Arief kemudian menunjuk ke sebuah meja kosong di rumah makan ini. Tampak beberapa tusuk sate ditumpuk dengan rapi di meja tersebut. Tusuk-tusuk sate tersebut disusun sedemikian rupa hingga berbentuk persegi.
Beberapa meja lain yang baru saja ditinggalkan pelanggannya juga menampilkan pemandangan serupa. Tusuk sate bekas pakai disusun di atas meja.
Baca juga: Contek 5 Strategi Mengolah Daging Kambing Kurban dari Penjual Sate
Beberapa di antaranya tidak disusun hingga menjadi bentuk persegi. Namun, tusuk-tusuk sate ini disatukan dalam jumlah tertentu lalu dibuat berbaris.
Usut punya usut, kebiasaan di Blora adalah sate disajikan dalam piring penuh. Jika di Jakarta atau kota-kota lain pada umumnya, sate biasanya diberikan dalam porsi berisi 10 tusuk sate.
Namun di Blora, pelanggan diberikan sepiring penuh berisi sate. Lalu pelanggan bisa menikmati sate tersebut secara eceran.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.