Menikmati Rumput Laut Hinga Mbeta yang Langka Khas Flores Rongga

Kompas.com - 01/11/2019, 06:02 WIB
Warga dari Etnis Rongga memiliki hidangan khas masyarakat setempat dari sumber daya alam kelautaan. namanya hinga mbeta atau rumput laut, Rabu, (16/10/2019). (KOMPAS.com/MARKUS MAKUR) KOMPAS.COM/MARKUS MAKURWarga dari Etnis Rongga memiliki hidangan khas masyarakat setempat dari sumber daya alam kelautaan. namanya hinga mbeta atau rumput laut, Rabu, (16/10/2019). (KOMPAS.com/MARKUS MAKUR)

BORONG, KOMPAS.com - Mari jelajahi Pantai Selatan dari Kelurahan Watunggene sampai di Kelurahan Tanahrata, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur.

Tak ketinggalan sambil menikmati hidangan " Hinga Mbeta" atau rumput laut yang dimasak warga setempat.

Baca juga: Menarilah Bersama Penari Enu Deng Lipa Songke Manggarai Timur

Sepanjang Pantai Selatan mulai dari Mabaruju hingga Nangarawa terdapat rumput laut atau hinga mbeta. Hinga mbeta merupakan bahasa etnis Rongga untuk menyebut rumput laut.

Bagi wisatawan mancanegara dan nusantara yang ingin berwisata di pantai selatan Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, sebaiknya merasakan dan menikmati hidangan makanan lokal khas warga setempat.

Salah satu dari sekian makanan lokal yang dimasak oleh warga setempat adalah hinga mbeta yang diambil dari laut selatan di Manggarai Timur.

Bagi etnik Rongga rumput laut disebut dengan bahasa lokal dari masyarakat itu dengan sebutan "Hinga Mbeta". Etnik ini sebagian besar mendiami wilayah selatan Kecamatan Kota Komba.

Etnik ini mendiami wilayah selatan sejak ribuan tahun yang lalu dan hingga saat ini berdasarkan laporan penduduk Kecamatan Kota Komba tahun 2011 jumlah penduduknya hanya 8.000 jiwa.

Dalam bahasa Rongga, Hinga berarti belinga dan Mbeta berarti putus. Hinga Mbeta dapat diartikan sebagai telinga yang putus.

Ini merupakan cara orang etnis Rongga untuk membahasakan bahwa betapa nikmatnya rumput laut atau hinga mbeta sesudah dihidangkan.

Dari penuturan tokoh adat suku Motu, Antonius Lajo, konon rumput laut itu sudah dimanfaatkan sejak lama oleh masyarakat etnik Rongga.

Namun, kala itu mereka belum memberikan nama pada rumput laut itu. Suatu hari, kisah Lajo, ada beberapa orang yang pergi ke pantai untuk mencari rumput laut.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X