Pemerintah Jawa Tengah Dorong Desa Wisata Jadi "Borobudur Baru"

Kompas.com - 29/02/2020, 21:07 WIB
Wisatawan berfoto di wahana wisata alam Ondo Langit Bukit Gumuk Reco, Desa Wisata Sepakung, Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Minggu (10/2/2019). Wahana lintasan jembatan sepanjang 25 meter di pinggir tebing dengan ketinggian 25 meter dari permukaan tanah itu dikelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sido Dadi bersama Kelompok Sadar Wisata Desa Sepakung yang diharapkan mampu menarik wisatawan dalam maupun luar Kabupaten Semarang. ANTARA FOTO/AJI STYAWAN Wisatawan berfoto di wahana wisata alam Ondo Langit Bukit Gumuk Reco, Desa Wisata Sepakung, Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Minggu (10/2/2019). Wahana lintasan jembatan sepanjang 25 meter di pinggir tebing dengan ketinggian 25 meter dari permukaan tanah itu dikelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sido Dadi bersama Kelompok Sadar Wisata Desa Sepakung yang diharapkan mampu menarik wisatawan dalam maupun luar Kabupaten Semarang.

Sinoeng mengatakan penting untuk membuat wisata berkelanjutan. Salah satunya dengan cara memilih atraksi desa wisata yang beragam.

Pola di banyak desa wisata saat ini adalah menjual hal yang sama. Misalnya, desa yang satu unggul sebagai sentra penjualan jaket kulit, lalu desa lain di sekitarnya juga ikut menjual jaket kulit.

“Jangan seperti itu. Sebaiknya jika satu desa itu ada potensi, harus tengok kiri kanan. Ada enggak yang punya potensi sama? Kalau sudah ada, ya jangan,” tutur Sinoeng.

Baca juga: 4 Desa Wisata Indonesia Mendunia, Yuk Simak Aktivitas Seru di Sana

“Karena kalau kita melakukan sesuatu yang sama dengan tetangga kita, itu artinya kita melakukan bunuh diri ekonomi,” lanjutnya.

Ia menjelaskan pasar akan mudah jenuh jika atraksi desa wisata satu dengan yang lain serupa.

Konsep utama desa wisata yang ingin digagas pemerintah daerah Jawa Tengah adalah desa wisata dengan konsep Bala Desa.

 

Artinya, desa wisata yang terdiri dari beberapa sistem pendukung, saling melengkapi satu sama lain.

“Kalau berkelanjutan itu artinya, misalnya satu orang datang ke Borobudur saat masih kecil. Lalu dia datang lagi ke Borobudur ketika sudah besar dan punya anak sendiri. Itu berkelanjutan,” tutup Sinoeng.

Baca juga: Penglipuran, Desa Wisata Bali dengan Sederet Penghargaan

Desa wisata ini memang jadi salah satu program yang akan digarap dengan sangat serius.

Menurut Sinoeng, Pemerintah daerah Jawa Tengah sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp 1 miliar pada desa wisata yang sudah maju.

Lalu Rp 500 juta untuk desa wisata menengah, dan Rp 100 juta untuk yang baru muncul.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X