5 Lomba Unik dari Berbagai Daerah pada Perayaan 17 Agustus

Kompas.com - 17/08/2019, 14:10 WIB
Lomba gebuk bantal, di Hotel Mercure Convention Center Ancol Dok. AccorHotelsLomba gebuk bantal, di Hotel Mercure Convention Center Ancol

JAKARTA, KOMPAS.com - Peringatan Kemerdekaan RI selalu dilaksankan serentak pada 17 Agustus dan digelar dengan meriah. Ada banyak aktivitas yang dilaksanakan oleh masyarakat saat 17 Agustus.

Banyak aktivitas yang diselenggarakan selama bertahun-tahun dan berubah menjadi sebuah tradisi. Setiap daerah juga memiliki cara yang berbeda untuk merayakan kemerdekaan. Dikutip dari berbagai sumber, berikut beberapa tradisi unik berdasarkan berbagai daerah Indonesia:

1. Jakarta Timur

Untuk memeriahkan 17 Agustus, warga Jakarta Timur tepatnya di daerah Kalimalang memiliki tradisi yang menarik. Tradisi ini disebut sebagai gebuk bantal.

Dua orang warga akan duduk diatas satu bilah kayu yang membentang di sungai atau danau. Kedua peserta ini masing-masing memegang satu buah bantal dan mengayunkan bantal tersebut kearah lawannya. Orang yang terjatuh pertama kali, adalah orang yang kalah.

2. Palembang

Di Palembang, Sumatera Selatan warga memiliki kegiatan unik menjelang 17 Agustus. Kegiatan ini dinamakan Telok Abang. Dalam bahasa Palembang kata telok berarti telur dan abang berarti merah.

Sesuai namanya kegiatan ini merupakan lomba menghias wadah telur merah. Biasanya, wadah untuk menaruh telur akan dihias sedemikian rupa menyerupai kapal, pesawat atau mobil berukuran mini.

Perlombaan perahu jong dengan tajuk Utara Race kali ini diikuti lebih dari 200 orang.KOMPAS.COM/WAHYU ADITYO PRODJO Perlombaan perahu jong dengan tajuk Utara Race kali ini diikuti lebih dari 200 orang.

3. Kepulauan Riau

Pada perayaan HUT RI, warga akan berlomba membuat minatur perahu layar dan melukisnya dengan warna-warni ceria. Perahu ini disebut dengan perahu jong. Perahu jong lantas akan dilombakan menjadi dengan bantuan angin. 

4. Semarang

Warga Semarang, Jawa Tengah khususnya di Kecamatan Gajah Mungkur memiliki tradisi yang unik. Warga akan adu lari, sambil membawa obor di tanganya. Di zaman penjajahan, obor dipakai untuk menentukan posisi untuk alat komunikasi dan strategi perang. Maka dari itu, obor menjadi simbolik yang pas untuk memeriahkan 17-an di Semarang.

Joki beradu kecepatan saat mengikuti lomba pacuan kuda tradisional di Desa Kalimporo, Jeneponto, Sulawesi Selatan, Sabtu (27/10/2018). Pacuan kuda tradisional ini terbilang unik karena jokinya bukan hanya orang dewasa tapi juga diikuti joki anak-anak yang hanya menggunakan peralatan seadanya bahkan tidak sedikit hanya menggunakan sandal.ANTARA FOTO/ABRIAWAN ABHE Joki beradu kecepatan saat mengikuti lomba pacuan kuda tradisional di Desa Kalimporo, Jeneponto, Sulawesi Selatan, Sabtu (27/10/2018). Pacuan kuda tradisional ini terbilang unik karena jokinya bukan hanya orang dewasa tapi juga diikuti joki anak-anak yang hanya menggunakan peralatan seadanya bahkan tidak sedikit hanya menggunakan sandal.

5. Aceh

Tradisi 17 Agustus ini dilakukan oleh warga Aceh Tengah, seperti daerah Gayo, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Warga akan menyelengarakan lomba pacuan kuda dalam rangka merayakan HUT RI. Konon, tradisi ini sudah ada sejak zaman kolonial.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X