Perjalanan Bubur Cikini yang Legendaris, Sering Kucing-kucingan dengan Petugas Keamanan

Kompas.com - 13/03/2020, 11:40 WIB
Bubur telur di Bubur Ayam Cikini H.R. Suleman Kompas.com / Gabriella WijayaBubur telur di Bubur Ayam Cikini H.R. Suleman

JAKARTA, KOMPAS.com -  "Bubur telurnya empat bang," teriak pengujung seakan menyambut saya datang di Bubur Ayam Cikini H.R. Suleman.

Terlihat karyawan kedai yang tenar dengan nama Bubur Cikini mondar-mandir melayani keinginan pengunjung.

Ada yang membuat martabak, ada yang membuat canai, ada yang membuat nasi goreng dan yang paling sibuk ada dibagian bubur.

Saat tutup penanak bubur diangkat, asap dan aroma wangi memikat hidung saya. Seakan memanggil untuk segara menyantap bubur.

Baca juga: Bubur Cikini H.R. Suleman, Kedai Bubur Legendaris Jakarta Sejak 1960-an

Namun siapa sangka, tempat bubur yang legendaris di Jakarta Pusat ini dulunya masih berjualan dengan gerobak.

"Dulu enggak punya tempat sendiri. Jadi bingung, kalau dagang itu uber-uberan sama kamtib," jelas Jhony salah satu karyawan Bubur Cikini, ditemui di Bubur Ayam Cikini H.R. Suleman, Jakarta, Minggu (29/2/2020).

Ia mendapat cerita dari generasi ke tiga H.R. Suleman yang kini memegang kendali atas Bubur Ayam Cikini H.R. Suleman.

Saat awal merintis usaha bubur pada 1960an, H.R. Suleman kesulitan mencari tempat kondusif tanpa harus dikejar-kejar petugas keamanan dan ketertiban (kamtib). 

Bahkan dulu gerobak dagangan Bubur Cikini sering diangkut paksa oleh petugas kamtib karena ketahuan berjualan di trotoar pinggir jalan.

Baca juga: Nostalgia Tiga Generasi di Soto Betawi Haji Maruf, Berdiri Sejak 1940

 

Sebelum dapat tempat permanen, karyawan Bubur Cikini harus mendorong dua gerobak. Satu geronak untuk bubur dan satu gerobak untuk martabak.

Proses peletakan kuning telur di atas bubur, khas bubur cikiniKompas.com / Gabriella Wijaya Proses peletakan kuning telur di atas bubur, khas bubur cikini

Alhasil karyawan Bubur Cikini harus kucing-kucingan dengan petugas kamtib.

Jika tempat mangkal gerobak sudah ditandai oleh petugas kamtib maka para karyawan harus berpindah ke tempat lain.

"Sempat dulu bangku diambil, akhirnya buka enggak pakai bangku, tenda juga diambilin, cerita ini dari orang-orang yang sudah lama disini juga," jelas pria paruh baya itu.

Untuk menyiasati petugas kamtib, gerobak Bubur Cikini punya tiga titik lokasi yaitu di depan Pengadilan Tinggi Jakarta Pusat, di depan bangunan yang kini menjadi KFC Cikini, terkadang di persimpangan Jalan Cilacap.

Namun saat tahun 1990-an, seorang pemilik toko buah menawarkan rukonya untuk ditempati Bubur Ayam Cikini H.R. Suleman.

Ruko ini yang sekarang menjadi tempat bubur cikini berada sekarang.

Bubur Cikini tampak depan. Bubur Ayam Cikini H.R. Suleman berada di Jalan Cisadane No.121, RW.4, Cikini, Kec. Menteng, Kota Jakarta PusatKompas.com / Gabriella Wijaya Bubur Cikini tampak depan. Bubur Ayam Cikini H.R. Suleman berada di Jalan Cisadane No.121, RW.4, Cikini, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat

Lokasi ini sangat strategis, berada di jalan besar dan langsung menghadap persimpangan. Sehingga orang-orang mudah untuk menemukannya.

Jatuh bangun dan kerja keras H.R. Suleman kini sudah terbayar. Kerja kerasnya bahkan bisa di rasakan anak, cucu, hingga cicitnya.

Bubur Ayam Cikini H.R. Suleman, menjadi salah satu kuliner legendaris yang masih diburu masyarakat Jakarta.

Baca juga: Gado-gado Bon Bin, Kuliner Legendaris Jakarta Sejak 1960

Awalnya jualan martabak

Walaupun hidangan bubur yang paling digandrungi masyarakat, pada awalnya usaha Bubur Cikini justru dirintis dengan berjualan martabak.

Hidangan bubur hadir karena H.R. Suleman ingin berinovasi dengan bisnis kulinernya dan saat itu bubur sedang jadi tren masyarakat Ibu Kota.

Baca juga: Alasan Rumah Makan Legendaris Soto Betawi Haji Maruf Tak Membuka Waralaba

Martabak menjadi hidangan pertama yang dipilih H Suleman, tidak lepas dari pengaruh kebudayaan India dalam keluarganya.

H.R. Sulaeman diketahui masih memiliki darah India dari sang ibu. 

