Status Pandemi Virus Corona, Pemerintah Indonesia Tinjau Ulang Bebas Visa?

Kompas.com - 14/03/2020, 08:53 WIB
Sejumlah wisatawan asing berjemur di pinggir pantai Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (16/8/2018). Kawasan wisata Mandalika tidak terdampak oleh bencana gempa dan tetap ramai dikunjungi wisatawan asing, pihak ITDC mengundang wisatawan untuk tetap berkunjung ke kawasan pariwisata Lombok yang tidak terdampak gempa sehingga dapat mendukung pemulihan industri pariwisata dan ekonomi masyarakat setempat. ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDISejumlah wisatawan asing berjemur di pinggir pantai Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (16/8/2018). Kawasan wisata Mandalika tidak terdampak oleh bencana gempa dan tetap ramai dikunjungi wisatawan asing, pihak ITDC mengundang wisatawan untuk tetap berkunjung ke kawasan pariwisata Lombok yang tidak terdampak gempa sehingga dapat mendukung pemulihan industri pariwisata dan ekonomi masyarakat setempat.

KOMPAS.com - Status pandemi virus corona atau Covid-19 disebut membuat kewaspadaan seluruh dunia meningkat, sehingga banyak negara meninjau kembali kebijakan bebas visa.

Lalu bagaimana Indonesia merespon peninjauan kembali kebijakan bebas visa di sejumlah negara karena imbas wabah virus corona?

"Kami sedang menunggu kebijakan dari Kementerian Luar Negeri seperti apa untuk kita," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona, Achmad Yurianto, Kamis (12/3/2020).

"Tetapi artinya untuk sekarang, dalam tanda petik, dunia tidak memberikan kemudahan untuk pergerakan orang dari satu negara ke negara lainnya," lanjutnya.

Baca juga: Cegah Corona, Ini 21 Tempat Wisata di Jakarta yang Tutup

Menurut Yuri, peninjauan kembali kebijakan bebas visa untuk mencapai satu tujuan, mengurangi penyebaran Covid-19.

Dasar peninjauan kembali

Yuri mengungkapkan, statement WHO terkait status pandemi virus corona merupakan isyarat kepada seluruh dunia bahwa penyakit ini bisa menyerang siapapun dan di negara manapun di dunia.

"Hal ini ditandai dengan, pertama, ini adalah penyakit baru yang kita belum tahu betul karakternya," kata Yuri.

Baca juga: 21 Tempat Wisata Jakarta Ditutup, Masyarakat Diimbau Berlibur di Rumah

Kedua, lanjutnya, virus corona menjangkit banyak negara dalam waktu bersamaan dan memiliki jejak epideomologi. Oleh karena itu, tidak ada negara yang terinfeksi tanpa ada penyebab dan kaitannya dengan negara lain.

"Pasti terkait semua, dan Ini sudah lebih dari 114 negara. Kemudian juga menimbulkan kematian cukup banyak," katanya.

"Artinya, tidak ada satu negara manapun di muka bumi ini yang tidak mengantisipasinya. semua harus mengantisipanya. Semua harus memberikan respon," lanjutnya.

Baca juga: Disneyland di Seluruh Dunia akan Tutup karena Virus Corona

Adapun salah satu respon yang diberikan salah satunya peninjauan kembali bebas visa hingga menyiapkan sarana dan prasarana kesehatan.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X