KILAS

Homestay Berpotensi Dukung Pengembangan Desa Wisata

Kompas.com - 10/07/2019, 11:30 WIB
Homestay di kawasan Geopark Ciletuh, ramai disewa saat akhir pekan dan libur sekolah, Sabtu (23/6/2018). KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIAHomestay di kawasan Geopark Ciletuh, ramai disewa saat akhir pekan dan libur sekolah, Sabtu (23/6/2018).

KOMPAS.com - Untuk terus mengembangkan pariwisata di desa wisata, homestay menjadi salah satu aspek penunjang yang harus dimiliki desa-desa wisata. Pasalnya, homestay memiliki peran penting dalam memberikan pengalaman otentik kepada wisatawan.

Menurut Ketua Tim Percepatan Wisata Pedesaan dan Perkotaan Vitria Ariani, saat menginap di homestay wisatawan akan diajak berbaur dengan masyarakat setempat.

"Ini menjadi pengalaman yang istimewa. Tidak bisa ditemukan di negara atau daerah asalnya," tutur Vitria dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (10/7/2019).

Di homestay itu, imbuhnya, wisatawan juga dapat ikut dalam aktivitas kehidupan warga desa setempat. Misalnya, ikut menyiapkan hidangan untuk disantap bersama.

Baca jugaSanggau Bersiap Maksimalkan Desa Wisata di Festival Crossborder

Melalui kegiatan itu, wisatawan dapat belajar soal kuliner setempat, mulai dari komposisi bumbu, lama memasak, alat apa saja yang digunakan, hingga menikmatinya.

"Ada keintiman yang tercipta. Makanan asli bisa disajikan ibu-ibu rumah tangga atau para pemilik rumah," terang Vitria.

Untuk itu, Vitria menjelaskan, dibutuhkan peran aktif dari kelompok sadar wisata sebagai penggeraknya. Peran mereka dibutuhkan agar wisatawan semakin berminat menginap di homestay.

Menurutnya, kelompok sadar wisata akan melengkapi komponen penunjang wisata saat wisatawan menginap di homestay. Mereka dapat menjadi penutur cerita dan pemandu wisata. Jadi, homestay dapat menjadi titik akomodasi dan tamu datang bukan sekadar menginap.

Baca jugaMenpar Takjub, Warga Desa Kemiren Banyuwangi Serius Kelola Homestay

"Tamu bisa menemukan potensi asli daerah. Bisa sambil treking dan menyicipi makanan lokal," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua II Pengembangan Homestay dan Desa Wisata Shafira Aulia menyarankan, agar homestay menjadi identitas daerah masing-masing sebagai daya tarik pariwisata yang unik dan memiliki kearifan lokal.

"Dengan bertambahnya kunjungan, bertambah pula kebutuhan amenitasnya. Homestay dapatmenjadi alternatif, yang bersaing dengan losmen dan resort, dengan mempromosikan budaya dan pengalaman lokal yang tidak dimiliki penginapan lain," terang Shafira.

Pemberian bimbingan teknis

Mengingat peran penting tersebut, Kementerian Pariwisata ( Kemenpar) menjadikan pengembangan homestay dan desa wisata sebagai salah satu program prioritas. Khususnya, meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara dan permbedayaan masyarakat di bidang pariwisata.

Kementerian Pariwisata mengadakan Bimbingan Teknis Homestay dan Desa Wisata di Kabupaten Simeulue, Aceh, Selasa (9/7/2019)Dok. Humas Kementerian Pariwisata RI Kementerian Pariwisata mengadakan Bimbingan Teknis Homestay dan Desa Wisata di Kabupaten Simeulue, Aceh, Selasa (9/7/2019)
Untuk itu, Kemenpar mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Homestay dan Desa Wisata di Simeulue, Aceh, Selasa (9/7/2019). Acara tersebut diikuti oleh Tim Pengembangan Destinasi Regional I Kemenpar, Tim Percepatan Homestay, Tim Percepatan Wisata Perdesaan dan Perkotaan, dan 40 stakeholder pariwisata di Simeulue.

Bupati Simeulue Eril Hasim mengatakan, pulau Simeulue memiliki potensi pariwisata sangat besar. Akan tetapi, promosi pariwisatanya masih terbatas.

“Fasilitas pariwisata juga belum memadai. Transportasi publik pun belum tercukupi. Dampaknya, pulau Simeulue belum banyak dikunjungi wisatawan, sehingga dampak ke masyarakat sekitar akan manfaat pariwisata sangat belum terasa," terang Eril.

Baca jugaKementerian Pariwisata Bantu Pengembangan Ratusan "Homestay" di NTT

Oleh karena itu, menurut Eril, keberadaan homestay sangat diperlukan untuk medukung akomodasi desa wisata. Homestay dinilai sebagai langkah nyata yang mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Hal senada disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Simeulue Abdul Karim. Menurutnya, melalui Bimtek Homestay dan Desa Wisata, Simeulue akan mampu mengembangkan sektor pariwisatanya.

"Untuk para peserta silakan ambil ilmu yang sebanyak-banyaknya dari narasumber yang kompeten di bidang homestay dan Desa Wisata," imbuhnya.

Terobosan pengembangan desa wisata

Sementara itu, Menteri Pariwista (Menpar) Arief Yahya menilai, homestay merupakan sebuah terobosan baik untuk pengembangan desa wisata. Sebab, nantinya homestay akan dimiliki oleh masyarakat di sekitar desnitasi wisata.

"Karena skalanya kecil, membangun homestay akan lebih mudah dan lebih fleksibel dibandingkan membangun hotel. Pembangunan homestay juga bisa tersebar di berbagai destinasi wisata di seluruh pelosok Tanah Air ," ujar Arief.

Untuk itu, Kasubid Pengembangan Destinasi Area I Kemenpar Andhy Marpaung mengimbau, dalam pengembangannya, homestay harus menggunakan konsep low-cost tourism (LCT).

Baca jugaGunungkidul Kini Punya Desa Wisata Edukasi Lidah Buaya

Melalui konsep tersebut, pariwisata dapat dijadikan sebagai sebuah kebutuhan dasar. Untuk itu, harganya harus terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

"Caranya, kami harus menciptakan attraction, access, dan accomodation (3A) yang terjangkau dengan memanfaatkan kelebihan kapasitas (excess capacity) yang ada," jelas Andhy.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X