5 Fakta Seputar Sawahlunto yang Masuk Nominasi Situs Warisan Dunia

Kompas.com - 27/06/2019, 11:28 WIB
Wisatawan memasuki Lubang Mbah Suro yang merupakan salah satu peninggalan kegiatan tambang batubara di Sawahlunto, Sumatera Barat, Sabtu (30/5). KOMPAS/ISMAIL ZAKARIAWisatawan memasuki Lubang Mbah Suro yang merupakan salah satu peninggalan kegiatan tambang batubara di Sawahlunto, Sumatera Barat, Sabtu (30/5).

KOMPAS.com – Kabar baik untuk masyarakat Indonesia. Karena, salah satu kota di Provinsi Sumatera Barat, Sawahlunto menjadi salah satu di antara 44 nominasi destinasi untuk daftar Situs Warisan Dunia UNESCO 2019.

Hal ini diputuskan melalui musyawarah komite yang bertanggung jawab atas daftar nominasi Situs Warisan Dunia UNESCO 2019 yang dilakukan selama 11 hari di Kota Baku, Azerbaijan. Saat ini telah ada 1.092 situs dari 167 negara yang telah masuk dalam daftar tersebut.

Tahun 2019 ini, ada tiga kategori yang berbeda dalam daftar nominasi tersebut. Kategori pertama adalah situs alam. Kategori kedua adalah situs budaya, dan yang ketiga ialah gabungan antara unsur budaya dan alam.

Menurut keterangan di situs web resmi UNESCO, Sawahlunto merupakan kota penambangan batubara tertua di Asia Tenggara. Namun nama Sawahlunto agaknya masih jarang terdengar, bahkan oleh masyarakat Indonesia sendiri.

Berikut KompasTravel merangkum 5 fakta seputar Sawahlunto.

Kota Sawahlunto di Provinsi Sumatera Barat.Shutterstock Kota Sawahlunto di Provinsi Sumatera Barat.

1. Berhawa Sejuk

Berkeliling sejak pagi hingga siang hari, di bawah teriknya matahari musim kemarau terasa sejuk sebab Sawahlunto berada di antara pegunungan Bukit Barisan yang rimbun sehingga disebut juga ”Kota Kuali”.

Kota Sawahlunto memiliki luas 273,45 kilometer persegi yang 26,5 persen kawasannya merupakan area perbukitan yang ditutupi hutan lindung. Seperti halnya daerah lain di Sumatera Barat, Sawahlunto memiliki iklim tropis dengan kisaran suhu minimum 22,5 derajat celcius.

Selain udaranya yang sejuk, di kota ini kamu dapat melihat indahnya danau yang terbentuk dari bekas galian tambang batubara.

Patung orang rantai terpasang di kompleks Museum Tambang Lobang Mbah Soero yang merupakan tambang pertama Belanda di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA Patung orang rantai terpasang di kompleks Museum Tambang Lobang Mbah Soero yang merupakan tambang pertama Belanda di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

2. Disebut Kota Arang

Sawahlunto, dulu dikenal sebagai "Kota Arang" sebab menghasilkan batubara sumber energi. Hal ini juga ditandai dengan didirikannya patung orang rantai terpasang di kompleks Museum Tambang Lobang Mbah Soero yang merupakan tambang pertama Belanda di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

Bukan hanya batubara, di kompleks museum ini kamu juga bisa melihat kereta api pengangkut batubara dari lubang ke tiga silo dengan kereta uap Mak Itam. Sejak 2009 kereta ini menjadi sarana para turis bernostalgia dengan kereta uap dari Sawahlunto-Padang.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X