Kompas.com - 27/12/2019, 08:03 WIB
Matahari Terbit di Pos IV Gunung Bismo via Silandak (5/10/2019). KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYAMatahari Terbit di Pos IV Gunung Bismo via Silandak (5/10/2019).


WONOSOBO, KOMPAS.com – Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu destinasi favorit bagi para pendaki gunung.

Beberapa gunung yang menjadi tujuan pendaki seperti Sumbing, Sindoro, atau Prau memiliki basecamp pendakian di kawasan Kabupaten Wonosobo.

Bagi pendaki yang ingin menjajal suasana pendakian yang baru, maka Gunung Bismo bisa menjadi tujuan. Itu karena salah satu jalur pendakian gunung tersebut masih relatif baru diresmikan.

Adalah Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang meresmikan jalur pendakian Gunung Bismo via Silandak, Sabtu (20/7/2019) lalu.

Basecamp pendakian Gunung Bismo berada di Dusun Silandak, Desa Slukatan, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo. Jarak tempuh dari pusat Kota Wonosobo adalah sekitar 11 kilometer dengan waktu tempuh kurang-lebih 30 menit.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mulai dengan naik ojek

Kompas.com menjajal langsung jalur pendakian Gunung Bismo, Jumat (4/10/2019) lalu. Pendakian dimulai pada sore hari sekitar pukul 17.00 WIB.

Pendaki Gunung Bismo harus mendaftar terlebih dahulu di basecamp dan melakukan briefing singkat sebelum mulai mendaki. Tarif pendakian adalah Rp 15.000 per orang.

Setelah siap berangkat, ada dua pilihan bagi pendaki, yakni naik ojek sampai menjelang atau langsung berjalan kaki. Tarif ojek adalah Rp 10.000 untuk siang dan Rp 15.000 untuk malam hari.

Jasa ojek pada pendakian Gunung Bismo via Silandak.KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Jasa ojek pada pendakian Gunung Bismo via Silandak.

Jika naik ojek, maka perjalanan bisa lebih cepat sekitar 1,5 jam. Itu karena jalan menuju pos 1 masih berada di kawasan ladang penduduk sehingga bisa dilalui motor.

Nantinya ojek akan mengantar pendaki 100 meter menjelang pos 1. Ojek juga akan menunggu pendaki yang turun di sana.

Selain menghemat waktu, keuntungan lain naik ojek adalah juga menghemat energi dan membantu perekonomian masyarakat.

Masuk jalan setapak Gunung Bismo

Dari batas ojek, rute pendakian mulai memasuki jalan setapak. Sekitar 100 meter dari batas ojek, sampailah perjalanan di pos I dengan shelter sederhana di sana.

Selepas pos I, perjalanan mulai memasuki kawasan semak dan hutan Gunung Bismo. Kondisi jalan meski menanjak, tingkat kemiringannya masih cukup mudah dilalui.

Perjalanan pun akhirnya sampai di Pos II, yakni hutan pakis. Sesuai namanya, terdapat banyak tanaman pakis di sana.

“Kita seperti ada di zaman dinosaurus ya,” kata-kata pendaki asal Wonosobo, Muhammad Bahri Irawan yang menjadi teman pendakian Kompas.com saat itu.

Apa yang dikatakannya memang benar. Hutan pakis tersebut sekilas seperti hutan zaman prasejarah.

Hutan pakis di pendakian Gunung Bismo via Silandak.KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Hutan pakis di pendakian Gunung Bismo via Silandak.

“Kurang dinosaurus-nya ini,” imbuh Irawan sambil tertawa.

Pendaki bisa berkemah di Pos II ini karena tersedia lahan datar yang cukup luas. Perlu diketahui,tempat berkemah pendakian Gunung Bismo via Silandak hanya diizinkan di Pos II dan Pos IV.

Bahkan saat cuaca buruk seperti hujan atau badai, tempat berkemah hanya diizinkan di Pos II saja demi keselamatan pendaki.

Usai Pos II, jalur pendakian masih berada di kawasan hutan yang cukup lebat. Kondisi jalur tetap menanjak, tetapi masih dalam batas wajar.

Pos III hanya berupa tanah datar yang tidak terlalu luas dengan dikelilingi semak belukar. Kondisi demikian membuat Pos III kurang pas untuk dijadikan lokasi berkemah.

Masuk tanjakan ekstrem

Sesampainya di Pos III, pendaki hendaknya mulai mempersiapkan diri karena jalur pendakian akan memasuki bagian paling sulit.

Akan banyak dijumpai tanjakan yang cukup terjal di antara Pos III menuju Pos IV. Beberapa di antaranya bahkan dipasangi tali rotan sebagai pegangan pendaki saat naik atau turun.

Pendaki juga akan melewati salah satu trek yang cukup unik bernama Terowongan Mesra. Sesuai namanya, jalur pendakian itu seperti terowongan karena tanaman yang cukup rimbun sehingga menyerupai terowongan.

Menjelang Pos IV, pendaki akan dihadapkan dengan tanjakan curam. Entah mengapa pengelola jalur pendakian menamainya dengan Tanjakan ginuk-ginuk yang dalam bahasa Indonesia berarti semok.

Tanjakan Ginuk-ginuk di pendakian Gunung Bismo via Silandak yang curam (5/10/2019).KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Tanjakan Ginuk-ginuk di pendakian Gunung Bismo via Silandak yang curam (5/10/2019).

