Kompas.com - 13/12/2019, 07:07 WIB
Cara membuat kain ulos secara tradisional yang dilakukan oleh salah tau pengrajin yang sudah berumur 86 tahun di Desa Wisata Meat Kompas.com / Gabriella WijayaCara membuat kain ulos secara tradisional yang dilakukan oleh salah tau pengrajin yang sudah berumur 86 tahun di Desa Wisata Meat

TAPANULI UTAR, KOMPAS.com -  Bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Toba pasti membawa ulos sebagai buah tangan. Namun, sehelai ulos di mata orang Suku Batak bukan hanya kain tenun yang motifnya bervariasi dan elok dipandang.  

Menurut Nelson Lumbantoruan, seorang penggiat ulos dari Kabupaten Humbang Hasundutan menjelaskan Suku Batak memandang ulos lebih dari sebuah kain.

Baca juga: Hanya Ada Dua di Dunia, Uniknya Pemandian Air Soda di Tapanuli Utara

"Ulos sebagai simbol kasih sayang, pemberian restu, penyalur berkat, dan sebagai penghangat," jelas Nelson kepada rekan media saat ditemui di Tapanuli Utara, Rabu, (4/12/2019).

Bagi orang Batak, Nelson menjelaskan memakai ulos merupakan suatu kebanggan. Ulos merupakan sesuatu hal yang tidak bisa dilepaskan dari identitas orang Batak.

Wujud ulos sendiri ada berbagai jenis. ulos hasil tenunan yang disebut dengan Ulos Herbang. Ulos tersebut yang sering dijadikan buah tangan yang dibuat dari alat penenun.

Lalu ada ulos yang tidak berbentuk kain. Ulos ini berbentuk tanah atau ladang, biasa disebut dengan Ulos Na So Ra Buruk atau yang memiliki arti ulos yang tak akan pernah lapuk.

Biasanya Ulos Na So Ra Buruk diberikan orang tua untuk anak perempuannya yang baru menikah. Aturannya, tanah atau ladang pemberian tersebut tidak boleh dijual atau diberikan ke orang lain.

"Kemudian ada ulos dalam bentuk uang disebut dengan Ulos-ulos atau Ulos Tonun Sadari. Ada juga ulos dalam bentuk sajian makanan seperti nasi dan ikan," jelas Nelson yang juga merupakan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kabupaten Humbang Hasundutan.

Ulos dalam bentuk kain sendiri memiliki ragam jenis dan makna yang berbeda. Inilah yang membuat ulos begitu istimewa.

Untuk itu pada 2018, Kementerian Pariwisata (sebelum menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) memiliki wacana untuk memperjuangkan Warisan Budaya Dunia Tak Benda dari UNESCO. 

Baca juga: 14 Jenis Ulos, Kain Kebanggaan Suku Batak

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.