Bukan Tempat Wisata, Ketahui Seluk Beluk Ranu Manduro "Feeling Good"

Kompas.com - 04/03/2020, 19:06 WIB
Suasana di Ranu Manduro, padang rumput bekas kawasan pertambangan, di Desa Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto Jawa Timur. KOMPAS.COM/MOH. SYAFIÍSuasana di Ranu Manduro, padang rumput bekas kawasan pertambangan, di Desa Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto Jawa Timur.

Namun Susilo mengatakan jika masih banyak warga setempat yang masih membuka kawasan ini untuk umum.

Baca juga: Ranu Manduro Ditutup Pemilik Lahan, Pemerintah Desa Lobi agar Tetap Dibuka

"Itu bukan tempat wisata melainkan lokasi pertambangan yang masih aktif. Pemkab menyerahkan kepada pemilik lahan karena dia yang berhak atas lahan tersebut karena di situ merupakan wilayah pertambangan," jelas Amat Susilo saat dihubungi oleh Kompas.com, Rabu (4/3/2020).

Pemkab Mojokerto tidak ada niatan untuk mengambil alih Ranu Manduro dan menjadikannya sebagai tempat wisata.

Ia menjabarkan jika keputusan berada di tangan pemilik lahan. Bagaimana pun juga lahan tersebut mengantongi izin pertambangan bukan tempat wisata.

Ia juga mengimbau bagi pengunjung yang bertandang ke Ranu Manduro untuk berhati-hati mengingat lahan tersebut adalah area tambang.

"Kepada pengunjung supaya waspada dan berhati-hati karena itu sejatinya wilayah pertambangan yang masih aktif bukan tempat wisata, tanahnya masih labil banyak kubangan dan batu besar," imbaunya.

Susilo juga menegaskan jika pengunjung harus ekstra hati-hati. Mengingat cuaca yang masih  ekstrim, hujan deras disertai angin bisa menimbulkan kecelakaan ringan hingga berat.

Foto dan video viral menjadikan tempat ini begitu padat pengunjung

Sebelum foto maupun video Ranu Manduro viral, sebenarnya sudah banyak pengunjung yang mengetahui keindahan alam di sini.

Namun bak gula diserbu semut, Ranu Manduro sudah dikerubungi oleh pengunjung hingga menyebabkan kemacetan hebat.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Mojokerto, Amat Susilo tidak memberikan informasi detail mengenai kerusakan yang ditimbulkan atau rusaknya fasilitas dalam lahan tersebut sejauh ini.

"Mohon maaf karena itu milik swasta kami tidak begitu aktif mengikuti perkembangan secara detail," kata Amat Susilo kepada Kompas.com.

Menurut video yang diunggah oleh @mojokerto_story dalam akun Instagram-nya, memperlihatkan betapa runyamnya arus keluar dan masuk menuju Ranu Manduro.

Segerombol orang terlihat terperangkap tidak bisa keluar dari kerumunan. Salah satu orang mengatakan "yang keluar tidak bisa keluar, yang mau masuk tidak bisa masuk." Video tersebut diunggah pada Minggu (1/3/2020) lalu.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X