Pecinta Makanan Pedas, Taukah Kamu dari Mana Cabai Berasal?

Kompas.com - 12/06/2019, 21:10 WIB
Ilustrasi makan cabai shutterstockIlustrasi makan cabai

KOMPAS.com – Pecinta makanan pedas, bayangkan jika saat ini di depanmu ada sepotong ayam goreng yang baru saja matang, sepiring nasi hangat, dan sayuran lalap. Tentu sangat nikmat rasanya jika makanan-makanan ini disantap dengan sambal cabai rawit yang pedas dan menggugah selera.

Sebagian masyarakat Indonesia memang menyukai berbagai masakan bercita rasa pedas. Tak heran jika saat ini warung makan yang menajikan makanan dengan level pedas sesuai selera kian menjamur.

Baca juga: Siap Berkeringat dengan Cabai-cabaian? Coba Makanan Ini

Rasa pedas pada makanan dapat dihasilkan dari banyak bahan, diantaranya lada dan cabai. Namun cabai merupakan bahan yang lebih umum dan banyak digemari masyarakat Indonesia, mungkin termasuk Kamu.

Cabai sendiri merupakan buah pedas dari tanaman genus Capsicum yang memiliki banyak jenis. Beberapa di antaranya  adalah cabai rawit (Capsicum frutescens), cabai merah dan cabai keriting (Capsicum annum L) serta cabai hijau (Capsicum annum var. annuum)

Tapi taukah Kamu darimana cabai berasal?

ilustrasi cabaishutterstock ilustrasi cabai

Menurut Sejarawan Kuliner, Fadly Rahman, meski telah melekat sebagai bahan pokok kuliner Indonesia, ternyata cabai bukanlah tanaman asli Indonesia.

“Si pedas ini (cabai) mulanya berasal dari Benua Amerika dan dibawa masuk bersama sekitar 2000-an jenis tumbuhan lainnya pada abad ke-16 oleh para pelaut Portugis dan Spanyol ke Asia Tenggara. Di Benua Amerika dan lalu diserap ke dalam kosakata Inggris, cabai sendiri disebut dengan nama chili,” kata Fadly.

Lantas darimana kata cabai itu berasal?

Menurut Fadly, sebelum chilli dari Benua Amerika masuk ke Indonesia, ternyata masyarakat Nusantara telah mengenal tanaman bernama cabya yang memiliki nama latin Piper retrofractum vahl. Cabya merupakan jenis tanaman dari genus lada dan sirih-sirihan yang punya sifat sebagai rempah pemedas untuk mengolah makanan.

“Merujuk pada Kamus Jawa Kuna - Indonesia dari Zoetmulder dan Robson (1997) serta riset arkeologis Timbul Haryono dalam Inventarisasi Makanan dan Minuman dalam Sumber-Sumber Arkeologi Tertulis (1997), kata cabya telah disebut-sebut dalam beberapa prasasti dan naskah kuna di Jawa dari abad ke-10 M,” lanjutnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X