Traveling Ke Bukit Peramun, dari Desa Wisata Digital hingga Tarsius

Kompas.com - 11/11/2019, 07:50 WIB
Bukit Peramun yang berlokasi di Belitung Barat masih terlihat dikelilingi hutan lebat. Di dalamnya juga terdapat tempat ibadah mushola. Nicholas Ryan AdityaBukit Peramun yang berlokasi di Belitung Barat masih terlihat dikelilingi hutan lebat. Di dalamnya juga terdapat tempat ibadah mushola.

Kemudian, kekayaan tersebut dikembangkan dalam berbagai lokasi spot foto antara lain berupa rumah hobbit, jembatan merah, batu kembar dan mobil terbang.

Menurut Executive Vice President Corporate Social Responsibility (CSR) BCA Inge Setiawati, potensi pariwisata yang ada di bukit ini menawarkan wisata alam, edukasi dan petualangan.

Ini lah yang menjadi salah satu potensi wisata dari Belitung.

"Satu hal lain yang menjadi keunggulan Bukit Peramun yaitu mengaplikasikan teknologi virtual guide untuk lebih memanjakan pengunjungnya dalam berwisata,” kata Inge.

Bukit Peramun berhasil meraih penghargaan sebagai pemenang Green Gold kategori Pelestarian Lingkungan dalam ajang Indonesian Sustainable Tourism Awards 2019 (ISTA).

"Kami optimis Bukit Peramun dapat berkembang secara optimal, unggul, dan dapat turut meningkatkan ekonomi negara baik melalui wisatawan lokal dan mancanegara," tambah Inge

Ketua Komunitas Air Selumar (Arsel) Adie Darmawan mengaku tak memiliki target jumlah wisatawan.

Ia jutsru berharap para wisatawan menjaga dan melestarikan desa yang berketinggian 129 mdpl di Belitung Barat ini.

"Tidak usah banyak-banyak, kami tidak ada target jumlah wisatawan, yang penting mereka bisa jaga Bukit Peramun. Karena saya inginkan ini terus berlanjut, sustainable," kata Adie.

Selain melihat kenekaragaman tumbuhan, Kompas Travel berkesempatan melihat tarsius, hewan primata langka yang ada di Belitung.

Tarsius sering juga disebut sebagai monyet terkecil di dunia.

Menurut pemandu wisata Bukit Peramun, biasanya tarsius terlihat banyak. Sayangnya, karena memasuki musim hujan, hewan satu ini pun jarang terlihat.

"Jumlah sekarang ada 60 populasi, bahkan mungkin bisa 80. Ini sudah lebih banyak. Ada juga yang kadang terlihat menggendong anaknya," ujar pemandu wisata.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X