Tradisi Tahunan Kulon Progo Nyadran Agung 2020 Ditiadakan, Antisipasi Penyebaran Covid-19

Kompas.com - 01/04/2020, 20:11 WIB
Gunungan batik didominasi corak geblek renteng dan galaran. Seperti tahun-tahun yang lalu, batik menjadi incaran warga saat ngalap berkah di Nyadran Agung 2018 yang berlangsung di Alun-alun Wates. Dari 25 gunungan, hampir seluruhnya adalah gunungan berisi hasil bumi. KOMPAS.com/Dani JGunungan batik didominasi corak geblek renteng dan galaran. Seperti tahun-tahun yang lalu, batik menjadi incaran warga saat ngalap berkah di Nyadran Agung 2018 yang berlangsung di Alun-alun Wates. Dari 25 gunungan, hampir seluruhnya adalah gunungan berisi hasil bumi.

KULON PROGO, KOMPAS.com – Tradisi nyadran agung yang secara turun temurun dilaksanakan di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, ditiadakan pada 2020 ini.

Baca juga: Liburan di Rumah Aja, Coba Wisata Kuliner Lewat 8 Serial Netflix

Kebijakan yang diputuskan oleh Pemerintah Kabupaten Kulon Progo ini dilakukan demi mencegah penyebaran virus corona ( Covid-19 ).

Mengingat nyadran agung biasanya dihadiri ribuan orang, baik peserta maupun wisatawan.

Baca juga: Di Rumah Aja? Jajal Keliling Istana Eropa Lewat Virtual Traveling

“Hasil rapat dengan berbagai pihak, mengingat dan mempertimbangkan berbagai kondisi saat ini, maka Nyadran Agung 2020 dibatalkan,” kata Kepala Kundha Kabudayan (Dinas Kebudayaan) Kabupaten Kulon Progo Untung Waluyo, Rabu (1/4/2020).

Semua berjaga-jaga dan berupaya menahan laju penyebaran penyakit akibat serangan virus corona ini.

Berbagai langkah diambil, termasuk meniadakan berbagai kegiatan yang melibatkan orang banyak, baik keagamaan, kebudayaan, hingga kemasyarakatan. 

Destinasi wisata di ketinggian Bukit Menoreh merupakan andalan Kecamatan Samigaluh, Kulon Progo, khususnya di Dusun Tritis. Tiap tahun berlangsung tradisi nyadran dan merti dusun, sekaligus kirab melewati beberapa destinasi. Mereka berharap melalui tradisi yang masih bertahn ini akan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan.KOMPAS.com/DANI J Destinasi wisata di ketinggian Bukit Menoreh merupakan andalan Kecamatan Samigaluh, Kulon Progo, khususnya di Dusun Tritis. Tiap tahun berlangsung tradisi nyadran dan merti dusun, sekaligus kirab melewati beberapa destinasi. Mereka berharap melalui tradisi yang masih bertahn ini akan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan.

Untung mengungkapkan, para pemimpin daerah di Kulon Progo menyepakati untuk tidak menggelar tradisi yang sudah berlangsung bertahun-tahun ini. Keputusan diambil usai pertemuan Forkompimda pada 26 Maret 2020. 

Rencananya, nyadran akan diganti dengan tahlil atau doa bersama dengan melibatkan kurang dari 10 orang.

“Nanti pada tanggal 17 malam. Esensi tetap dijalankan dengan sederhana,” kata Untung.

“Teknisnya masih digodok teman-teman,” imbuhnya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X