Itinerary 1 Hari Naik Bus Tingkat Wisata Rute History of Jakarta

Kompas.com - 25/01/2020, 21:50 WIB
Masyarakat mengantre saat menaiki bus wisata di kawasan Monumen Nasional, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (29/12/2019). Bus wisata dimanfaatkan masyarakat untuk berkeliling ibukota bersama keluarga secara gratis. KOMPAS.com/M LUKMAN PABRIYANTOMasyarakat mengantre saat menaiki bus wisata di kawasan Monumen Nasional, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (29/12/2019). Bus wisata dimanfaatkan masyarakat untuk berkeliling ibukota bersama keluarga secara gratis.

JAKARTA, KOMPAS.com - Jika suka jalan-jalan dan ingin menghabisakan waktu senggang yang bermanfaat, kamu bisa berkeliling dengan bus tingkat wisata gratis di Jakarta.

Ada tujuh rute bus wisata tingkat yang disediakan Pemprov DKI Jakarta, salah satunya adalah  History of Jakarta (BW 1). 

Kompas.com berkesempatan keliling naik bus tingkat tersebut dengan rute BW 1. Lantas, apa yang menarik?

Seperti namanya, History of Jakarta, maka rute yang dilintasi pun terkait sejarah Jakarta. Kamu akan diajak berkeliling sejumlah tempat bersejarah di Jakarta dengan bus wisata tingkat gratis ini.

Baca juga: Libur Lebaran, Bus Wisata Werkudara Solo Diserbu Wisatawan

Untuk menaiki bus BW1 rute pertama kamu bisa mulai naik dari Juanda atau Monas, lalu berhenti dititik Balai Kota-Museum Nasional-Gedung Arsip- Glodok-Museum Bank Indonesia-BNI-dan tujuan akhir di Kota Tua atau di Stasiun Kota.

Kompas.com merangkum lima tempat bersejarah di Jakarta yang bisa kamu kunjungi jika naik bus wisata rute History of Jakarta.

1. Museum Nasional

Tampak muka Museum Nasional di kawasan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, yang juga dikenal dengan Museum Gajah. Gambar diambil pada 22 Juli 2017. KOMPAS/RIZA FATHONI Tampak muka Museum Nasional di kawasan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, yang juga dikenal dengan Museum Gajah. Gambar diambil pada 22 Juli 2017.
Museum Nasional bisa jadi salah satu tempat bersejarah pertama yang bisa kamu kunjungi saat naik bus wisata keliling rute History of Jakarta. Museum Nasional juga punya sebutan lain, Museum Gajah, karena di halaman depan terdapat bentuk patung gajah.

Baca juga: Keramik hingga Emas Berharga di Museum Gajah

Di musuem ini, kamu bisa menemukan benda-benda bersejarah saat zaman kerajaan Hindu-Buddha kuno yang terdiri dari arca, bagunan candi yang didatangkan dari berbagai seluruh kota di Indonesia.

Kamu juga bisa menemukan musik tradisional khas Jawa, gamelan. Biasanya, gamelan ini digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang dan sinden.

 

2. Gedung Arsip

Gedung Arsip Nasional
Shutterstock Gedung Arsip Nasional
Sesudah berjalan-jalan mengunakan bus wisata BW 1 (History of Jakarta), kamu akan diantarkan ke Gedung Arsip Indonesia, tepatnya di Jalan Gajah Mada No 111, Jakarta Barat.

Tampak dari depan, gedung ini terlihat megah dengan arsitektur bangunan Belanda yang bergaya ala vintage. Dulunya gedung ini memang merupakan tempat kediaman Jendral VOC yang bernama Reinier De Klerk, dan didirikan pada tahun 1750 pada abad ke 18.

Baca juga: 3 Tempat Wisata Bersejarah di Pasar Lama Tangerang

Saat masuk ke bagian dalam, kamu akan melihat barang-barang kuno yang terdiri dari senjata, lukisan, dan barang-barang klasik lainnya yang dibuat dari ukiran-ukiran kayu.

Setelah berkeliling di halaman utama, pada halaman belakang terdapat sebuah lapangan yang hijau. Di depan lapangan tersebut juga terdapat sebuah lonceng yaang dahulu digunakan untuk memanggil tentara Belanda dalam rangka mengikuti Apel.

Namun zaman sudah berubah, kini lapangan tersebut digunakan untuk acara-acara resepsi yang biasanya digelar pada malam hari, agar terkesan bergaya pernikahan ala vintage.

3. Museum Bank Indonesia

Museum Bank IndonesiaKOMPAS.COM/NICKY AULIA WIDADIO Museum Bank Indonesia
Masih dengan menggunakan fasilitas bus wisata tingkat keliling BW 1, kamu akan diajak mengunjungi Museum Bank Indonesia.

Di museum ini, kamu bisa melihat sejarah perkembangan mata uang Indonesia dari pertama kali masuk hingga saat ini.