Seorang karyawan menyiapkan bubur ayam telur untuk pelanggan di Bubur CikiniKompas.com / Gabriella Wijaya Seorang karyawan menyiapkan bubur ayam telur untuk pelanggan di Bubur Cikini

"Pak Suleman saat itu berpikir jika bubur memang makanan yang bisa dimakan oleh semua kalangan, dari anak kecil, orang dewasa bahkan sampai orang sakit," jelasnya.

Saat hidangan bubur ditambahkan ke dalam menu, penjualan martabak jadi sedikit menurun.  

Kini selain martabak, bubur dan canai Bubur Ayam Cikini H.R. Suleman juga menghidangkan nasi goreng, mi rebus dan mi goreng.

Baca juga: Asal-usul Es Teler, Benarkah Berawal dari Kedai Es Teler Sari Mulia Asli?

Makanan paling favorit di sini adalah bubur telur seharga Rp 27.500.

Makanan lainnya bubur biasa Rp 24.200, martabak telur Rp 25.000 hingga Rp 66.000, ada pula canai seharga Rp 9.000. Serta tidak ketinggalan ada nasi goreng, mi goreng dengan harga Rp 22.000 hingga Rp 25.000.

Untuk mencicipi Bubur Cikini, kamu bisa langsung datang ke Jalan Cisadane Nomor 121, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.

Bubur Ayam Cikini H.R. Suleman buka setiap hari mulai dari pukul 06.00 hingga 23.00 WIB.

Bubur Cikini H.R. Suleman merupakan rumah makan keempat dari liputan khusus bersambung "50 Tempat Makan Legendaris di Jakarta".

Artikel rekomendasi tempat makan legendaris di Jakarta ini akan tayang setiap Jumat selama 50 pekan ke depan. Nantikan kisah para perintis kuliner Jakarta berikutnya di Kompas.com.

 

 

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sejarah Rempah di Indonesia, Ada Pengaruh dari India, Spanyol, dan Portugis

Sejarah Rempah di Indonesia, Ada Pengaruh dari India, Spanyol, dan Portugis

Makan Makan
Longgarkan Lockdown, Restoran dan Kafe di Selandia Baru Buka Kembali Termasuk McDonald's dan KFC

Longgarkan Lockdown, Restoran dan Kafe di Selandia Baru Buka Kembali Termasuk McDonald's dan KFC

Makan Makan
Apa Bedanya Biji Kopi Robusta dan Arabika? Mulai dari Bentuk, Rasa, sampai Proses Pengolahan

Apa Bedanya Biji Kopi Robusta dan Arabika? Mulai dari Bentuk, Rasa, sampai Proses Pengolahan

Makan Makan
Hari Susu Sedunia 2020, Apa Bedanya Susu UHT dengan Susu Pasteurisasi?

Hari Susu Sedunia 2020, Apa Bedanya Susu UHT dengan Susu Pasteurisasi?

Makan Makan
Gandeng Bali Paragon Resort Hotel, Kemenparekraf Sediakan 346 Kamar untuk Nakes

Gandeng Bali Paragon Resort Hotel, Kemenparekraf Sediakan 346 Kamar untuk Nakes

Whats Hot
Hari Susu Sedunia 2020, Sejak Kapan Manusia Mulai Minum Susu?

Hari Susu Sedunia 2020, Sejak Kapan Manusia Mulai Minum Susu?

Makan Makan
Hari Susu Sedunia 2020, Kenapa Lembang Jadi Daerah Penghasil Susu Pertama di Indonesia?

Hari Susu Sedunia 2020, Kenapa Lembang Jadi Daerah Penghasil Susu Pertama di Indonesia?

Makan Makan
Bali Paragon Resort Hotel Siapkan 297 Kamar untuk Tenaga Medis

Bali Paragon Resort Hotel Siapkan 297 Kamar untuk Tenaga Medis

Whats Hot
Negara-negara di ASEAN Bisa Jadi Contoh Indonesia Sebelum Buka Pariwisata

Negara-negara di ASEAN Bisa Jadi Contoh Indonesia Sebelum Buka Pariwisata

Whats Hot
Virtual Tour Mendaki Gunung Rinjani, Peserta Pakai Jaket Gunung

Virtual Tour Mendaki Gunung Rinjani, Peserta Pakai Jaket Gunung

Jalan Jalan
Liburan ke Jeju, Yuk Nginap di Resor Legend of the Blue Sea

Liburan ke Jeju, Yuk Nginap di Resor Legend of the Blue Sea

Jalan Jalan
Angkasa Pura II Perpanjang Pembatasan Penerbangan hingga 7 Juni

Angkasa Pura II Perpanjang Pembatasan Penerbangan hingga 7 Juni

Whats Hot
Bali Tak Kunjung Buka Pariwisata, Apa Alasannya?

Bali Tak Kunjung Buka Pariwisata, Apa Alasannya?

Whats Hot
Bali Perlu Inovasi Pariwisata untuk Hadapi New Normal

Bali Perlu Inovasi Pariwisata untuk Hadapi New Normal

Whats Hot
Kisah Unik Desa Pancasila di Kaki Gunung Tambora, Seperti Apa?

Kisah Unik Desa Pancasila di Kaki Gunung Tambora, Seperti Apa?

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X