Trem, Transportasi Umum yang Pernah Eksis di Jakarta

Kompas.com - 22/06/2019, 14:07 WIB
Suasana di dalam Stasiun Jakarta Kota di Jakarta Barat, Kamis (7/9/2017). Pada hari libur, jumlah penumpang yang naik dan turun di Stasiun Jakarta Kota mencapai 90.000 orang, dua kali lipat lebih banyak dibandingkan jumlah penumpang pada hari-hari kerja. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGSuasana di dalam Stasiun Jakarta Kota di Jakarta Barat, Kamis (7/9/2017). Pada hari libur, jumlah penumpang yang naik dan turun di Stasiun Jakarta Kota mencapai 90.000 orang, dua kali lipat lebih banyak dibandingkan jumlah penumpang pada hari-hari kerja.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kota-kota tua di dunia, rata rata memiliki sejarah transportasi.umum yang panjang. Trem salah satu moda transportasi umum yang banyak dioperasikan di kota-kota besar. Sampai sekarnag masih ada kota yang mengoperasikan tremnya, misal Istanbul dan San Fransisco.

Jakarta sendiri yang tahun ini berusia 492 tahun, sebenarnya juga pernah punya trem. Sayangnya, kini tak lagi eksis dan hanya ada tinggal catatan sejarah.

Pada buku Tenabang Tempo Doloe karya Abdul Chaer terbitan Masup Jakarta, trem pertama kali hadir pada 1869 dioperasikan dengan tenaga kuda. Barulah pada 1881 trem uap dibawah naungan Stoomiram Mij (maskapai trem uap) dioperasikan dengan rute Glodog, Harmoni, Pasar Baru, Senen, Kramat.

Pada 1897 Electrische Tram Mij (maskapai trem listrik) mulai beroperasi. Pada 1930 perusahaan trem uap dan trem listrik bergabung, dan perlahan trem uap mulai tergantikan trem listrik.

Dahulu trem beroperasi pada zaman Batavia dengan kelas yang dibagi berdasarkan ras.

Trem kelas satu yang terbaik hanya untuk yang berkulit putih seperti orang Belanda dan Eropa lain. Kelas dua diperuntukkan bagi orang Timur Asing seperti Cina dan Arab.

Sementara bumiputera harus naik trem kelas tiga. Setiap kelas dibedakan dengan harga, dengan kelas satu yang termahal dan kelas tiga yang termurah. Sekaya apapun orang bumiputera, Cina, dan Arab, tidak boleh naik trem kelas satu.

Kebijakan Belanda yang diskriminatif ditulis Abdul Chaer tidak hanya diterapkan di transportasi, tetapi juga pada pendidikan atau pemilihan sekolah.

Pada era 1950an, trem sempat menjadi transportasi andalan warga Jakarta. Lantaran trem beroperasi tepat waktu. Sayangnya seiring waktu karena urbanisasi, trem tidak lagi nyaman digunakan karena terlalu ramai.

Padatnya penumpang trem dimanfaatkan oleh para pencopet untuk mengambil berbagai barang penumpang. Selain itu Jakarta yang kian hari kian macet, membuat jalur trem terganggu. Akhirnya pada awal 1960an trem tidak lagi beroperasi di Jakarta.

Usai sudah nasib trem, digantikan dengan bus-bus kota dibawah perusahaan Bataviaasche Vervoer Maatschappij (BVM yang juga menaungi trem) atau setelah nasionalisasi disebut PPD (Perusahaan Penumpang Djakarta).

Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X