Seperti Ini Tradisi Syawalan Beberapa Daerah di Indonesia

Kompas.com - 15/06/2019, 17:38 WIB
Warga masyarakat dan wisatawan saat berebut gunungan Grebeg Syawal di halaman Masjid Gedhe Kauman. KOMPAS.com / Wijaya Kusuma Warga masyarakat dan wisatawan saat berebut gunungan Grebeg Syawal di halaman Masjid Gedhe Kauman.

KOMPAS.com – Indonesia terdiri dari beberapa pulau dan daerah yang memiliki berbagai adat istiadat dan tradisi yang berbeda-beda.

Perbedaan ini membuat Indonesia menjadi negeri yang unik. Keragaman tradisi ini salah satunya adalah saat menyambut Bulan Syawal.

Berikut Kompas Travel merangkum beberapa tradisi unik di Bulan Syawal yang ada di beberapa daerah di Indonesia:

1. Grebeg Syawal Yogyakarta

Empat ekor gajah dari kebun binatang gembira loka ramaikan Grebeg SyawalKOMPAS.com/Wijaya kusuma Empat ekor gajah dari kebun binatang gembira loka ramaikan Grebeg Syawal

Grebeg Syawal Yogyakarta dimulai sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I sekitar tahun 1725. Grebeg Syawal ini menjadi symbol berpadunya budaya Jawa dan ajaran Islam di Yogyakarta.

Grebeg Syawal Yogyakarta diawali dengan iring-iringan prajurit Kraton Yogyakarta yang mengawal lima gunungan berisi aneka ragam hasil bumi.

Iring-iringan gunungan hasil bumi ini terpecah menuju tiga lokasi perayaan grebeg syawal yaitu di halaman Masjid Gede, Puro Pakualaman dan Kantor Kepatihan Yogyakarta.

2. Grebeg Syawal Kraton Solo

Warga berebutan Gunungan Jalar di Halaman Masjid Agung Solo, Rabu (27/6/2017).KOMPAS.com/M Wismabrata Warga berebutan Gunungan Jalar di Halaman Masjid Agung Solo, Rabu (27/6/2017).

Grebeg Syawal Keraton Solo digelar dengan membawa 2 gunungan berisi hasil bumi dan jajanan pasar seperti yang dilakukan pada Kamis (6/5/2019). Gunungan dibawa dari keraton menuju Masjid Agung Surakarta.

Kedua gunungan tersebut disebut gunungan jaler (laki-laki) dan setri (perempuan). Gunungan jaler dibawa ke Masjid Agung Surakarta, sedangkan gunungan setri dibawa ke Keraton Solo untuk diperebutkan.

Grebeg Syawal Keraton Solo merupakan simbol kehidupan manusia tak pernah lepas dari menyatunya laki-laki dan perempuan.

3. Tradisi Bancaan Kampung Singaraja

Warga Kampung Jawa di Singaraja, Bali, memiliki tradisi bancaan sebagai perayaan Idul Fitri. Tradisi bancaan atau makan bersama telah digelar sejak ratusan tahun lalu.

Dulunya tradisi ini menjadi perekat silahturahim antar-warga Kampung Jawa dan Kerajaan Buleleng. Bancaan dilakukan setelah Shalat Id selesai dilakukan.

Tradisi Bancaan merupakan simbol antar-umat beragama yang saling menghormati. Tradisi ini dilestarikan masyarakat sekitar sebagai warisan budaya.

4. Barong Ider Bumi Banyuwangi

Barong Ider Bumi yang digelar di Desa Kemiren, Banyuwangi, Senin (26/6/2017).KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Barong Ider Bumi yang digelar di Desa Kemiren, Banyuwangi, Senin (26/6/2017).

Setiap tanggal 2 Syawal atau lebaran hari kedua, warga Desa Kemiren, Kecamatam Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jatim, menggelar ritual tolak bala bernama Barong Ider Bumi yang sudah dilakukan turun-turun sejak ratusan tahun lalu.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X