Omar Ndara Raping, Tradisi Orang Kolang Rawat Wae Minse di Pohon Enau

Kompas.com - 18/07/2019, 14:22 WIB
Seorang perajin di Kampung Tado, Desa Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Flores Barat, NTT, Minggu, (31/3/2019). Kampung ini sebagai pusat produksi gola kolang di Flores Barat dan kini warga setempat memperkenalkan wisata lait gola khas Kolang. KOMPAS.com/MARKUS MAKURSeorang perajin di Kampung Tado, Desa Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Flores Barat, NTT, Minggu, (31/3/2019). Kampung ini sebagai pusat produksi gola kolang di Flores Barat dan kini warga setempat memperkenalkan wisata lait gola khas Kolang.

WAJUR, KOMPAS.com — Orang Kolang yang berada di hamenta Kolang memiliki cara tersendiri untuk mengolah air enau atau wae minse. Ratusan tahun yang lalu, nenek moyang orang Kolang memilik warisan alamiah untuk mempertahankan kehidupan dengan mengolah wae minse menjadi gola kolang.

Para perajin tradisional Pante Minse atau perajin air enau diibaratkan dengan seorang gadis yang cantik dan memberikan air kehidupan.

Salah satu cara atau teknik agar batang pohon enau, dalam dialek lokalnya, Ndara Raping menghasilkan air yang bening, perajin itu melakukan Omar Ndara Raping atau mengelus batang pohon enau itu sambil melantunkan syair-syair Kolang, seperti Ker Molah.

Kalau diterjemahkan secara harfiah bahwa "Ker" berarti permisi dan "Molah" berarti panggilan bagi gadis yang sangat cantik. Jadi Ker Molah berarti permisi kepada seorang gadis cantik sebelum disentuh.

Baca juga: Ini Wisata Lait Gola Rebok atau Semut Kolang di Flores Barat (5)

Bagi seorang perajin yang sudah berpengalaman, bahwa salah satu teknik agar batang pohon enau menghasilkan air yang bening melaksanakan Omar Ndara Raping atau Omar Kelo Raping, yakni merayu batang pohon enau sebelum dipukul.

Tangan seorang perajin Pante Minse terlebih dahulu menyentuh batang atau Ndara Raping dengan mengelus-elusnya sambil melantunkan syair “Ker Molah, Ker Molah, Omar Nger one Ndara" atau batang pohon Enau sebelum memukul dengan sebatang kayu pendek yang sudah disesuaikan dengan kondisi Ndara atau batang Raping itu. Sesudah itu dilaksanakan tewa raping atau pukul batang pohon enau.

Baca juga: Mandilah Bersama Kakar Tana Kolang di Tiwu Ndeghar Peka Flores Barat

Salah satu perajin yang melaksanakan tradisi itu sebagaimana diwariskan nenek moyangnya adalah almarhum Nikolaus Dahu, asal Kampung Wajur, Desa Wajur, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT.

Hal ini dituturkan oleh Emilianus Egor kepada Kompas.com, Jumat (12/7/2019).

Emilianus merupakan anak dari Nikolaus Dahu yang selalu mendampingi orangtuanya itu saat mengolah air enau bening menjadi Gola merah Kolang.

Emilianus menuturkan, orangtuanya, almarhum Nikolaus Dahu di masa hidupnya selalu mengajaknya untuk bersama-sama ke kebun saat Pante Minse, mengolah air enau bening sejak proses awalnya hingga menghasilkan air enau.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X