Tarik Wisatawan, Morotai Diminta Siapkan Ikon Perang Dunia II

Kompas.com - 07/08/2019, 17:12 WIB
Dinding goa yang dilubangi Teruo Nakamura, di tepi air terjun di Desa Dehegila, Pulau Morotai, Maluku Utara, Minggu (17/7/2016). Teruo Nakamura, bersembunyi dari serangan tentara Amerika Serikat pada masa perang dunia kedua. Tentara Jepang berkewarganegaraan Taiwan tersebut bersembunyi sekitar 29 tahun di dalam hutan dan tahun 1974 diketemukan dan dikembalikan ke negara asalnya. KOMPAS/LUCKY PRANSISKADinding goa yang dilubangi Teruo Nakamura, di tepi air terjun di Desa Dehegila, Pulau Morotai, Maluku Utara, Minggu (17/7/2016). Teruo Nakamura, bersembunyi dari serangan tentara Amerika Serikat pada masa perang dunia kedua. Tentara Jepang berkewarganegaraan Taiwan tersebut bersembunyi sekitar 29 tahun di dalam hutan dan tahun 1974 diketemukan dan dikembalikan ke negara asalnya.

JAKARTA, KOMPAS.com - Festival Morotai berupaya menampilkan daya tarik wisata di Maluku Utara dan sekitarnya sebagai destinasi wisata yang mampu menghadirkan ikon monumental Perang Dunia II.

Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam kunjungan kerjanya ke Pulau Morotai di Maluku Utara, Rabu (7/8/2019) mengatakan Festival Morotai yang tahun ini menghadirkan acara puncak bertajuk Land Of Stories menjadi atraksi wisata tersendiri yang bisa menarik wisatawan.

"Saya sampaikan kepada Bupati untuk membuat ikon-ikon Perang Dunia II di Morotai," kata Arief pada sambutannya di Acara Puncak Festival Morotai dalam siaran pers yang diterima KompasTravel.

Rangkaian acara Festival Morotai 2019 diadakan di eks lokasi Sail Morotai, Desa Juanga, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara pada Rabu (7/8/2019).

Pulau Morotai merupakan satu museum besar Perang Dunia II. Satu hari sebelumnya, Arief mengunjungi beberapa lokasi wisata di Morotai. Salah satunya yakni Museum Perang Dunia II dan Trikora.

Muhlis Eso dan barang peninggalan Perang Dunia II di gubuk museum miliknya di Kecamatan Morotai Selatan, Kepulauan Morotai, Maluku Utara, Senin (18/7/2016).KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Muhlis Eso dan barang peninggalan Perang Dunia II di gubuk museum miliknya di Kecamatan Morotai Selatan, Kepulauan Morotai, Maluku Utara, Senin (18/7/2016).
Menurutnya, museum tersebut sangat menarik karena menyimpan sejarah pada masa Perang Dunia II serta masa pembebasan Irian Barat.

Arief melihat antusiasme masyarakat dalam Festival Morotai yang masuk dalam Calender Of Event Tahun 2020.

“Dari Maluku Utara ada dua festival yang masuk dalam CoE 2019 yakni Festival Morotai dan Festival Jailolo," lanjutnya.

Di sisi lain, sebagai faktor pendukung, Maluku Utara memiliki indeks kebahagiaan tertinggi di tingkat nasional. Diikuti oleh Sulawesi Utara dan Maluku sebagai peringkat kedua dan ketiga.

Arief berpendapat, ketiga daerah ini memiliki ciri khas yang hampir sama yakni masyarakatnya menyukai seni seperti tarian dan nyanyian.

"Saran saya harus lebih banyak atraksi di Maluku Utara, khususnya Morotai. Tahun ini tercatat ada 20 event, maka tahun depan diusulkan ada 40 event. Artinya, tiap akhir pekan ada event. Semakin banyak event, maka pendapatan masyarakat akan meningkat sehingga pendapatan per kapita juga naik," katanya.

Tank amfibi Landing Vehicle Tracked Mark 2 (LVT-2) milik Angkatan Laut Amerika Serikat pada Perang Dunia II saat mendarat di Pulau Morotai di Desa Gotalamo, Kecamatan Morotai Selatan, Maluku Utara, Jumat (15/7/2016). Tersisa dua kendaaraan tempur dari ratusan kendaraan milik tentara Amerika Serikat pada Perang Dunia II. Menurut warga setempat, kendaraan bukti sejarah tersebut sudah banyak yang dipotong-potong dan dijual besinya. KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Tank amfibi Landing Vehicle Tracked Mark 2 (LVT-2) milik Angkatan Laut Amerika Serikat pada Perang Dunia II saat mendarat di Pulau Morotai di Desa Gotalamo, Kecamatan Morotai Selatan, Maluku Utara, Jumat (15/7/2016). Tersisa dua kendaaraan tempur dari ratusan kendaraan milik tentara Amerika Serikat pada Perang Dunia II. Menurut warga setempat, kendaraan bukti sejarah tersebut sudah banyak yang dipotong-potong dan dijual besinya.
Festival Morotai merupakan sebuah festival yang digagas untuk mengenalkan pesona Indonesia Timur, baik sisi alam budaya dan masyarakatnya.

Tahun ini, pertama kalinya Festival Morotai masuk dalam 100 Calendar of Events Wonderful, Kementerian Pariwisata.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X