Butuh usaha ekstra bagi pendaki untuk bisa melalui tanjakan ini saking curamya. Beruntung karena selain tidak terlalu panjang, telah tersedia tali dari rotan dan kabel untuk pegangan.

“Ini ntar turunnya gimana ya, curam begini?” kata Irawan mengomentari terjalnya jalur yang harus dilalui.

Usai melewati Tanjakan Ginuk-ginuk, pendaki akan sampai di Pos IV Gunung Bismo via Silandak. Di sinilah tempat berkemah terbaik sebelum menuju puncak pada pagi hari.

Keindahan malam hingga matahari terbit

Pos IV tidak hanya menjadi lokasi favorit berkemah karena lahan datar yang luas. Panorama dari sana juga begitu indah, terutama ke arah timur dan tenggara yang tidak terhalang oleh pepohonan.

Saat malam hari, gemerlap lampu Kota/Kabupaten Wonosobo di bawah Gunung Sindoro-Sumbing tampak begitu menawan.

Panorama Kabupaten Wonosobo di mala hari dari Pos IV pendakian Gunung Bismo via Silandak.KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Panorama Kabupaten Wonosobo di mala hari dari Pos IV pendakian Gunung Bismo via Silandak.

Dengan teknik yang tepat, panorama malam seperti itu dapat diabadikan dengan baik sebagai oleh-oleh mendaki Gunung Bismo.

Sisi timur yang terbuka juga membuat indahnya matahari terbit bisa dinikmati dengan leluasa. Ia akan muncul berdampingan dengan Gunung Sindoro dan Sumbing sehingga terlihat semakin memesona.

Dari kejauhan, tampak pula salah satu obyek wisata andalan di Kabupaten Wonosobo, yakni Telaga Menjer yang terlihat seperti kubangan air.

Matahari Terbit di Pos IV Gunung Bismo via Silandak (5/10/2019).KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Matahari Terbit di Pos IV Gunung Bismo via Silandak (5/10/2019).

Usai puas menikmati momen matahari terbit, maka perjalanan bisa dilajutkan menuju puncak. Tenda dan perlengkapan lain seperti kompor tidak perlu dibawa.

Cukup bawa barang-barang berharga dan logistik secukupnya di dalam tas kecil jika ada agar barang bawaan lebih ringan.

Tulisan bersambung ke bagian dua....

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

7 Promo Hari Ulang Tahun AirAsia, Ada Diskon hingga 80 Persen

7 Promo Hari Ulang Tahun AirAsia, Ada Diskon hingga 80 Persen

Travel Promo
DAMRI Buka Rute Angkutan Kota dari Bandung ke Yogyakarta

DAMRI Buka Rute Angkutan Kota dari Bandung ke Yogyakarta

Travel Update
Jangan Bawa 5 Benda Ini dari Pesawat, Awas Bisa Dipidana

Jangan Bawa 5 Benda Ini dari Pesawat, Awas Bisa Dipidana

Travel Tips
10 Benda di Pesawat yang Boleh Dibawa Pulang, Ada Makanan dan Majalah

10 Benda di Pesawat yang Boleh Dibawa Pulang, Ada Makanan dan Majalah

Travel Tips
Museum Ghibli Jepang Galang Dana akibat Pandemi Covid-19

Museum Ghibli Jepang Galang Dana akibat Pandemi Covid-19

Travel Update
5 Benda Wajib Bawa Saat Perjalanan Selama Masa Pandemi Covid-19

5 Benda Wajib Bawa Saat Perjalanan Selama Masa Pandemi Covid-19

Travel Tips
Simpan Dulu, Ini Ide Wisata Edutainment Ramah Anak untuk Destinasi Liburan

Simpan Dulu, Ini Ide Wisata Edutainment Ramah Anak untuk Destinasi Liburan

Travel Tips
Syarat Naik Pesawat Selama Libur Nataru per 24 Desember 2021, Bisa PCR atau Antigen

Syarat Naik Pesawat Selama Libur Nataru per 24 Desember 2021, Bisa PCR atau Antigen

Travel Update
Lion Air Buka Rute Baru Makassar-Biak PP, Harga Mulai Rp 1 Juta

Lion Air Buka Rute Baru Makassar-Biak PP, Harga Mulai Rp 1 Juta

Travel Promo
Syarat Naik Kereta Api Periode Nataru per 24 Desember 2021, Bawa Kartu Vaksin

Syarat Naik Kereta Api Periode Nataru per 24 Desember 2021, Bawa Kartu Vaksin

Travel Update
Daftar Kereta Api Jarak Jauh Daop 1 Jakarta yang Beroperasi pada Desember 2021

Daftar Kereta Api Jarak Jauh Daop 1 Jakarta yang Beroperasi pada Desember 2021

Travel Update
Okupansi Hotel di Aceh untuk Libur Nataru Baru 40 Persen

Okupansi Hotel di Aceh untuk Libur Nataru Baru 40 Persen

Travel Update
Libur Nataru, Wisata Gunung Pandan di Aceh Tamiang Tutup

Libur Nataru, Wisata Gunung Pandan di Aceh Tamiang Tutup

Travel Update
10 Fakta Menarik Gunung Semeru, Rumah Tertinggi Sepasang Arca Kuno

10 Fakta Menarik Gunung Semeru, Rumah Tertinggi Sepasang Arca Kuno

Jalan Jalan
Erupsi Gunung Semeru Tak Berdampak pada Wisata Bromo

Erupsi Gunung Semeru Tak Berdampak pada Wisata Bromo

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.