Dulu, gedung ini merupakan sebuah rumah sakit, namun pada tahun 1928 pemerintah Belanda mengganti menjadi sebuah bank yang bernama De Javasche Bank.

Baca juga: Bank Indonesia Angkat Pamor Tenun Ikat Bali

Setelah Indonesia merdeka di tahun 1953, De Javasche bank diresmikan menjadi bank sentral Indonesia atau Bank Indonesia.

Saat masuk pertama kali, kamu akan mendapat edukasi soal jenis mata uang hingga sejarah keuangan Indonesia. Kemudian di ruangan lain terdapat ruangan galeri miniatur pemerintahan Belanda saat mengincar rempah-rempah milik Indonesia.

Setelah itu, kamu disuguhkan mengenai sejarah Bank Indonesia mulai dari koleksi uang milik Bank Indonesia dan emas. 

Baca juga: Ekspedisi Sejarah di Museum Bank Indonesia

Untuk berkunjung, kamu dapat menikmatinya setiap hari Selasa-Minggu pukul 08.00-16.00 WIB.

 

4. Glodok

Suasana Jalan Kemenangan, Glodok, Jakarta Barat, Minggu (4/3/2018) pukul 11.04 WIB terpantau ramai.Suasana Jalan Kemenangan, Glodok, Jakarta Barat, Minggu (4/3/2018) pukul 11.04 WIB terpantau ramai. Suasana Jalan Kemenangan, Glodok, Jakarta Barat, Minggu (4/3/2018) pukul 11.04 WIB terpantau ramai.
Mendengar kata Glodok, mungkin kamu terbayang pusat penjualan peralatan elektronik. Dulu, kawasan pecinan ini sempat menjadi salah satu denyut perekonomian Jakarta.

Namun, seiring berjalannya, zaman pasar elektronik Glodok tak sepopuler dahulu. Kini orang lebih cenderung berbelanja elektronik lewat media online.

Namun, hal yang membuat Glodok ini tetap hidup adalah pusat kuliner khas Pecinan, dan pernak-pernik Tionghoa.

Baca juga: Sering Dibilang Angker, Ini Sejarah Gedung Kuno di Kawasan Glodok

Berbagai pusat kuliner yang sering diburu dan diminati adalah Kari Liam, Soto Betawi Afung, Gado-gado Direksi, manisan, Kopi es Tak Kie, dan masih banyak lagi.

Jadi tempat ini sangat cocok bagi kamu yang saat lapar atau sekedar ingin membeli makanan kecil disini setelah keliling tempat bersejarah di Jakarta.

5. Kota Tua, Museum Fatahillah 

Pengunjung wisata Kota Tua Jakarta yang menonton musik Akustik Kota Tua, Rabu (27/11/2019) sore.Nicholas Ryan Aditya Pengunjung wisata Kota Tua Jakarta yang menonton musik Akustik Kota Tua, Rabu (27/11/2019) sore.
Museum Fatahillah, Kota Tua, tak jauh dari daerah Glodok. Kawasan Kota Tua boleh dibilang jadi saksi bisu zaman penjajahan Belanda.

Maka tak heran, bangunan-bangunan yang berada di kawasan ini punya arsitektur khas Belanda. Museum ini juga menceritakan mengenai alat-alat dan tempat penyiksaan yang dilakukan Belanda terhadap pribumi saat itu.

Baca juga: Wisata Lombok, Contek Itinerary 1 Hari di Kota Tua Ampenan

Di tempat ini juga tersedia ruang penjara bawah tanah dengan kapasitas sempit.

Untuk menikmati di museum ini, kamu cukup membayar Rp 5.000, dan museum ini dibuka pada hari Selasa-Minggu Pukul 09.00-15.00 WIB.

Bagaimana, cukup puas untuk menggali informasi mengenai bangunan dan cerita-cerita sejarah di Jakarta dengan menggunakan bus wisata rute History of Jakarta dengan gratis?

Untuk kembali ke Juanda atau Monas, kamu bisa menunggu bus wisata di tempat pemberhentian tadi dengan rute nama bus sama--BW1 History of Jakarta.

Baca juga: 7 Kegiatan Seru di Kota Tua Jakarta, Liburan Murah Meriah

Jangan bingung, karena ada pertugas yang siap membantu kamu untuk mengarahkan keberangkatan bus wisata tersebut. Jika bingung, kamu bisa tanya petugas.

Rangkaian bus wisata tingkat gratis itu beroperasi pada hari Senin-Sabtu pukul 10.00 – 18.00 WIB, dan hari Minggu pukul 12.00- 19.00 WIB.

Selain bus BW1 yang mengenalkan History of Jakarta terdapat bus-bus Tour destinasi lainnya yaitu Jakarta Modern (BW2), Art and Culinary (BW3), Jakarta Skyscrapers (BW4), Jakarta Open Space (BW5), Jakarta Heritage (BW6), dan Jakarta Shopping (BW7).

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X