Dari Jauh Kelihatan Manado Tua dan Ribuan Turis

Kompas.com - 30/07/2019, 15:29 WIB
Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey menyambut Duta Besar Amerika Serikat Joseph R Donovan Jr di Bandar Udara Sam Ratulangi Manado, awal Juni 2019. Nampak dari jauh Gunung Manadotua J OsdarGubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey menyambut Duta Besar Amerika Serikat Joseph R Donovan Jr di Bandar Udara Sam Ratulangi Manado, awal Juni 2019. Nampak dari jauh Gunung Manadotua

GMIM punya banyak gereja-gereja sebagai warisan budaya masa lalu dalam sejarah. Gereja-gereja GMIM yang tersebar di kampung-kampung di Sulawesi Utara adalah pusat dari acara “pesta syukur” di kampung-kampung .

Pesta pengucapan syukur yang sering diadakan di kampung-kampung di Sulut ini menarik seka li dijadikan obyek turis. Pusat kegiatan pengucapan syukur sebagai rasa terimakasih pada Tuhan atas hasil panen itu adalah kebaktian di gereja.

Setelah kebaktian kita bisa masuk ke rumah-rumah menikmati makan sambil menyaksikan segala macam pertunjukan seni spontan rakyat, tari kabasaran, tarian katrili, makengket dan tentu nona-nona manis. Pesta pengucapan syukur ini adalah tradisi atau warisan budaya dari masa lalu di Sulut.

Oleh karena itu, kata Pendeta GMIM Feybe Lumanau (wartawan dan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia di Sulut), pesta pesta di kampung perlu mendapat perhatian dari para pemandu wisata.

Saya sering mengatakan kepada teman-teman di Jakarta, kalu ingin menyaksikan kehidupan orang Minahasa, jangan hanya menyaksikan di kota Manado “Masuk dan lihat kampung-kampung di luar Manado,” ujar saya.

Tapi ingat acara pesta pengucapan syukur ini membuat kampung-kampung didatangi banyak orang. Mereka banyak makan dan minum. Pesta bisa berlangsung 24 jam. Maka penyediaan WC umum yang memadai di kampung-kampung adalah hal sangat perlu mendapat perhatian dari gereja-gereja GMIM dan pemerintah setempat. Sejak tahun 2015 sampai sekarang saya sering ikut kunjungan kerja Gubernur

Olly Dondokambey ke kampung-kampung di Sulut, termasuk kebaktian gereja. Dari pengalaman ini saya sering menemukan WC tanpa kunci di pintunya. Selain itu masalah kebersihan dan air sering sangat minim.

Masalah toilet memang salah satu kelemahan dunia pariwisata di Sulut. Gereja Centrum Manado misalnya, sebagai salah satu obyek wisata, punya toilet tapi parah aromanya. Menurut Pendeta GMIM Iwan Runtunuwu, yang pernah bertugas di Gereja Centrum Manado, hampir tiap hari ada empat bus turis berkunjung untuk melihat gereja bersejarah ini.

Jangan sampai orang bukan asal Minahasa mengucapkan lagi kosa kata Manado dengan ejaan yang salah, yakni “Menado”. Orang Indonesia non Minahasa, dulu sering mengatakan Menado sebagai singkatan dari “menang diomong doang” atau “omdok” (omong doang atau hanya pandai bicara tapi kosong).

Beberapa waktu lalu para pejabat pemerintah di provinsi ini menyerukan adanya revolusi toilet atau WC. Tapi sampai sekarang masih yang terjadi bukan revolusi “evolusi”. Kantor gubernuran dan pemerintah lainnya di Manado perlu mempelopori.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X