Sejarah Ikan Asin di Indonesia, Ternyata Dulu jadi Salah Satu Hidangan Upacara Besar

Kompas.com - 12/07/2019, 22:00 WIB
Warga Mayangan Probolinggo Jawa Timur, Jumat (18/1/2013) menjemur ikan untuk dijadikan ikan kering. Harga ikan kering dan ikan asin saat ini naik 2 kali lipat saat ini karena banyak nelayan tidak melaut akibat cuaca buruk. Biasaya harga ikan kering antara Rp 4000-10.000 per kilogram, saat ini harganya antara Rp  8000-16.000 per kg.

KOMPAS/DAHLIA IRAWATIWarga Mayangan Probolinggo Jawa Timur, Jumat (18/1/2013) menjemur ikan untuk dijadikan ikan kering. Harga ikan kering dan ikan asin saat ini naik 2 kali lipat saat ini karena banyak nelayan tidak melaut akibat cuaca buruk. Biasaya harga ikan kering antara Rp 4000-10.000 per kilogram, saat ini harganya antara Rp 8000-16.000 per kg.

KOMPAS.com – Ikan asin, merupakan olahan yang sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Meski kerap dipandang tak berkelas, beragam olahan kuliner yang lezat, bisa dikreasikan dari bahan makanan satu ini.

Namun tahukah kamu, bahwa di Indonesia ikan asin memiliki sejarah yang panjang. Berikut ini, beberapa fakta, perjalanan panjang sejarah ikan asin di Indonesia.

1. Bermula dari Abad ke VIII masehi

Dihimpun Kompas.com (07/03/2016)  orang-orang Indonesia utamanya di Jawa sudah menggemari ikan asin sejak abad ke VIII masehi.

Titi Surti Nastiti, seorang Arkeolog Indonesia dalam bukunya, menjelaskan sejarah ikan asin terkait aktivitas ekonomi dan sosial masyakarat Mataram Kuno.

Buku Titi yang berjudul Pasar di Jawa: Masa Mataram Kuno Abad VII-XI Masehi mengungkap, bahwa masyarakat Mataram Kuno menjadikan ikan asin menjadi salah satu komoditi yang kerap diperdagangkan di pasar-pasar di Jawa sejak 13 abad silam.

2. Terdapat dalam dua prasasti

Titi menjelaskan sejarah ikan asin dari dua prasasti. Prasasti pertama adalah Prasasti Pangumulan A yang berangka tahun 824 saka atau 902 Masehi.

Prasasti kedua adalah Prasasti Rukam yang berangka tahun 829 saka atau 907 Masehi.

3. Terdapat beberapa jenis ikan yang digunakan

Prasasti itu menjelaskan, tentang beberapa jenis ikan yang dijadikan ikan asin pada masa itu.

"Jenis ikan yang diasinkan atau dendeng ikan, terutama jenis-jenis ikan laut seperti ikan kembung, ikan kakap, ikan tenggiri," tulis Titi merujuk Prasasti Pangumulan A.

4. Ikan asin pada masa Itu disebut grih atau dendain

Tulisan Titi menyebut, kedua prasasti menjelaskan istilah ikan asin yang dikeringkan disebut grih atau dendain.

Saat ini dalam bahasa Jawa ikan asin disebut gereh sedangkan ikan yang dikeringkan disebut dendeng.

5. Dulu digunakan sebagai hidangan upacara

Titi menyebut, dalam Prasasti Rukam grih atau dendain digunakan sebagai hidangan yang disajikan dalam upacara penetapan sima (tanah suci).

Dari bukti sejarah itu, ikan asin rupanya tak hanya jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari, tetapi juga jadi hidangan yang disajikan dalam upacara-upacara besar.

Kini, setelah 13 abad, ikan asin masih eksis di tengah masyakarat Indonesia. Terlepas dari stigma tak berkelasnya, ikan asin tetap jadi bagian perjalan suatu masyakarat membangun ekonominya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X