mitologi Bali dan Jawa yang biasa dikenal dengan nama Barong, bertujuan untuk mengusir bencana atau menolak bala sehingga masyarakat bisa hidup aman.

Kemudian diakhiri dengan kenduri massal di sepanjang jalan desa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kenduri atau biasa dikenal dengan sebutan Selamatan dapat diartikan sebagai perjamuan makan untuk memperingati peristiwa, meminta berkah, dan sebagainya.

Barong Ider Bumi yang digelar di Desa Kemiren, Banyuwangi, Senin (26/6/2017).KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Barong Ider Bumi yang digelar di Desa Kemiren, Banyuwangi, Senin (26/6/2017).
Acara Barong Ider Bumi juga diisi oleh berbagai ritual dan kegiatan, salah satunya ritual 'sembur othik-othik', yakni ritual perebutan uang koin yang dicampur beras kuning beserta bunga. Biasanya tradisi ini mendapat disambut meriah oleh anak-anak.

Baca juga: Jelang Idul Fitri, Ada Kontes Ikan Bandeng di Gresik, Ini Juaranya...

Ritual tolak bala ini pun mendapat perhatian Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Dia mengatakan, Banyuwangi konsisten menjaga tradisi warganya sebagai bentuk mempertahankan kearifan lokal.

Anas juga meyakini, kearifan lokal yang dibangun para leluhur itu dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan alam dan kehidupan warganya.

"Ini adalah cara ‘nguri-nguri’ budaya yang ditradisikan oleh Banyuwangi. Banyuwangi boleh saja maju, Banyuwangi juga boleh berkembang, tapi budaya Banyuwangi tidak boleh tertinggal dari pergaulan global. Oleh karena itu, sesibuk apa pun, kami akan terus menjaga kelestarian budaya, salah satunya lewat balutan festival semacam ini," kata Anas.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.