Tren Wisata Halal, Bagaimana Nasib Hotel Syariah?

Kompas.com - 17/11/2019, 15:55 WIB
Kamar Q Grand Dafam Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Q Grand Dafam Banjarbaru merupakan hotel ke-13 yang beroperasi di bawah jaringan Dafam Hotels. ARSIP DAFAM HOTEL MANAGEMENTKamar Q Grand Dafam Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Q Grand Dafam Banjarbaru merupakan hotel ke-13 yang beroperasi di bawah jaringan Dafam Hotels.

JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu ceruk yang bisa digarap dari wisata halal adalah hotel berkonsep syariah. 

Hotel dengan konsep semacam itu dianggap dapat memenuhi konsumen yang membutuhkan, satu di antaranya adalah Muslim traveler.

Salah satu pemain hotel berkonsep syariah adalah Dafam Hotel Management. Tercatat, ada dua hotel syariah yang dimiliki Dafam: Yogyakarta dan Banjarbaru.

"Kami bukan mengincar pasar tertentu, melainkan mengenalkan bahwa ada konsep hotel syariah dan bisa menjadi salah satu pilihan," kata Sales Manager Dafam, Azizah di ISEF 2019.

Baca juga: Mantan Wamen Pariwisata: Wisata Halal Bukan Halalkan Destinasi

Konsep hotel syariah yang ditawarkan, seperti menyediakan alat shalat, Al Quran, masjid, makanan halal, tidak menjual alkohol hingga pengingat azan.

Saat tamu masuk, maka akan disambut salam "Assalamualaikum". Dari segi pakaian, pegawai pun mengenakan pakaian tertutup, seperti perempuan diminta untuk menggunakan hijab.

Meski tak mau dianggap sebagai bisnis semata, hotel konsep syariah yang ditawarkan Dafam justru menarik pasar.

Hotel Q Grand Dafam Syariah Banjarbaru yang merupakan hotel syariah pertama di Kalimantan Selatan.KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Hotel Q Grand Dafam Syariah Banjarbaru yang merupakan hotel syariah pertama di Kalimantan Selatan.
Diakui Azizah, hotelnya jadi pilihan beberapa perusahaan untuk menginap karena memiliki masjid sendiri, sehingga saat Shalat Jumat tak perlu keluar dari hotel.

Baca juga: Mantan Wamen Pariwisata: Wisata Halal Bukan Halalkan Destinasi

Selain itu, setiap harinya meeting room disewa, dengan beberapa acara seperti khusus komunitas hijaber.

Tak mau keluarkan regulasi

Melihat potensi wisata halal, Ketua Perhimpunan Pariwisata Halal Indonesia ( PPHI) Riyanto Sofyan, mengungkapkan, perlu ad standar soal hotel dengan konsep syariah.

Hal itu juga berfungsi untuk memertahankan posisi wisata halal di dunia, di mana menurut Global Muslim Travel Index, Indonesia berad di posisi atas bersama Malaysia.

"Jangan sampai sudah klaim halal atau muslim-friendly, tapi ternyata tidak. Apalagi, namanya orang dagang. Apa aja di-omongin," kata Riyanto.

"Nah ini peran penting dari pemerinatah, karena itu domain pemerintah untuk regulasi," lanjutnya.

Baca juga: Kagum Hotels Bangun Hotel Syariah di Yogyakarta

Gedung hotel berkonsep syariah di Jakarta Islamic center telah dikonsep sejak 2005.. Bangunan tersebut berlantai 11 dan memiliki 153 kamar. Terdapat dua kolam renang yang berada di lantai 11, Jumat (10/11/2017)Kompas.com/David Oliver Purba Gedung hotel berkonsep syariah di Jakarta Islamic center telah dikonsep sejak 2005.. Bangunan tersebut berlantai 11 dan memiliki 153 kamar. Terdapat dua kolam renang yang berada di lantai 11, Jumat (10/11/2017)
Kendati demikian, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf) RI tak mau lagi mengeluarkan regulasi khusus hotel syariah.

Sebagai catatan, Kemenparekraf mencabut tentang Peraturan Menparekraf Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Usaha Hotel Syariah.

Aturan itu dicabut pada 2016 oleh mantan Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Kemenparekraf Anang Sutono beralasan, tidak ada hal mendesak bagi pemerintah untuk membuat regulasi hotel syariah kembali.

Anang melanjutkan, hotel berkonsep syariah murni bisnis. Oleh karena itu, pemerintah membiarkan bisnis ekosistem tersebut bergerak, tanpa harus ada standarisasi.

"Kami enggak mau terlibat, mereka itu bisnis, sehingga biarkan mereka tumbuh," katanya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X