Museum Benteng Heritage, Museum Tionghoa Pertama di Indonesia

Kompas.com - 19/09/2019, 09:00 WIB
Museum Benteng Heritage merupakan museum warisan budaya peranakan Tionghoa yang didirikan oleh Udaya Halim pada pukul 20.11 tanggal 11 bulan 11 tahun 2011. Kompas.com/Ersianty Peginusa WardhaniMuseum Benteng Heritage merupakan museum warisan budaya peranakan Tionghoa yang didirikan oleh Udaya Halim pada pukul 20.11 tanggal 11 bulan 11 tahun 2011.


JAKARTA, KOMPAS.com - Tidak banyak orang yang tau bahwa kaum Tionghoa di Tangerang sudah hadir sejak tahun 1407. Kaum Tionghoa hidup berdampingan dengan orang asli Tangerang selama berabad-abad hingga sekarang.

Baca juga: 8 Tips Mengunjungi Pasar Lama Tangerang

Rekan jejak kaum peranakan Tionghoa Tangerang dapat disimak di Museum Benteng Heritage merupakan hasil restorasi sebuah bangunan berasitektur tradisional Tionghoa yang menurut perkiraan dibangun pada pertengahan abad 17.

Bangunan ini merupakan salah satu bangunan tertua di Kota Tangerang. Bangunan ini terletak di Jalan Cilame No.20, Pasar Lama, Tangerang yang juga titik nol Kota Tangerang. Di sini cikal bakal pusat Kota Tangerang, yang dulunya disebut Kota Benteng.

Martin, salah satu pemandu wisata di Museum Benteng Heritage menjelaskan bahwa museum ini adalah museum Tionghoa pertama di Indonesia. Namun fokus dari museum ini adalah mengulik cerita dari kehidupan peranakan Tionghoa Tangerang atau disebut China Benteng.

"Ini museum pertama Tionghoa di Indonesia. Museum ini memperkenalkan budaya dan sejarah khususnya Tionghoa Tangerang. Agar ketika orang-orang datang ke sini (Museum Benteng Heritage) orang-orang bisa tau bahwa kaum Tionghoa sudah ada pada tahun 1407 di sini (Tangerang)" jelas martin kepada Kompas.com di Museum Benteng Heritage, Pasar lama, Tangerang, Sabtu (14/09/2019).

Rumah yang ditempati Museum Benteng Heritage, diperkirakan dibangun pada abad ke 17. Rumah ini sempat dijadikan markas bagi organisasi perdagangan Tionghoa di Tangerang.

Pada abad ke 19 rumah dibeli oleh satu keluarga bermaga Lao yang akhirnya dihuni. Rumah sempat dikontrakan sampai akhirnya dibeli oleh Udayana Halim pada 2009.

Baca juga: Mengintip Kemeriahan Imlek di Pasar Lama Tangerang

Udaya Halim, pendiri Museum Benteng Heritage, di ruangan pribadinya dengan ragam jenis kamera yang dimiliki, Minggu (31/1/2016).Kompas.com/Ersianty Peginusa Wardhani Udaya Halim, pendiri Museum Benteng Heritage, di ruangan pribadinya dengan ragam jenis kamera yang dimiliki, Minggu (31/1/2016).

Museum yang dibuka pada tanggal 11 Novermber tahun 2011 di jam 20.11 WIB ini dimiliki oleh Udayana Halim yang merupakan warga asli peranakan Tionghoa Tangerang. Ia lahir dan tumbuh besar dilingkungan Pasar Lama.

Ia ingin menghadirkan peninggalan nenek moyang China Benteng yang datang di Tangerang sejak tahun 1407 di Teluk Naga. Diduga rombong itu adalah merupakan romobongan dari Armada Cheng Ho seorang laksamana Tiongkok yang memeluk agaman Islam.

Asal Usul Nama China Benteng

Menyandang kata benteng dalam nama museum, tersimpan sejarah tersendiri bagi nama beteng tersebut. Peranakan Tionghoa Tangerang sering disebut sebagai China Benteng. Julukan itu menyimpan cerita sejarah dari kota Tangerang.

"Karena dulu ada benteng Belanda, jadi Belanda dulu menguasai wilayah Tangerang dan membangun benteng di Tangerang. Tangerang masih wilayah Banten, jadi kerajaan-kerajaan Banten sering menyerang markas-markas pertahanan Belanda, lalu Belanda membangun benteng sebagai pertahanan" jelas Martin

Martis mengatakan yang tinggal di sekitar benteng tersebut adalah peranakan Tionghoa Tangerang. Jadi dari sana asal usul Chinana benteng.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X