Kompas.com - 18/09/2019, 06:00 WIB

Itu karena Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 yang membagi Mataram Islam menjadi dua, yakni Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Keraton Jogja).

Setelah pindah, Keraton Kartasura terbengkalai dan menjadi hutan kembali bernama Hutan Keraton. Tahun 1811 Atas perintah Raja Surakarta saat itu, dilakukan pencarian kembali terhadap Keraton Kartasura. Namun, yang tersisa hanyalah dinding benteng.

Untuk menandai matinya sebuah keraton, maka Keraton Kartasura dijadikan permakaman mulai tahun 1816 dari juru kunci yang merupakan leluhur Pak Surya Lesmana sampai ia menjadi juru kunci tahun 2019 ini.

Kini makam di Keraton Kartasura sudah tidak digunakan lagi karena Undang-undang Cagar Budaya nomor 11 tahun 2010 yang melarang adanya makam baru di kompleks Keraton Kartasura.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.