Ngejot, Tradisi Lintas Keyakinan di Bali yang Sarat Makna

Kompas.com - 18/02/2020, 09:15 WIB
Lawar Ayam khas Bali di Warung Legian pada Bazar Indonesia, di Brussel, Belgia, Minggu (30/8/2015). MADE AGUS WARDANALawar Ayam khas Bali di Warung Legian pada Bazar Indonesia, di Brussel, Belgia, Minggu (30/8/2015).

JAKARTA, KOMPAS.com - Hari Penampahan adalah sebutan untuk satu hari sebelum Hari Raya Galungan. Dalam hari itu, terdapat satu tradisi yang kerap dilakukan umat Hindu Bali-- ngejot.

Menurut Guru Besar Pariwisata Universitas Udayana I Gede Pitana, tradisi ngejot adalah aktivitas pemberian makanan kepada tetangga, baik itu sesama umat Hindu maupun non-Hindu.

"Orang Bali itu, untuk tetangga yang non-Hindu membuat makanan khusus yang tidak ada daging babinya. Biasanya kita masak daging ayam khusus untuk para tetangga non-Hindu seperti tetangga Muslim," kata Pitana saat dihubungi Kompas.com, Jumat (14/2/2020).

Baca juga: Susah tetapi Seru, Belajar Masak Lawar dan Sate Lilit

Pitana menuturkan, toleransi masyarakat Bali sangat tinggi. Oleh karena itu, pemberian makanan dalam tradisi ngejot kepada para tetangga masih dilakukan hingga saat ini.

Tradisi ngejot dilakukan jika seseorang baru mendapatkan pekerjaan atau mereka memiliki lauk cukup banyak. Tradisi tersebut bagiann dari berbagi kebahagiaan kepada tetangga.

Bahkan, tradisi tersebut kerap disebut sebagai sebuah ikatan kekeluargaan luar biasa karena tidak dibatasi oleh perbedaan keyakinan.

Baca juga: Pelesir ke Sangeh? Mampir dan Cicipi Lawar Sapi Men Daging

"Toleransi di Bali dan hidup secara bersama-sama itu sudah menjadi bagian dari kebudayaan kami," tutur Pitana.

Pelaksanaan tradisi ngejot

Seorang warga muslim melakukan tradisi Ngejot di BaliAntaranews Seorang warga muslim melakukan tradisi Ngejot di Bali
Pitana mengatakan, tradisi ngejot tidak dilakukan pada saat menjelang Galungan. Namun, tradisi ini juga tidak dilakukan setiap hari.

Dahulu, tradisi ngejot dilakukan saat seseorang memiliki makanan tidak biasa di kehidupan sehari-harinya.

Baca juga: Sate Lilit Ikan dari Pantai Lebih

Saat makan daging, misalnya, tradisi tersebut dilakukan lantaran memakan daging merupakan sesuatu luar biasa . Hal ini tak lepas biasanya masyarakat hanya memakan sayur.

"Jadi kalau kita punya daging, kita ngelawar. Lalu kita ngejot ke tetangga. Tetapi ngejot terutama pada waktu kita punya pesta besar seperti Galungan,” tutur Pitana.

Satu hal yang unik di Bali adalah di samping tradisi ngejot dilakukan untuk berbagi makanan kepada mereka yang tidak memilikinya, juga pemberian kebahagiaan tersebut juga dilakukan antar sesama.

Baca juga: Dibuai Kelezatan Sate Lilit Asal Bali

Apabila kamu membuat lawar daging dan ada tetanggamu yang juga membuat lawar daging, Pitana mengatakan, maka bisa ngejot dengan saling bertukar makanan.

Lebih dari pertukaran makanan

Warga Katolik di Bali berbagi kebahagiaan jelang Natal dengan membagikan beragam menu kepada warga Hindu - Bali jelang Natal. Saat Galungan dilakukan warga Hindu-Bali dengan berbagi dengan tetangga yang berbeda agama. Tradisi ini sering dikenal dengan ngejotRobinson Gamar Warga Katolik di Bali berbagi kebahagiaan jelang Natal dengan membagikan beragam menu kepada warga Hindu - Bali jelang Natal. Saat Galungan dilakukan warga Hindu-Bali dengan berbagi dengan tetangga yang berbeda agama. Tradisi ini sering dikenal dengan ngejot
Menurut Pitana, tradisi ngejot bukanlah sekadar pertukaran makanan, melainkan sudah tentang keakraban.

"Dalam kepercayaan di Bali, keakraban itu bisa ditunjukkan dengan makanan. Kalau orang kasih makanan kemudian kita tidak mau makan, itu bisa jadi petaka. Konflik besar," kata Pitana.

"Kalau kita kasih makan kemudian dimakan, segala permusuhan akan hilang karena sudah berani makan makanan yang diberikan orang lain," lanjutnya.

Baca juga: Wisata ke Bali saat Galungan dan Kuningan, Jangan Lupakan 4 Hal Berikut

Dia melanjutkan, dengan saling memakan makanan yang diberikan, hal tersebut juga menunjukkan saling percaya bahwa dalam makanan yang ditukar tersebut tidak akan mencelakai.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X