Izin Pendakian Gunung Everest Ditangguhkan, Sherpa Tidak Punya Pendapatan

Kompas.com - 09/04/2020, 23:02 WIB
Pendaki berjalan menuju puncak Everest, Nepal, pada 22 Mei 2019. (REUTERS/Phurba Tenjing Sherpa) STRINGERPendaki berjalan menuju puncak Everest, Nepal, pada 22 Mei 2019. (REUTERS/Phurba Tenjing Sherpa)

“Itu membuat kami kehilangan pekerjaan, namun itu adalah keputusan yang tepat. Di Khumjung, kami memiliki satu rumah sakit kecil dan sumber daya yang tidak mencukupi," kata Tashi.

"Bayangkan saja jika orang-orang di sini mulai sakit,” lanjutnya.

“Jika penyakit tersebut tiba, maka uang tidak bisa melakukan apapun. Bahkan orang-orang di negara berkembang pun tengah sekarat, bagaimana jadinya kalau itu terjadi pada kami di Nepal?” kata Phurba Namgyal.

Baca juga: Mulai Rp 8 Juta, Ini Kisaran Harga Wisata di Nepal Ala Backpacker

Saat ini terdapat seruan bagi pemerintah untuk memberikan paket bantuan ekonomi.

Presiden untuk Nepal Mountaineering Association, Santa Bir Lama, mengatakan bahwa pemerintah perlu mencari cara untuk mendukung orang-orang yang masih belum mendapatkan pekerjaan.

“Tidak hanya di gunung, namun juga di sektor lain,” kata Lama.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.