Doyan Jajan? Catat 8 Camilan Legendaris di Semarang

Kompas.com - 02/07/2019, 17:10 WIB
Pisang plenet kuliner tradisional yang melegenda di Semarang, kini penjualnya hanya sedikit bisa ditemui di Jalan Gajahmada dan Pasar Semawis Pecinan, Semarang, Kamis, (19/7/2018).KOMPAS.com/MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Pisang plenet kuliner tradisional yang melegenda di Semarang, kini penjualnya hanya sedikit bisa ditemui di Jalan Gajahmada dan Pasar Semawis Pecinan, Semarang, Kamis, (19/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Wisata kuliner tak melulu berarti makan makanan berat. Bisa juga diselangi makanan ringan. Contohnya di Semarang, ada banyak camilan yang disukai oleh warga lokal maupun wisatawan.

Uniknya camilan di Semarang rata-rata adalah camilan zaman dulu yang masih bertahan hingga sekarang. Beberapa camilan berikut juga cocok untuk dijadikan oleh-oleh. Berikut berbagai jajanan ringan atau camilan di Semarang:

1. Lumpia Gang Lombok

Lumpia tertua di Semarang yang berusia lebih dari satu abad. Sampai sekarang masih tetap dijaga resep aslinya. Rumah makan juga masih tetap mempertahankan desain lama. Lumpia ini berada di Jalan Gang Lombok Nomor 1, dekat Klenteng Tay Kak Sie.

Tersedia lumpia rebung dengan daging ayam atau udang. Lumpia juga bisa dipilih, goreng atau basah sesuai selera.

2. Leker Paimo

Jika ingin jajan leker ini pastikan punya waktu yang luang. Sebab antreannya terbilang sangat panjang. Leker Paimo sudah ada sejak 1978 dan sekarang berjualan di depan SMA Kolese Loyola, Jalan Karang Anyar Nomo 37. Tidak jauh dari rumah makan Asem Asem Koh Liem yang tersohor.

Istimewa dari leker atau camilan garing ini adalah aneka toping kekinian, dari manis sampai gurih. Contohnya topping keju, telor, kornet yang jadi favorit banyak orang.

3. Pisang Plenet

Pisang plenet merupakan camilan berbahan dasar pisang kepok yang dibakar. Uniknya pisang kepok pilihan ini digepengkan terlebih dahulu sebelum dibakar.

Untuk menikmatinya, pisang akan diisi berbagai topping seperti cokelat, gula bubuk, selai nanas, mentega, atau keju. Topping itu pun akan menghiasi lapisan atas pisang yang sudah di tumpuk.

Meski terlihat sederhana, kuliner yang hanya tersisa di beberapa tempat ini masih terus dicari penggemarnya sejak 1960.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X