Indeks Daya Saing Pariwisata Indonesia Tahun 2019 Naik

Kompas.com - 05/09/2019, 17:37 WIB
Wisata alam Raja Lima atau Rumah Pohon Molenteng yang terletak di Pejukutan, Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, Minggu (11/11/2018). Kompas.com/SHERLY PUSPITAWisata alam Raja Lima atau Rumah Pohon Molenteng yang terletak di Pejukutan, Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, Minggu (11/11/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Peringkat indeks daya saing pariwisata Indonesia di dunia naik menjadi peringkat 40 di tahun 2019 dari peringkat 42 di tahun 2017.

Hal itu berdasarkan Laporan The Travel & Tourism Competitiveness Report yang dirilis WEF ( World Economic Forum) 2019 baru-baru ini.

Di dunia, Indonesia berada di peringkat 40 dari 140 negara. Di kawasan Asia Tenggara, indeks daya saing pariwisata Indonesia berada di peringkat empat.

Indonesia meraih skor 4,3 dari total penilaian pilar-pilar seperti lingkungan bisnis, keamanan, kesehatan dan kebersihan, sumber daya manusia dan lapangan kerja, keberlanjutan lingkungan dan lainnya.

Adapun skala penilaian yaitu 1 untuk terburuk sedangkan angka 7 untuk terbaik.

Skor di atas 5 yang diperoleh Indonesia adalah prioritas pariwisata. Pilar higienitas menjadi salah satu perbaikan yang dilakukan oleh Indonesia dan dinilai baik.

Pada tahun 2015, Indonesia berada di peringkat 50 dunia. Pada tahun 2017, peringkat Indonesia melonjak menjadi peringkat 42. Sementara, pemerintah Indonesia menargetkan naik ke rangking 30 di dunia.

Terkait devisa, sumbangan dari sektor pariwisata terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2015 tercatat pariwisata menyumbang 12,2 miliar dollar Amerika Serikat (AS). Kemudian, tahun 2016 naik menjadi 13,6 miliar dollar AS dan tahun 2017 menjadi 15 miliar dollar AS.

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada tahun 2018 sebanyak 15,81 juta wisatawan. Bila dibandingkan tahun 2017, kunjungan wisatawan mancanegara naik 12,58 persen.

Dikutip dari laporan World Economic Forum 2019, pariwisata sebagai industri global telah berkembang sejak laporan WEF terakhir pada tahun 2017. Kontribusinya terhadap PDB global (saat ini 10 persen) diperkirakan akan meningkat sebanyak 50 persen pada dekade berikutnya.

Di sisi lain, dalam laporan WEF tahun ini adalah bahwa pertumbuhan infrastruktur pendukung pariwisata seperti jalan, pelabuhan, bandara, dan akomodasi hotel merosot  yakni hanya 1,4 persen.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X